jump to navigation

Empat Pilar Belajar Januari 5, 2009

Posted by cafestudi061 in Pendidikan.
add a comment

Untuk menghadapi dan menyesuaikan diri dengan tuntutan perkembangan dunia yang sangat cepat, Unesco (Nana Syaodih Sukmadinata, 2005) merumuskan empat pilar belajar, yaitu: belajar mengetahui (learning to know), belajar berkarya (learning to do), belajar hidup bersama (learning to live together), dan belajar berkembang secara utuh (learning to be).
1. Belajar mengetahui (learning to know)
Belajar mengetahui berkenaan dengan perolehan, penguasaan dan pemanfaatan informasi. Dewasa ini terdapat ledakan informasi dan pengetahuan. Hal itu bukan saja disebabkan karena adanya perkembangan yang sangat cepat dalam bidang ilmu dan teknologi, tetapi juga karena perkembangan teknologi yang sangat cepat, terutama dalam bidang elektronika, memungkinkan sejumlah besar informasi dan pengetahuan tersimpan, bisa diperoleh dan disebarkan secara cepat dan hampir menjangkau seluruh planet bumi. Belajar mengetahui merupakan kegiatan untuk memperoleh, memperdalam dan memanfaatkan pengetahuan. Pengetahuan diperoleh dengan berbagai upaya perolehan pengetahuan, melalui membaca, mengakses internet, bertanya, mengikuti kuliah, dll. Pengetahuan dikuasai melalui hafalan, tanya-jawab, diskusi, latihan pemecahan masalah, penerapan, dll. Pengetahuan dimanfaatkan untuk mencapai berbagai tujuan: memperluas wawasan, meningkatakan kemampuan, memecahkan masalah, belajar lebih lanjut, dll.
Jacques Delors (1996), sebagai ketua komisi penyusun Learning the Treasure Within, menegaskan adanya dua manfaat pengetahuan, yaitu pengetahuan sebagai alat (mean) dan pengetahuan sebagai hasil (end). Sebagai alat, pengetahuan digunakan untuk pencapaian berbagai tujuan, seperti: memahami lingkungan, hidup layak sesuai kondisi lingkungan, pengembangan keterampilan bekerja, berkomunikasi. Sebagai hasil, pengetahuan mereka dasar bagi kepuasaan memahami, mengetahui dan menemukan.
Pengetahuan terus berkembang, setiap saat ditemukan pengetahuan baru. Oleh karena itu belajar mengetahui harus terus dilakukan, bahkan ditingkatkan menjadi knowing much (berusaha tahu banyak).
2. Belajar berkarya (learning to do)
Agar mampu menyesuaikan diri dan beradaptasi dalam masyarakat yang berkembang sangat cepat, maka individu perlu belajar berkarya. Belajar berkarya berhubungan erat dengan belajar mengetahui, sebab pengetahuan mendasari perbuatan. Dalam konsep komisi Unesco, belajar berkarya ini mempunyai makna khusus, yaitu dalam kaitan dengan vokasional. Belajar berkarya adalah balajar atau berlatih menguasai keterampilan dan kompetensi kerja. Sejalan dengan tuntutan perkembangan industri dan perusahaan, maka keterampilan dan kompetisi kerja ini, juga berkembang semakin tinggi, tidak hanya pada tingkat keterampilan, kompetensi teknis atau operasional, tetapi sampai dengan kompetensi profesional. Karena tuntutan pekerjaan didunia industri dan perusahaan terus meningkat, maka individu yang akan memasuki dan/atau telah masuk di dunia industri dan perusahaan perlu terus bekarya. Mereka harus mampu doing much (berusaha berkarya banyak).
3. Belajar hidup bersama (learning to live together)
Dalam kehidupan global, kita tidak hanya berinteraksi dengan beraneka kelompok etnik, daerah, budaya, ras, agama, kepakaran, dan profesi, tetapi hidup bersama dan bekerja sama dengan aneka kelompok tersebut. Agar mampu berinteraksi, berkomonikasi, bekerja sama dan hidup bersama antar kelompok dituntut belajar hidup bersama. Tiap kelompok memiliki latar belakang pendidikan, kebudayaan, tradisi, dan tahap perkembangan yang berbeda, agar bisa bekerjasama dan hidup rukun, mereka harus banyak belajar hidup bersama, being sociable (berusaha membina kehidupan bersama)
4. Belajar berkembang utuh (learning to be)
Tantangan kehidupan yang berkembang cepat dan sangat kompleks, menuntut pengembangan manusia secara utuh. Manusia yang seluruh aspek kepribadiannya berkembang secara optimal dan seimbang, baik aspek intelektual, emosi, sosial, fisik, maupun moral. Untuk mencapai sasaran demikian individu dituntut banyak belajar mengembangkan seluruh aspek kepribadiannya. Sebenarnya tuntutan perkembangan kehidupan global, bukan hanya menuntut berkembangnya manusia secara menyeluruh dan utuh, tetapi juga manusia utuh yang unggul. Untuk itu mereka harus berusaha banyak mencapai keunggulan (being excellence). Keunggulan diperkuat dengan moral yang kuat. Individu-individu global harus berupaya bermoral kuat atau being morally.

Oleh : Akhmad Sudrajat, M.Pd.

Instrumen Ujian Nasional sebagai Penentu Kelulusan Berpotensi Merugikan Siswa Januari 5, 2009

Posted by cafestudi061 in Pendidikan.
add a comment

UJIAN (Akhir) Nasional alias UN selama ini sepertinya hanya diperlakukan semacam upacara ritual tahunan tanpa memberikan pengaruh berarti terhadap upaya pembina dan pengelola serta pelaksana pendidikan pada tingkat sekolah untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan. Masukan berupa informasi pendidikan yang diperoleh lewat Ujian Akhir Nasional hanya diperlakukan sebagai barang pajangan dan menjadi dokumen mati.
APABILA sumber data ujian itu dipakai, pemanfaatannya pun hanya sebatas pada bahan kajian beberapa peneliti Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) untuk kepentingan cum jabatan peneliti; sedangkan para pejabat pengelola kebijakan pada tingkat pusat (direktorat, Puspendik, dan pusat kurikulum) hampir dapat dipastikan tidak akan menyentuh dan memperbincangkannya lagi sampai masa ujian berikutnya.
Keteguhan sikap Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) untuk tetap mempertahankan praktik UN pada sistem pendidikan menengah patut dihormati. Namun, pandangan dan pemikiran kritis terhadap praktik ujian akhir itu harus diutarakan agar sasaran yang dibuat dapat lebih proporsional, terarah, dan pencapaiannya dapat dimaksimalkan.
Meskipun praktik ujian akhir dapat digunakan untuk memengaruhi kualitas pendidikan, namun sebagaimana dikemukakan Ken Jones, asumsi dan rasionalitas yang digunakan pada high stake exams (seperti UN ini) pada umumnya sering bertentangan dengan kenyataan lapangan. Sebagaimana diketahui bahwa realitas pendidikan (sekolah) di Tanah Air sangat beragam, apakah itu sarana-prasarana pendidikan, sumber daya guru, dan school leadership. Diskrepansi kualitas pendidikan yang begitu lebar sebagai akibat dari keterbatasan kemampuan pengelola pendidikan pada tingkat pusat, daerah, dan sekolah semakin menguatkan tuduhan masyarakat selama ini bahwa penggunaan instrumen UN untuk menentukan kelulusan (sertifikasi) dan seleksi berpotensi misleading, bias, dan melanggar keadilan dalam tes.
Selain itu, instrumen UN yang akan digunakan pun sebenarnya masih menyimpan berbagai pertanyaan mendasar yang menuntut jawaban (baca: pembuktian), khususnya menyangkut metodologi, terutama pada saat melakukan interpretasi terhadap hasil skor tes dan pemanfaatannya agar sesuai dengan tujuan diselenggarakannya UN (validity evidence).
Pemanfaatan ganda (multiple purposes) hasil skor ujian yang bersifat tunggal semacam UN sebenarnya menyimpan berbagai potensi permasalahan mendasar secara metodologis, yang sebenarnya sudah sangat diketahui dan dipahami jajaran Puspendik Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Namun, yang agak mencengangkan dan mengundang pertanyaan, mengapa potensi kesalahan seperti pemanfaatan hasil skor UN untuk berbagai keperluan dan tujuan secara bersamaan tidak dikemukakan secara jujur kepada masyarakat pemakai (users) produk pendidikan dan stakeholders. Kenapa Puspendik tidak mengusulkan pemanfaatan hasil skor UN hanya sebatas pada alat pengendali mutu pendidikan nasional, sebagaimana yang dilakukan pada National Assessment of Educational Progress (NAEP) di Amerika Serikat, dan bukan untuk penentuan kelulusan (sertifikasi), apalagi sebagai tujuan untuk seleksi dan memecut mutu pendidikan sehingga persoalan metodologi yang mungkin timbul dapat dihindarkan.
TULISAN ini ditujukan sebagai masukan konstruktif bagi Mendiknas yang berkaitan dengan konsep dan praktik penilaian pendidikan di Tanah Air. Ujian atau tes sebenarnya berfungsi sebagai alat rekam dan/atau prediksi. Sebagai alat rekam untuk memotret, tes biasanya diselenggarakan untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa terhadap suatu materi atau sejumlah materi dan keterampilan yang sudah diajarkan/dipelajari sesuai dengan tujuan kurikulum sehingga guru dapat menentukan langkah-langkah program pengajaran berikutnya.
Selain itu, tes juga bisa digunakan sebagai alat prediksi sebagaimana yang lazim digunakan pada tes seleksi masuk perguruan tinggi atau tes-tes yang digunakan untuk menerima pegawai baru atau promosi jabatan pada suatu perusahaan atau instansi pemerintah. Sebagai alat prediksi, hasil tes diharapkan mampu memberikan bukti bahwa seorang dapat melakukan tugas atau pekerjaan yang akan diamanatkan kepadanya. Apabila hasil tes yang digunakan mampu menunjukkan bukti terhadap peluang keberhasilan seorang kandidat mahasiswa atau calon pegawai melakukan tugas dan pekerjaan di hadapannya, tes itu diyakini memiliki kelayakan validity evidences.
Ujian atau tes sebenarnya hanyalah sebuah alat (bukan tujuan) yang digunakan untuk memperoleh informasi pencapaian terhadap proses pendidikan yang sudah dilakukan dan/atau yang akan diselenggarakan. Ujian atau tes tidak berfungsi untuk memecut, apalagi memiliki kemampuan mendorong mutu.
Namun, ujian atau tes memiliki kemampuan untuk memengaruhi proses pembelajaran di tingkat kelas sehingga menjadi lebih baik dan terarah sesuai dengan tuntutan dan tujuan kurikulum. Karena ujian hanya mampu memengaruhi pada proses pembelajaran pada tingkat kelas, maka pengaruh yang diakibatkannya tidak senantiasa positif. Sebaliknya, pengaruh itu dapat juga sangat bersifat destruktif terhadap kegiatan pendidikan, seperti apabila guru hanya memfokuskan kegiatan pembelajaran pada latihan-latihan Ujian Akhir Nasional atau pimpinan sekolah sengaja mengundang dan membiarkan Bimbingan Tes Alumni (BTA) masuk ke dalam sistem sekolah untuk mengedril siswa yang akan menempuh ujian akhir itu.
Dalam bahasa testing kegiatan itu disebut teaching for the test. Praktik pendidikan semacam itu sangat bertentangan dengan tujuan diselenggarakannya pendidikan formal di negara mana pun karena akan menyebabkan terjadinya proses penyempitan kurikulum (curriculum contraction).
UNSUR yang paling pokok dan sangat penting yang harus diperhatikan sebagai bahan pertimbangan dalam membuat interpretasi hasil skor tes siswa peserta ujian adalah validitas. Konsep validitas ini sebelumnya dipahami sebagai sebuah konsep yang terfragmentasi sehingga sering mengantarkan praktisi penilaian pendidikan kepada kebingungan dan berpikir secara keliru.
Studi validitas dilakukan untuk membuktikan bahwa kegiatan interpretasi dan pemanfaatan hasil skor tes yang ada sudah sesuai dengan tujuan diselenggarakan ujian. Sebagai misal, apabila kita menyusun seperangkat tes kemampuan/keterampilan membaca yang digunakan sebagai alat ukur untuk menentukan kelulusan (sertifikasi) SMA. Bagaimana cara kita menilai apakah proses interpretasi hasil ujian itu sudah dilakukan secara valid? Untuk keperluan itu kita harus membuat sejumlah pertanyaan, antara lain: apakah hasil skor tes itu sudah merupakan alat ukur yang sesuai dan tepat untuk tujuan di muka, yaitu untuk mengukur kemampuan/keterampilan membaca.
Sebagaimana diketahui bahwa salah satu fungsi ujian akhir adalah untuk memberikan sertifikasi bahwa siswa sudah belajar atau menguasai keterampilan membaca sebagaimana yang diminta pada kurikulum. Atas dasar itu, bukti-bukti validitas yang diperlihatkan harus mampu membuktikan bahwa skor yang diperoleh benar sudah mengukur keterampilan membaca, sebagaimana yang dijabarkan pada tujuan kurikulum.
Terdapat banyak sekali bukti yang harus dikumpulkan untuk melakukan kegiatan interpretasi terhadap hasil skor tes itu. Kita dapat menunjukkan bahwa instrumen tes yang digunakan sudah sesuai dengan tujuan pelajaran keterampilan membaca pada kurikulum. Selain itu, kita juga harus mampu menunjukkan bahwa jumlah jawaban yang benar pada soal tes betul-betul sudah sejalan dengan penekanan kegiatan pengajaran membaca pada kurikulum. Lebih dari itu, kita juga harus mampu menunjukkan bahwa keterampilan membaca teks singkat yang tercermin dari kemampuan siswa menjawab dengan benar soal pilihan ganda itu memiliki kualifikasi yang sama apabila yang bersangkutan diberikan teks bacaan yang lebih panjang, atau membaca novel, artikel surat kabar. Kita juga harus mampu membuktikan bahwa konten bacaan yang disajikan pada soal tes sudah merupakan representasi dari isi bacaan yang dianggap penting dan challenging yang mampu menggali kemampuan/keterampilan membaca siswa yang lebih dalam dan ekstensif; jadi bukan hanya berupa pertanyaan-pertanyaan yang bersifat superficial, faktual, atau trivial.
Apabila kita tidak mampu menunjukkan seluruh bukti di muka, validitas interpretasi yang dibuat terhadap hasil skor tes sangat lemah. Selain itu, kita juga harus mampu membuktikan bahwa skor yang tinggi yang diperoleh siswa bukan semata-mata sebagai akibat dari test wiseness, yaitu kemampuan siswa menjawab soal dengan benar sebagai akibat dari format soal pilihan ganda, tutorial khusus yang diberikan menjelang tes, seperti kegiatan bimbingan tes, menyontek, dan seterusnya. Lebih dari itu kita juga harus mampu menunjukkan bahwa skor rendah yang diperoleh siswa bukan hanya semata-mata disebabkan oleh faktor kegugupan pada diri siswa pada saat ujian. Selain itu, kita juga harus mampu menunjukkan bahwa latar belakang budaya siswa tidak membawa pengaruh terhadap kemampuan mereka menjawab soal tes dengan benar.
Semua faktor yang disajikan di muka dapat merupakan ancaman terhadap interpretasi validitas sebuah alat ukur yang bersifat tunggal (seperti pada UN) yang digunakan untuk mendeteksi kemampuan/keterampilan membaca. Apabila kita tidak mampu menunjukkan bukti (evidences), hasil ujian berupa skor tes untuk mengukur kemampuan/keterampilan membaca memiliki tingkat validitas yang rendah.
Kesimpulan yang dapat ditarik dari uraian di muka bahwa kita harus mampu menunjukkan bukti dan penalaran yang logis untuk membuat keputusan pemanfaatan atas hasil skor tes. Untuk keperluan itu kita tidak bisa hanya berpatokan pada hasil satu kali studi dan mengklaim bahwa kita sudah memiliki tes valid yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan.

Syamsir Alam Mantan Staf Teknis Puspendik, Balitbang Depdiknas
Sumber: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0506/27/Didaktika/1838832.htm

Penerapan metode belajar aktif dalam pembelajaran berbasis proyek. Januari 5, 2009

Posted by cafestudi061 in Pendidikan.
add a comment

Coba anda bayangkan situasi kelas dibawah ini….
Siswa di kelas lima sedang belajar mengenai konsep mesin yang sederhana, mereka belajar konsep kekuatan, gerak dan bekerja mengaanalisa sebuah mesin yang sederhana. Dari mesin yang rumit mereka memepelajari kaidah mesin yang paling prinsip. Siswa mengoleksi, mengatur, menghadirkan kembali data-data menggunakan program excel. Saat merancang mesin sederhana mereka berperan sebagai perancang sekaligus mempegunakan prinsip perencanaan, perakitan, uji coba sebelum mesin sederhana buatan mereka diluncurkan didepan teman-teman kelas mereka.
Apabila ada pertanyaan mengenai ‘metode apa yang paling efektif untuk mengajar?’ jawabannya bergantung pada tujuan pembelajaran, isi pembelajaran, dan guru yang akan menggunakannya. Tapi ada jawaban lain yang lebih baik dari itu semua yaitu ’siswa mengajarkan siswa lainnya’ dikutip dari Wilbert J. McKeachie, pengarang buku Teaching tips: Strategies, research and theory for college and university teachers, Houghton-Mifflin (1998)
Illustrasi diatas serta kutipan dari buku merupakan gambaran dari dua metode mengenai pembelajaran yang pertama adalah ilustrasi dari pembelajaran dengan berbasis proyek sedangkan yang kedua adalah gambaran yang sederhana dan singkat mengenai pembelajaran aktif.
Pembelajaran berbasis proyek dan pembelajaran aktif,kedua-duanya saling berkaitan. Pembelajaran aktif merupakan ruh dari pembelajaran berbasis proyek.
Istilah yang sekarang ada dan memiliki esensi yang sama dengan belajar aktif adalah PAKEM atau pembelajaran aktif, efektif, dan menyenangkan. Istilah ini ada dalam kerangkan peningkatan mutu pendidikan manajemen berbasis sekolah (MBS). PAKEM adalah dua pilar dari empat pilar MBS. Dua pilar lainnya adalah manajemen yang transparan, dan keterlibatan masyarakat pendidikan.
Sedangkan pembelajaran berbasis proyek adalah proyek perseorangan atau grup dan dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu, menghasilkan sebuah produk, yang hasilnya kemudian akan ditampilkan atau dipresentasikan. Saat pengerjaan kelas menggunakan berbagai macam bahan-bahan, dengan pendekatan belajar aktif atau berpusat pada siswa
Menggunakan: kontruktivis, problem solving, inquiry, riset, integrated studies, pengetahuan dan ketrampilan, evaluasi, refleksi, dll
Dua metode diatas mempertimbangkan aspek
a. Gaya belajar siswa
b. Taksonomi pembelajaran
c. Kecerdasan majemuk
Berikut ini adalah gambaran mengenai jalannya pembelajaran dengan konsep mesin sederhana, lanjutan dari illustrasi diatas.
VAK Visual Mencari gambar mesin sederhana dari Koran atau majalah dan film
Auditory Mendengar dan melihat penjelasan dari pekerja konstruksi yang menjelaskan bagaimana mereka menggunakan mesin sederhana saat bekerja.
Kinesthetic Membuat mesin sederhana yang terbuat dari tanah liat.
Otak kanan dan Otak kiri Otak kiri Mengikuti langkah demi langkah petunjuk membuat mesin sederhana.
Otak kanan Berdiskusi mengenai peran mesin sederhana dalam kehidupan kita sehari-hari
Kecerdasan majemuk Logis matematis Membuat mesin sederhana dari mesin yang rumit
bahasa Membuat karangan atau pidato menjelaskan mengenai pentingnya mesin sederhana dalam kehidupan .
Spasial Membuat presentasi menunjukkan perbedaan penggunaan mesin sederhana.
Musikal Membuat lagu tentang mesin sederhana.
Tubuh dan kinestetis Menggunakan benda-benda sederhana untuk menciptakan mesin sederhana.
Antar pribadi Bekerja dengan kelompok membuat video tentang mesin sederhana untuk siswa TK.
Dalam pribadi Membuat buku catatan harian mengenai pembelajaran.
alam Menemukan contoh dari mesin sederhana yang ada di alam,

Ditulis oleh agusampurno

Menuju Pendidikan untuk Semua dan Semua untuk Pendidikan Januari 5, 2009

Posted by cafestudi061 in Pendidikan.
add a comment

Oleh: Sudirman Siahaan

Pendidikan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Undang Undang Dasar 1945 menjamin hak setiap warga negara Indonesia untuk mendapatkan pengajaran. Perumusan yang demikian ini tampaknya menjadi keyakinan para pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) (the founding fathers) bahwa melalui pendidikanlah bangsa Indonesia akan dapat menjadi bangsa yang cerdas. Bangsa yang cerdas diyakini akan menghasilkan bangsa yang mampu berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain.

Indonesia merupakan salah satu negara yang menandatangani deklarasi “Education for All”. Berkaitan dengan deklarasi ini dan sekaligus juga sebagai wujud keseriusan Indonesia mensukseskannya, maka Indonesia telah mencanangkan Wajib Belajar 6 Tahun pada tahun 1984 dan 10 berikutnya, yaitu pada tahun 1994, Indonesia mencanangkan Wajib Belajar 9 Tahun. Melalui Wajib Belajar 6 Tahun diharapkan anak-anak usia Sekolah Dasar (7-12 tahun) dapat menikmati layanan pendidikan Sekolah Dasar (SD). Artinya, anak-anak usia SD dapat menyelesaikan pendidikan SD. Demikian juga halnya melalui pencanangan Wajib Belajar 9 Tahun diharapkan anak-anak usia SMP (13-15 tahun) dapat menyelesaikan pendidikan SMP.

Berbagai program yang diarahkan untuk mendukung keberhasilan pelaksanaan Wajib Belajar 6 Tahun dan 9 Tahun telah dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Berkaitan dengan hal ini, satu hal yang menjadi keprihatinan di berbagai negara adalah mengenai anak-anak yang karena satu dan lain hal terpaksa tidak dapat menyelesaikan pendidikan SD sehingga mereka ini menjadi warga negara yang buta aksara. Demikian juga dengan anak-anak yang terpaksa tidak dapat menyelesaikan pendidikan SMP, maka mereka akan cenderung masuk ke dalam kelompok tenaga kerja kasar.

Hakekat dari “Pendidikan untuk Semua dan Semua untuk Pendidikan” adalah mengupayakan agar setiap warga negara dapat memenuhi haknya, yaitu setidak-tidaknya untuk mendapatkan layanan pendidikan dasar (Wajib Belajar 9 Tahun). Untuk dapat mewujudkan “Pendidikan untuk Semua dan Semua untuk Pendidikan”, semua komponen bangsa, baik pemerintah, swasta, lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan, maupun warga negara secara individual, secara bersama-sama atau sendiri-sendiri, berkomitmen untuk berpartisipasi aktif dalam menyukseskan “Pendidikan untuk Semua dan Semua untuk Pendidikan” sesuai dengan potensi dan kapasitas masing-masing.

Sebagai unit organisasi sosial terkecil, orang tua dari setiap keluarga tergugah dan terpanggil untuk setidak-tidaknya membimbing dan membelajarkan anak-anaknya, baik melalui pendidikan formal persekolahan, lembaga pendidikan non-formal, maupun melalui lembaga pendidikan informal. Mengirimkan anak untuk belajar melalui lembaga pendidikan sekolah sudah jelas yaitu mulai dari taman Kanak-kanak (TK) sampai dengan pendidikan tinggi.

Apabila karena satu dan lain hal, seorang anak tidak memungkinkan untuk mengikuti pendidikan persekolahan, maka orang tua dapat mengirimkan anaknya untuk mengikuti kegiatan pembelajaran pada pendidikan non-formal, seperti Paket A setara SD, Paket B setara SMP, dan Paket C setara SMA. Seandainya seorang anak tidak memungkinkan juga mengikuti pendidikan melalui pendidikan formal dan non-formal, maka masih ada model pendidikan alternatif yang dapat ditempuh, yaitu “Sekolah di Rumah” (Home Schooling). Dalam kaitan ini, orang tua dapat mengidentifikasi lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan atau unit-unit pendidikan prakarsa anggota masyarakat yang menyelengggarakan “Sekolah di Rumah” dan kemudian mengirimkan anaknya untuk mengikuti pendidikan di lembaga atau unit pendidikan tersebut. Atau, orang tua sendiri dengan latar belakang pendidikan dan pengetahuan yang dimiliki, dapat membimbing dan membelajarkan anak-anaknya sehingga pada akhirnya sang anak dapat mengikuti ujian persamaan (Upers), baik pada satuan pendidikan SD, SMP atau SMA.

Pada satuan lembaga, baik yang sepenuhnya bernafaskan pendidikan maupun yang tidak, hendaknya memiliki komitmen yang sama yaitu untuk membelajarkan anak-anak dari orang tua yang bekerja pada masing-masing lembaga. Bentuk komitmen dari lembaga tidak harus dalam bentuk penyelenggaraan pendidikan tetapi dapat saja dalam bentuk beasiswa. Bagi lembaga industri atau perusahaan, bentuk komitmennya dapat saja dalam bentuk pemberian beasiswa atau berfungsi sebagai orang tua asuh setidak-tidaknya bagi anak-anak yang orang tuanya bekerja di industri atau perusahaan.

Apabila semua komponen bangsa bergerak serempak bagaikan sebuah orkestra, masing-masing komponen bangsa memberikan yang terbaik yang ada padanya demi pencerdasan kehidupan bangsa, maka tidak akan diragukan lagi bahwa orkestra akan menghasilkan/ memberikan lagu yang terbaik (the best). Analoginya di bidang pendidikan, bahwa melalui gerakan masyarakat, baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri menerapkan “Pendidikan untuk Semua dan Semua untuk Pendidikan”, maka penuntasan wajib belajar 6 tahun dan 9 tahun akan dapat lebih cepat tercapai.

Seiring dengan rencana alokasi anggaran untuk sektor pendidikan pada APBN Tahun 2009 sebesar 20%, tentunya diharapkan akan dapat lebih mempercepat penuntasan Wajib Belajar 6 dan 9 Tahun serta terbuka kemungkinan untuk mempersiapkan pencanangan Wajib Belajar 12 Tahun. Dengan menjadikan pendidikan sebagai gerakan masyarakat dan ditunjang oleh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi serta komitmen untuk mewujudkan “Pendidikan untuk Semua dan Semua untuk Pendidikan”, maka dalam beberapa tahun ke depan diharapkan hasil atau dampaknya dalam bentuk keunggulan kompetetif akan dirasakan secara nasional dan juga diapresiasi secara regional/internasional

Tumbuhkan Profesionalisme Lewat Organisasi Profesi Desember 27, 2008

Posted by cafestudi061 in Pendidikan.
add a comment


Jakarta, Kompas – Termarjinalkannya para guru honorer, belum menentunya nasib para guru bantu, mentradisinya pungutan liar pada waktu kenaikan pangkat, dan rendahnya kualitas guru hendaknya menjadi kegelisahan kolektif insan kependidikan di Tanah Air. Salah satu cara meretas rangkaian kegundahan itu adalah dengan membangun solidaritas melalui organisasi profesi.
Wacana itu mengemuka dalam acara pembentukan Serikat Guru Indonesia (SeGI) Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (9/12). Organisasi tersebut diharapkan menjadi organisasi alternatif bagi para guru. Sebab, seperti yang diamanatkan Undang-Undang Guru dan Dosen pada Pasal 41, guru wajib menjadi anggota salah satu organisasi profesi.
SeGI menghimpun unsur guru secara luas, antara lain mencakup ustadz, penggiat pendidikan, pegawai negeri sipil (PNS), kepala sekolah, guru honorer dan para guru bantu, LSM pendidikan, dan dewan pendidikan. Dalam musyawarah yang dihadiri sekitar 50 peserta tersebut, terpilih formatur yang terdiri atas Imam Taufik (Ketua), Deny Suwarja (Sekretaris), Asep Kahfi (Bendahara), Debiyani (Biro Advokasi), Asep Tio (Humas), dan Anwar Mustofa (Kesekretariatan).
Ketika dihubungi, Deny Suwarja mengatakan, organisasi tersebut diharapkan dapat menjadi lembaga yang bisa menjawab permasalahan para guru yang tidak terakomodasi oleh organisasi profesi keguruan yang lebih dahulu terbentuk.
“Terpinggirkannya guru honorer, belum menentunya nasib para guru bantu, serta masih munculnya berbagai pungutan liar pada waktu kenaikan pangkat, ditambah rendahnya SDM para guru merupakan beberapa permasalahan yang menjadi pekerjaan rumah bagi SeGI. Saya yakin masalah-masalah seperti itu menjadi universal bagi insan kependidikan di Tanah Air,” ujar Deny.
Pada kesempatan itu langsung tercuatkan program kerja, di antaranya monitoring penerimaan calon PNS, perjuangan peningkatan honor guru dan tunjangan daerah untuk para guru, serta beberapa rekomendasi yang ditujukan kepada para wakil rakyat, pihak birokrasi. Juga usulan peningkatan profesionalitas para guru dengan melakukan pelatihan penulisan karya ilmiah, pelatihan teknologi informasi dan komunikasi, serta menyelenggarakan berbagai seminar dan bentuk pelatihan lainnya.
Perkuat posisi tawar
Para peserta musyawarah berharap dengan munculnya SeGI di Kabupaten Garut ini akan diikuti dengan kemunculan organisasi serupa di Indonesia. Dengan demikian, para guru dapat lebih berdaya dan mempunyai posisi tawar yang lebih bermartabat.
“Semoga dengan adanya SeGI ini bisa memperjuangkan gaji para guru honorer atau para penggiat pendidikan yang mempunyai kepedulian terhadap pendidikan, tapi selama ini tidak mendapat perhatian pemerintah. Misalnya, honor saya selama ini hanya Rp 75.000 per bulan,” kata Miljam, salah satu guru honorer di sebuah SMP negeri di Garut, yang mengikuti musyawarah tersebut atas biaya sendiri.
Jamiludin, guru honorer lainnya, mengisahkan bahwa honor yang sebesar itu pun selama ini harus direlakan dipotong iuran PGRI sebesar Rp 1000 per bulan. Padahal, ia mengaku dirinya bukan anggota PGRI. (NAR)

Bahasa Inggris? Siapa Takut? Desember 2, 2008

Posted by cafestudi061 in Pendidikan.
add a comment

 

Kalau kita coba ingat sudah berapa lama kita habiskan waktu untuk belajar bahasa Inggris ?. Coba hitung,kita sudah mulai belajar dari SMP, SMA sampai Perguruan Tinggi, kira-kira menghabiskan waktu 10 tahun. Apakah dengan lamanya waktu tersebut menjadikan kita mampu dan dapat berbahasa Inggris dengan baik ? Anda bisa menjawab sendiri. Ada banyak pengalaman yang sangat menyedihkan jika akhirnya semua jadi berantakan karena ketidak mampuan kita berkomunikasi dan bernegosiasi dengan menggunakan  bahasa Inggris. Negosiasi gagal karena salah paham dengan calon mitra asing. Pekerjaan tertunda karena komunikasi yang terbata-bata dengan klien dari negeri seberang. Mengalami kerugian dari kontrak kerja yang tidak sepenuhnya dipahami. Sekarang banyak lamaran kerja di setiap perusahaan asing yang harus menggunakan bahasa Inggris. Dan banyak pula yang ditolak karena kemampuan berbahasa Inggris yang kurang. Kesempatan kerja sama dengan perusahaan kelas internasional batal akibat karena tidak bisa menyediakan tenaga kerja yang bisa berbahasa Inggris. Sebenarnya banyak cara yang dapat dilakukan untuk dapat dan kita mampu berbahasa Inggris, diantaranya adalah dengan belajar “ON LINE” melalui internet. Ada banyak Website maupun blog yang menyediakan sarana On line untuk belajar bahasa Inggris, gatis lagi. Silahkan anda mencoba Belajar secara On-Line.

BELAJAR SECARA ”ON-LINE”, GRATIS
Ada banyak cara yang bisa kita lakukan untuk belajar bahasa Inggris. Salah satunya adalah dengan belajar secara on-line. Berikut adalah situs di web yang bisa membantu Anda untuk belajar ataupun berkonsultasi dalam meningkatkan kemampuan Anda berbahasa Inggris, tanpa biaya (free-of-charge).

• ESL go
ESL go.com menawarkan free online classes dan message boards yang dapat digunakan peserta untuk melatih grammar dan kosa kata. http://www.eslgo.com/

• Bell English Online
Pelajaran bahasa Inggris yang bebas biaya dari Bell Schools, UK. Bell English online menawarkan ratusan latihan dang permainan untuk meningkatkan bahasa Inggris. http://www.bellenglish.com

• english @ home
Belajar bahasa Inggris gratis melalui newsletter, tips belajar, dan tips meningkatkan pengetahuan grammar, dan vocabulary dalam bahasa Inggris. http://www.english-at-home.com

• English for Free
Pelajaran bahasa Inggris gratis melalui email mengenai berbagai pokok bahasan termasuk Business English dan TOEFL. http://www.englishforfree.com

• ENGLISHonline.net
ENGLISHonline.net menawarkan pelajaran gratis mengenai percakapan dalam bahasa Inggris (satu pelajaran untuk satu hari). http://www.englishonline.net

• Business English Five
Menawarkan lima kata, ataupun lima kalimat dalam bahasa Inggris untuk bisnis yang dikirimkan ke alamat email Anda setiap minggu untuk Anda pelajari. Permintaan bisa diajukan ke edpro@cbn.net.id.

  • englishland.or.id

Disini banyak tersedia percakapan dan pelajaran pertopik sekalian anda dapat melatih dan mencoba pertanyaan-pertanyaan yang sangat lengkap sesuai dengan bidang yang sedang anda geluti. Anda bahkan bisa mendownload materi yang ingin anda selesaikan secara offline. Silahkan anda kunjungi www.englishland.or.id

Asal ada kemauan, pasti ada jalan, begitu kata pepatah. Setelah mengetahui prinsip belajar bahasa Inggris yang efektif (yang juga bisa kita terapkan untuk belajar bahasa asing lain, ataupun belajar pokok pelajaran lain), dan mengenal gaya belajar kita masing-masing, langkah berikutnya adalah menumbuhkan kemauan untuk belajar dan menerapkan strategi belajar yang sesuai dengan gaya belajar kita. Maka, belajar pun jadi lebih mudah, dan lebih menyenangkan.

 

 

 

Cafestudi061

Pemanfaatan TIK dalam pembelajaran di Sekolah Dasar November 3, 2008

Posted by cafestudi061 in Pendidikan.
add a comment

Dalam menelisik masalah peng integrasian atau penyatuan TIK (teknologi, informasi dan komunikasi) di sekolah dasar kita harus melihat beberapa peran yang dijalankan oleh pihak-pihak yang berkompeten di sekolah. Pertama peran sekolah sebagai institusi yang melahirkan kebijakan, kedua guru kelas sebagai aktor utama di lapangan dan yang terakhir guru komputer sebagai orang yang mengajar mata pelajaran TIK.

Tulisan singkat ini akan membahas satu persatu peran penting mereka dalam membuat proses integrasi berjalan dengan baik.

Sekolah

Sebagai institusi sekolah mempunyai mekanisme yang berbeda-beda dalam proses pembelanjaan anggaran di setiap tahunnya. Banyak sekolah yang masih berpikir bahwa fasilitas yang terpenting dikembangkan hanya fasilitas fisik saja. Padahal jika sedikit demi sedikit anggaran dipergunakan untuk pembelanjaan infrastruktur TIK maka sebuah sekolah akan mempunyai arah yang jelas dalam pengembangan TIK. Terbukti banyak sekolah sudah mulai menampilkan fasilitas TIK sebagai nilai jual, terutama bagi sekolah swasta.

Berapapun anggaran yang telah dibelanjakan oleh pihak sekolah akan menjadi sia-sia apabila sekolah tidak melakukan;

a. Menjelaskan kepada seluruh staff mengenai keterampilan apa yang harus dimiliki siswa dalam menghadap abad 21.

b. Pelatihan yang berkelanjutan, serahkan pada pihak guru TIK sebagai orang yang akan melatih guru-guru yang lain

c. Bentuk pelatihan yang bersifat TOT atau training of trainer.

d. Dalam forum rapat atau evaluasi program, sempatkan adakan forum TIK . Sebuah ajang untk berbagi kisah sukses dalam penggunaan TIK.

Guru kelas

Guru kelas sebagai pihak yang bersentuhan langsung dengan siswa mempunyai peran penting dalam pengintegrasian TIK. Guru kelas bisa menjadi contoh langsung atau role model bagi pengunaan perangkat TIK di sekolah. Banyak sekolah yang sudah memulai untuk melengkapi ruang kelas dengan satu computer . Dengan memaksimal kan peran satu komputer di kelas, siswa akan merasakan manfaat yaitu bertambahnya sumber belajar. Inisiatif guru kelas untuk sering-sering berkonsultasi dengan guru TIK juga diperlukan. Dengan demikian guru TIK bisa membantu mewujudkan apa keinginan dari guru kelas dalam kaitannya dengan integrasi TIK. Guru kelas juga bisa memulai mengajarkan langkah-langkah dalam melakukan riset yang sederhana bagi siswa (metode big six). Banyak dari cabang dalam TIK yang memang membantu siswa dalam melakukan riset atau menampilkan hasil pembelajaran yang dilakukan siswa. Misalnya internet dan CD Rom yang bisa membantu mendapatkan informasi dalam waktu cepat. Apabila guru sudah membelajarkan siswa cara mencari informasi dan melakukan riset, siswa akan lebih efisien dan efektif dalam mencari informasi

Berikut ini contoh integrasi yang bisa guru kelas lakukan secara mandiri maupun dengan bantuan guru TIK di lab computer maupun dengan computer yang ada dikelas, kegiatannya antara lain;

a. Membuat diagram

b. Membuat rentang waktu (time line)

c. Membuat grafik

d. Membuat sajak atau naskah

e. Membuat karya video

f. Memproduksi rekaman suara seperti orang sedang melakukan siaran radio atau pendongeng

g. Membuat karya puisi, cerita atau naskah pementasan

h. Merancang booklet

i. Merancang brosur atau atribut pelengkap kampanye lingkungan hidup misalnya.

j. Membuat peta pikiran

k. Membuat lukisan dengan computer

l. Membuat komik

m. Membat denah ruangan

n. Memutar CD Rom

o. Mencari informasi di internet

Peran guru TIK.

Selain bertanggung jawab pada berlangsungnya suasana pembelajaran di ruang computer, guru TIK juga menjadi tempat bertanya dari guru kelas serta pihak yang berkepentingan dalam bidang TIK disekolah. Guru TIK selayaknya mempunyai jam khusus setelah pulang sekolah secara rutin untuk melatih keterampilan serta menjadi teman dialog untuk semua guru kelas.

Bersama guru kelas, dan berbekal kurikulum TIK yang dibuat bersama-sama guru lain disekolah, guru TIK bertugas merancang kira-kira hal apa dalam TIK yang bisa membuat siswa menjadi terbantu belajarnya. Tugas apa yang bisa diberikan dalam kaitannya dengan pembelajaran dikelas den demikian menjadikan pembelajaran dikelas menjadi aktif, kreatif, dan menyenangkan.

Secara rutin guru TIK juga mengirim karya siswa sebagai portfolio untuk menunjukan kepada orang tua siswa mengenai hal apa yang siswa pelajari disekolah. Jangan lupa saat mengajar guru TIK memberikan semangat serta dorongan agar siswa tidak takut untuk salah, mau mencoba serta percaya diri. Siswa secara terus menerus didorong untuk menggunakan TIK dalam kaitannya dengan higher order thinking (menganalisa, menciptakan dan mengevaluasi)

Guru TIK mempunyai tanggung jawab dalam membekali siswa dengan keterampilan

a. Komputer dasar

b. Pengolah kata

c. Database dan spreadsheet

d. Internet dan email

e. Multimedia

f. Etika

 

(makalah Seminar The Power of ICT di Pasca Sarjana Universitas Negeri Jakarta 15 April 2008)

oleh agusampurno

http://gurukreatif.wordpress.com

Didalam institusi sekolah semua individu adalah pemimpin Oktober 29, 2008

Posted by cafestudi061 in Pendidikan.
add a comment

 oleh agusampurno

Dewasa ini makna kepemimpinan sering tertukar dengan makna kekuasaan atau malah dengan makna karisma. Padahal ketiganya merupakan hal yang berbeda walaupun saling berhubungan. Makna  kepemimpinan lebih kepada membawa diri sendiri atau kelompok yang  dipimpin menuju hal yang lebih baik. Usaha untuk mengeluarkan kompetensi yang terbaik dari setiap anggota kelompoknya juga dipandang sebagai usaha pemimpin yang baik. Seorang pemimpin yang baik tidak hanya semata-mata menciptakan  pengikut tetapi juga menciptakan pemimpin di semua lini.

Sekolah sebuah tempat yang bisa menjadi gambaran kecil kehidupan, banyak kisah dan persoalan yang bermuara pada pola kepemimpinan baik dari pemimpin yang bersifat struktural maupun pemimpin yang memimpin dirinya sendiri. Siapakah dia? tidak lain tidak bukan para individu yang terlibat dalam pelaksanaan sebuah sekolah. Individu yang saya maksudkan terdiri dari penyelenggara sekolah, yayasan, pengawas, kepala sekolah, guru, orang tua bahkan siswa.

Sebenarnya apa saja yang benar-benar dilakukan oleh seorang pemimpin

  • Mendengar

Saat berbicara terkadang kita cuma diam untuk menunggu giliran. Sebuah kegiatan mendengar yang baik adalah ketika kita secara dalam terlibat dengan isi pembicaraan sambil sesekali memberi respon. Seorang pemimpin yang baik tahu apa yang menjadi ketakutan kelemahan ketakutan dari orang yang dipimpinnya. Dalam kegiatan mendengar kita tidak hanya mengeluarkan respon namun juga belajar mengenai sesuatu dari cerita lawan bicara. Dengan menjadi pendengar yang aktif, lawan bicara menjadi mengerti bahwa apa yang dikatakannya penting dan bernilai.

  • Menguatkan

Makna kepemimpinan bukan berarti mengontrol dan mengatur semuanya. Pemimpin yang baik melibatkan semua yang ada disekelilingnya sekaligus menerima semua sumbangan pemikiran dan tindakan sekecil apapun. Pemimpin yang bisa menguatkan, membuat sebuah suasana yang membuat semua orang nyaman dalam mengutarakan pendapat dan melaksanakan apa yang menjadi pendapatnya. Setelah itu anda cukup memberi kepercayaan yang penuh agar pekerjaan yang dijalanai oleh empunya ide bisa berhasil.

  • Mengenali potensi dan kekuatan orang-orang disekelilingnya

Makna menguatkan  orang-orang disekeliling kita adalah dengan mendorong mereka melakukan apa yang menjadi kekuatan mereka.

  • Bisa dipercaya

Lakukan apa yang anda katakan, dan biarkan semua yang ada disekeliling anda menjadikan anda sebagai inspirasi.

  • Percaya diri

Pemimpin yang baik yakin akan dirinya sendiri sekaligus rencana dan tujuan-tujuan mereka. Bila seorang pemimpin fokus, yang terasa adalah jalan menuju tujuan bersama yang telah disepakati, bukan kesulitan.

  • Memutuskan

Manusia pada dasarnya tidak punya naluri untuk memutuskan, kita semua lebih menyukai hal-hal yang bersifat rutinitas. Tetapi memimpin adalah malangkah maju dengan mengadakan perubahan dan siap menanggung semua resiko akibat perubahan serta keputusan yang telah dibuat.

  • Menghargai perspektif lain

Pemimpin yang baik menyadari keterbatasan dan menghargai kelebihan dan pengalaman orang lain. Memimpin berarti mencoba untuk melihat dunia lewat cara pandang orang-orang disekitar anda, bahkan dari cara pandang orang yang tidak menyukai anda.

  • Berorientasi pada tindakan.

Banyak orang yang mempunyai resep yang ampuh tentang bagaimana harus berubah, tetapi tidak ada perubahan sedikit pun yang terjadi pada dirinya. Pemimpin yang baik merubah tujuan-tujuan masa depan menjadi aksi atau tindakan yang mudah dan bisa dengan cepat di lakukan.

  • Meminta komitmen dari pihak lain

Dalam setiap langkah pekerjaan  banyak  pihak yang tertarik dengan tujuan akhir tanpa mau meluangkan waktu kepada proses pengerjaan nya. Pemimpin yang baik ada untuk mengatasi hal ini, dengan meminta komitmen semua yang terlibat dan saat yang sama meminta mereka bertanggung jawab  dalam bertindak.

  • Menciptakan pemimpin bukan pengikut

Apabila kita bertujuan menciptakan pemimpin maka saat yang sama tugas kita akan terasa ringan.  Pemimpin yang baik menciptakan tujuan dan menjadikan tujuan-tujuan itu seakan-akan menjadi tujuan pribadi orang yang menjalankan.

 

Dari : http://gurukreatif.wordpress.com

Cara Jitu Belajar Oktober 28, 2008

Posted by cafestudi061 in Pendidikan.
add a comment

Saya ingat dulu waktu belajar bahasa Inggris di sekolah, 3 tahun belajar bahasa ini di SMP, kemudian 3 tahun lagi di SMA, kemudian beberapa semester waktu kuliah. Kalau ditotal sekitar 10 tahun belajar, hebatnya sampai setahun yang lalu masih belum bisa juga! haha…

Baru beberapa waktu ini ada seorang teman cerita ke saya cara jitu belajar bahasa Inggris tersebut. Katanya, ada 2 langkah : pertama belajar dari orang atau sumber yang sudah bisa, kedua: praktekkan setiap saat ! Wah, saya pikir waktu itu: repot juga kalau praktek setiap saat, di tengah-tengah teman-teman yang kesehariannya tidak berbahasa Inggris. Untungnya dia menambahkan: prakteknya bisa tanpa teman, melainkan di dalam otak, artinya kita mencoba berfikir atau berimajinasi pun dalam bahasa Inggris.

Al hasil, dalam waktu singkat sejak setahun yang lalu saya sudah BISA! berbahasa Inggris ini. Jitu kan caranya ?!

Saya yakin, Anda pun punya cara yang juga jitu.

Bagaimana cara jitu BELAJAR menurut Anda ? Tak terbatas pada hal di atas (belajar bahasa Inggris) tentu saja. Anda pasti punya dan.

Yang paling jitu adalah : Belajar dan Mempraktekkannya.

 

cafestudi061

Apa Jadinya Jika 70% Kepala Sekolah Tidak Kompeten ??? Oktober 25, 2008

Posted by cafestudi061 in Pendidikan.
add a comment

 

 

Departemen Pendidikan Nasional memperkirakan 70 persen dari 250 ribu, kurang lebih 175 ribu kepala sekolah di Indonesia tidak kompeten. Berdasarkan ketentuan Departemen, setiap kepala sekolah harus memenuhi lima aspek kompetensi, yaitu kepribadian, sosial, manajerial, supervisi, dan kewirausahaan. Namun, hampir semua kepala sekolah lemah di bidang kompetensi manajerial dan supervisi. “Padahal dua kompetensi itu merupakan kekuatan kepala sekolah untuk mengelola sekolah dengan baik,” kata Direktur Tenaga Kependidikan Surya Dharma kepada wartawan di Jakarta kemarin.

Kesimpulan ini merupakan temuan Direktorat Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional setelah melakukan uji kompetensi. Direktorat Peningkatan Mutu melakukan uji kompetensi berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Kompetensi Kepala Sekolah. Lebih dari 400 kepala sekolah dari lima provinsi mengikuti tes tersebut. Untuk memastikan temuan itu, uji kompetensi kembali dilakukan pekan lalu terhadap 50 kepala sekolah sebuah yayasan pendidikan. “Hasilnya sama saja,” kata Surya.

Banyaknya kepala sekolah yang kurang memenuhi standar kompetensi ini tak terlepas dari proses rekrutmen dan pengangkatan kepala sekolah yang berlaku saat ini. Di sejumlah negara, kata Surya, untuk menjadi kepala sekolah, seseorang harus menjalani training dengan minimal waktu yang ditentukan. Ia mencontohkan Malaysia, yang menetapkan 300 jam pelatihan untuk menjadi kepala sekolah, Singapura dengan standar 16 bulan pelatihan, dan Amerika, yang menetapkan lembaga pelatihan untuk mengeluarkan surat izin atau surat keterangan kompetensi.

Sejak diberlakukannya otonomi daerah, pengangkatan kepala sekolah menjadi kewenangan penuh bupati atau wali kota. “Kewenangan tersebut menjadikan bupati atau wali kota seenaknya saja menentukan kepala sekolah,” ujarnya. Selain itu, proses pengangkatannya jarang disertai pelatihan. Ia berharap kepala daerah kembali menggunakan standar kompetensi dalam memilih dan mengangkat kepala sekolah.

Wakil Sekretaris Jenderal Federasi Guru Independen Indonesia Yanti Sriyulianti menyatakan perekrutan kepala sekolah memang tidak profesional. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya sekolah yang tidak berkualitas. Ia memberi contoh perekrutan kepala sekolah di Subang, Jawa Barat, yang cenderung tertutup. “Proses yang tertutup seperti itu bisa saja terjadi di tempat lain dan dapat diindikasikan sebagai salah satu bentuk korupsi, kolusi, dan nepotisme,” kata Yanti kemarin. Menurut dia, perlu perubahan manajemen dan regulasi yang lebih transparan dan akuntabel untuk memperbaikinya.

Sumber diambil dari:

http://www.tempointeraktif.com/hg/pendidikan/2008/08/12/brk,20080812-130482,id.html

 

cafestudi061