jump to navigation

Pelacur Desember 23, 2008

Posted by cafestudi061 in Opini.
add a comment

Dengan tubuhnya yang gempal perempuan itu memecah batu, dengan tubuhnya yang tebal ia seorang pelacur.
Namanya Nur Hidayah, 35 tahun, kelahiran Tulungagung, Jawa Timur. Ia seorang istri yang ditinggalkan suami (meskipun mereka belum bercerai), ia ibu dari lima anak yang praktis yatim.
Tiap pagi, setelah Tegar, anaknya yang berumur enam tahun, berangkat ke sekolah dengan ojek, Nur datang ke tempat kerjanya. Di sana ia mengangkut batu, kemudian memecah-mecahnya, untuk dijual ke pemborong bangunan. Nova, empat tahun, anak bungsunya, selalu dibawanya. Nur bekerja sekitar lima jam sampai tengah hari.
Lalu ia pulang. Tegar akan sudah kembali ke rumah kontrakan mereka, dan Nur bisa bermain dengan kedua anak itu. Sampai pukul tiga sore.
Matahari sudah mulai turun ketika Nur membawa kedua anaknya ke tempat penitipan milik Ibu In, yang ia bayar Rp 20 ribu sehari. Lalu ia berdandan: memasang lipstik tebal, berpupur, mengenakan baju terbaik. Lepas magrib, ia naik ojek dari kampung Mujang itu ke Gunung Bolo, 45 menit jaraknya dengan sepeda motor.
Di kegelapan malam di tempat tinggi yang jadi kuburan Cina itu, Nur menjajakan seks. Ia menjual tubuhnya.
Ia tak memilih pekerjaan itu. Sutrisno, suaminya, yang menikah dengan perempuan lain, tak memberinya nafkah. Ia bertemu dengan lelaki itu pada 1992 dalam bus ke Trenggalek. Mereka saling tertarik, dan Sutrisno menemukan lowongan buat Nur di Pabrik Rokok ”Semanggi” di Kediri. Pekerjaan mengelinting sigaret itu hanya dijalaninya dua bulan. Nur hamil. Ia harus menikah.
Ia pun jadi istri seorang suami yang menghabiskan waktunya di meja judi dan botol ciu. Tak ada penghasilan. Tak ada pengharapan. Setelah anak yang kelima lahir, dalam keadaan putus asa, Nur ikut ajakan tetangganya, seorang pelacur di Gunung Bolo. Ia bergabung dengan sekitar 80 pekerja seks di tempat itu, dan jadi sahabat Mira, yang lebih muda setahun tapi sudah hampir separuh usianya menyewakan kelamin. Mereka menghabiskan malam mereka mencari konsumen di pekuburan Cina itu. Tarif: Rp 10 ribu sepersetubuhan.
”Pernah ada pengalaman yang membuat Mbak Nur senang, selama ini, ketika melayani tamu?”
”Ah, ya ndak ada,” jawabnya.
Tapi suara itu tak getir. Nur, juga Mira, bukanlah keluh yang pahit. Dalam film dokumenter yang dibuat Ucu Agustin—salah satu dari Pertaruhan, empat karya dokumenter tentang perempuan yang layak beredar luas di Indonesia kini—kedua pelacur itu berbicara tentang hidup mereka seperti seorang pedagang kecil (atau guru mengaji yang miskin) berbicara tentang kerja mereka sehari-hari.
Bahkan dengan kalem mereka, sebagai undangan Kalyana Shira Foundation yang memproduksi Pertaruhan, duduk bersama peserta Jakarta International Film Festival di sebuah kafe di Grand Indonesia—seakan-akan mall megah itu bukan negeri ajaib dalam mimpi seorang Tulungagung. Ketika saya menemui mereka di tempat minum Goethe Haus pekan lalu, Mira duduk seperti di warung yang amat dikenalnya, dengan rokok yang terus menyala (tapi ia menolak minum bir), dan Nur memeluk Nova yang dibawanya ikut ke Jakarta.
Haruskah Mira, Nur, merasa lain: nista? Produser, sutradara, dan aktivis perempuan yang menjamu mereka tak membuat para pelacur itu asing dan rikuh. Bahkan Tegar dan Nova diurus panitia seakan-akan kemenakan sendiri—dan dengan kagum saya melihat sebuah generasi Indonesia yang menolak sikap orang tua dan guru agama mereka. Mira dan Nur tak akan mereka kirim ke neraka, di mana pun neraka itu. Ucu Agustin, 32 tahun, sutradara dokumenter ini, telah berjalan jauh. Ia lulus dari IAIN pada tahun 2000 setelah enam tahun di pesantren Darunnajah di Jakarta, di mana murid perempuan bahkan dilarang membaca majalah Femina. Ia kini tahu, agama tak berdaya menghadapi Nur dan kaumnya.
Di Tulungagung terdapat setidaknya 16 tempat pelacuran. Ada dua yang legal, yang tiap Ramadan harus tutup. Tapi sia-sia: di tiap bulan puasa pula para pelacur yang kehilangan kerja datang antara lain ke Gunung Bolo. Pekerja di tempat itu bertambah 50 persen.
Dan bagaimana agama akan punya arti bila tak memandang dengan hormat ke wajah Nur: seorang ibu yang mengais dari Nasib untuk mengubah hidup anak-anaknya? ”Mereka harus sekolah, mereka ndak boleh mengulangi hidup emak mereka,” Nur berkata, berkali-kali.
Dengan memecah batu ia dapat Rp 400 ribu sebulan, dengan melacur ia rata-rata dapat Rp 30 ribu semalam. Dengan itu ia bisa mengirim Tegar ke sebuah TK Katolik sambil membantu hidup anak-anaknya yang lain yang ia titipkan di rumah seorang saudara. Nur tegak di atas kakinya sendiri. Ia contoh yang baik ”dialektika” yang disebut Walter Benjamin: seorang pelacur—seorang pemilik alat produksi dan sekaligus alat produksi itu sendiri, seorang penjaja (Verkäuferin) dan barang yang dijajakan (Ware) dalam satu tubuh. Ia buruh; ia bukan.
Bagi saya ia ”Ibu Indonesia Tahun 2008”.
Setidaknya ia kisah tentang harapan dalam hidup yang remang-remang. Memang tuan dan nyonya yang bermoral mengutuknya. Memang polisi merazianya dan para preman memungut paksa uang dari jerih payah di Gunung Bolo itu. Tapi Nur tahu bagaimana tabah. Kebaikan hati bukan mustahil. Tegar diberi keringanan membayar uang sekolah di TK Katolik itu. Tiap bulan ke Gunung Bolo, seperti ke belasan tempat pelacuran di Tulungagung itu, datang tim dari CIMED, organisasi lokal yang dengan cuma-cuma memeriksa kesehatan mereka. Dan ke rumah penitipan Ibu In secara teratur datang Mbak Sri untuk membantu Tegar berbahasa Inggris dan mengerti bilangan.
Terkadang Nur berbicara tentang Tuhan (ia belum melupakan-Nya). Ia menyebut-Nya ”Yang di Atas”. Mungkin itu untuk menunjuk sesuatu yang jauh—tapi justru tak merisaukannya, karena manusia, yang di bawah, tetap berharga: bernilai dalam kerelaannya.

Goenawan Mohamad

Anjing Desember 23, 2008

Posted by cafestudi061 in Opini.
add a comment

Kalau kata ini disampaikan dan diucapkan di depan seseorang atau siapa saja yang menyuarakan kata tersebut, pasti orang tersebut akan tersungging, eh, maksudnya tersinggung. Entah mengapa ini bisa terjadi. Apakah perasaan orang tersebut sangat sensitife dengan kata anjing atau telinga yang mendengarkan hal itu menjadi gerah atau hatinya menjadi marah menandakan tidak senang mendengar kata anjing, entahlah.
Lain lagi pada kumpulan anak-anak belakang ( baca anak berandal di sekolahan ) atau pada kumpulan preman-preman di terminal-terminal oplet atau di terminal bus. Kata anjing sudah menjadi sarapan dan santapan keseharian mulut dan telinga mereka. Apa saja yang mereka rasa, senang, tidak senang, suka atau tidak suka, marah atau sekedar menyapa saja, dengan santai mereka ucapkan kata ‘anjing’.
Yang namanya anjing sebenarnya adalah jenis hewan buas yang dengan penuh kesabaran dan ketelatenan pemiliknya yang memeliharanya dapat mengubah sifat buas anjing tersebut, menjadi seekor hewan yang berguna bagi pemiliknya. Hewan ini jenis binatang yang setia, loh. Bahkan dia, lebih setia dari majikannya sendiri. Sungguh luar biasa.
Beberapa waktu yang lalu di Bali dijangkiti penyakit gila anjing atau anjing gila. Penyakit yang ditularkan oleh anjing ini sangat mempengaruhi jumlah kunjungan wisatawan ke pulau Dewata. Entah mengapa dan bagaimana sampai timbul penyakit pada anjing ini dan banyak berjangkit di Bali. Penyakit anjing gila ini biasa dikenal dengan nama rabies. Jangan salah, rabies ini bisa membuat nyali para turis mancanegara ciut. Pengaruhnya hampir menyaingi kekawatiran para turis datang ke Bali setelah terjadinya bom Bali 1 dan bom Bali 2. Ondeee,,,,???
Padahal, sebenarnya anjing adalah salah satu hewan yang dalam kitab-kitab suci dari keyakinan yang ada dianut di dunia ini mendapat tempat dan mungkin memiliki tiket di salah satu ruang di akhirat untuk bersanding dengan para penghuni surga. Sedangkan dilain pihak sebenarnya ada banyak ‘anjing’ yang berkaki dua seenaknya memakan dengan lahap uang rakyat yang telah memilihnya. Bahkan ‘anjing-anjing’ ini sangat rakus, dengan bangga dan tersenyum sumringah melangkah penuh bangga ketika ‘anjing-anjing’ ini digiring sebagai tersangka masuk ke ruang pengadilan, di mana persidangan itu sesungguhnya kasus merekayang disidangkan. Dan pengadilan tersebut dipimpin oleh para hakim-hakim yang mulia.
Kalaulah anjing bisa ngomong, mungkin dia bisa berkata: “Sesungguhnya akulah yang disebut manusia, tetapi manusia memanggilku anjing. Aku adalah anjing yang meskipun suka terhadap kotoran, tetapi aku, anjing yang tidak pernah mau mengorupsi dan merampas uang rakyatku sendiri”.
Kata anjing sekali lagi, “Kalaulah nanti aku bertemu dengan mereka di surga aku akan tuntut sang Pencipta, mengapa aku di dudukkan bersama dengan manusia-manusia ini, sedangkan mereka itu sebenarnya adalah ‘anjing-anjing’ yang suka memakan kotorannya sendiri“. Tetapi, aku hanyalah seekor anjing yang hanya bisa menggonggong dan kafilah dengan santainya berlalu.
Nah, sekarang siapa sebenarnya kafilah itu ? Apakah manusia yang suka mengambil dan mencuri, serta mengorupsi uang rakyat yang dipimpinnya itu, disebut kafilah ?. Atau aku, yang manusia itu sering menyebutku ‘anjing’ dan seharusnya akulah kafilah ?
Entahlah, aku sendiri tidak tahu. Apakah aku yang dapat membaca dan menulis, berselancar menggunakan internet dengan klik mouse sana, klik mouse sini dan tekan tuts keyboard adalah ‘anjing-anjing’ itu ? Tetapi, aku berharap bahwa aku adalah manusia yang sesungguhnya.
Kalaulah aku manusia dan dapat menjadi pemimpin, aku ingin sekali menolong siapa saja yang seharusnya mendapat pertolongan dariku. Bukan malah memangsan, merampok, menyantap dan menghisap habis seluruh kepunyaannya, sehingga manusia-manusia itu tidak punya apa-apa lagi. Tinggal sebatang kara. Menjadi manusia hina. Tinggallah aku sendiri.
Apakah aku sebagai manusia yang disebut dengan kata anjing, atau aku adalah ‘anjing-anjing’ itu, atau anjing yang menggunakan pakaian manusia ? Manusia berpakaian terhormat, apakah aku sebagai pejabat, dengan kedudukan terhormat, yang mungkin gila hormat, atau yang suka menyikat habis kepunyaan rakyat .
Entahlah, yang jelas itu bukan budaya dari bangsaku, jelas korupsi itu bukan budaya, ya, bukan pula kebiasaan dari bangsa anjing. Tapi kini aku tinggal sendiri. Tinggal termenung di dalam ruang yang penuh sesak.pengap dan di kelilingi terali besi. Ya, aku patut disebut dengan ‘anjing-anjing’ itu. Aku bukan lagi manusia.
Biarlah semua ini menjadi satu pesan buat siapa saja yang baca. Apakah dia para pemimpin atau caleg-caleg yang akan berlaga di tahun 2009 yang akan datang. Mereka pasti tidak mau menjadi ‘anjing-anjing’ yang dengan buasnya melahap uang rakyat yang telah memilih mereka. Anjing berkata: “Ah, mana mungkin ?”
Mudah-mudahan tulisan anjing ini menjadi sesuatu yang mengubah kebuasanmu menjadi manusia yang sesungguhnya bukan anjing yang sebenarnya.

Cafestudi061