jump to navigation

Mengapa Harus Malu September 16, 2008

Posted by cafestudi061 in Cerpen.
add a comment

I am very happy when I read my short story was publish in cafestudi061’s weblog the friendly blog. Bravo,.. bravo to may friend said Syaiful Pandu. I thing this make me happy too. I hope for all friend has read this, please give your comment. Thanks see in the next story. Nice to meet you again.

Genta, Minggu III Oktober 1983

KALAU berbicara mengenai nasib atau jalur hidup anak manusia, memang absurd sekali. Sulit ditebak apa jadinya. Ada orang yang ditakdirkan kaya raya, ada yang miskin kepapa. Ada yang berbahagia dan ada pula penuh duka, dan ada-ada saja.

Coba bayangkan! Dalam usiaku yang baru mau menginjak  keempat belas ini, aku sudah harus memikirkan periuk nasi dan asap dapur keluarga. Padahal anak-anak sebayaku hari-harinya penuh perlindungan. Perlindungan menyeluruh. Sebentar lagi kalau sudah remaja, masa remajanya penuh romansa. Yakh ….  itulah nasib. Barangkali nasibkulah yang belum beruntung. Tapi terus terang, aku tidak mau kalau aku ini dikatakan sebagai orang yang “merugi” seperti merugi yang dimaksud dalam ayat; Wal asri, Innal insanalafi qusri, itu.

Bila sore menjelang senja, seperti biasanya, aku telah harus hadir di rumah Pak Munasril, pengusaha yang punya gerobak bakso tidak kurang dari tiga belas buah. Setiap gerobak itu diberi oleh Pak Munasril bernomor. Mulai dari nomor 01, 02, 03 dan kosong seterusnya. Yang 07 pendorong gerobaknya adalah aku..

Setiap pendorong gerobak itu, alias penjual bakso Pak Munasril, telah memunyai jalur-jalur tertentu untuk memasarkan baksonya masing-masing. Yang jelas, pada sebuah jalur atau jalan, jarang terdapat pedagang bakso berganda dari produksi yang sama. Karena sore-sore sebelum berangkat, para pedagang bakso ini telah bikin planning, jalan-jalan mana saja yang akan dilewati.

Aku betul-betul merasa sedikit beruntung, karena jalur bagianku tergolong daerah yang “basah” Yakni jalan Bintara. Di sepanjang jalan inilah setiap senja sampai larut malam aku sering mangkal.

Aku memulainya dari jalan Perwira. Kalau nasib lagi mujur, belum lagi pukul 21.00  baksoku sudah habis dan kikis. Berarti aku berkesempatan menikmati acara Dunia dalam Berita di televisi, lewat jendela rumah salah seorang langgananku. Selesai Dunia dalam berita, barulah aku berarak pulang.

Atas anjuran salah seorang pelanggan baksoku, nomor gerobakku agar ditambah satu angka nol lagi. Yang semula bernomor 07, sekarang dijadikan 007. “Biar menjadi  bakso James Bond” katanya sambil berkelakar.

Agar pelanggan tidak kecewa, maka kupenuhi saja anjuran mereka itu. Semenjak itulah mereka mengenalku sebagai tukang bakso James Bond. Meskipun, kata mereka pukulan kentongan baksoku memunyai irama tersendiri. Tanpa melihat pun, di dalam rumah saja malam hari mereka tahu, kalau yang datang adalah gerobak baksoku. Dan memang itu sudah merupakan ciri khasku. Sudah merupakan identitas. Aku setuju kalau identitas itu penting sekali artinya bagi setiap kreativitas. Biar kita dikenal masyarakat. Kata Goenawan Mohamad, setiap kreativitas harus punya identitas, agar kita meninggalkan kesan. Sebab, kata Goenawan, orang yang pergi tanpa kesan, berarti tidak punya fondasi yang kuat untuk bicara tentang dunianya. Aku tidak mengerti maksud Pak Goenawan Mohamad itu.

Kalau direnung-renung, terkadang aku bangga juga menjalani hidupku seperti ini, sebab, dalam usia yang masih begitu muda, aku bisa bekerja membiayai sekolahku. Malah aku telah pula bisa membahagiakan ibuku yang janda dan mulai renta. Yang semula beliau hilir mudik pakai sepeda Hercules tua untuk menjajakan sayur-mayur. Masuk kampung ke luar kota .  Sekarang beliau telah kubebas tugaskan.  Karena sudah berangsur tua, biarlah di rumah saja. Perbanyak berdoa.

Mulanya beliau tidak mau. Alasannya, kalau beliau tidak ada kegiatan, badan rasanya pegal-pegal. Setelah aku bermohon dengan sangat, dengan janji masalah asap dapur aku yang tanggung, dan aku akan tetap sekolah. Beliau luluh. Tetapi tetap saja beliau mencari kegiatan di rumah. Ada-ada saja yang beliau kerjakan. Duduk saja pun beliau menyulam. Minta tolong hanya kalau memasukkan benang ke lubang jarum.

Cuaca sejak siang mendung saja. Matahari menyelinap di balik awan.

Sore hujan rintik-rintik. Senjanya hari semakin gelap. Di belahan barat langit menghitam. Sebenarnya jika hujan gerimis, malam-malam bawaan orang-orang pada ingin makan saja. Utamanya makan bakso atau goreng-gorengan. Ini pengalamanku.

Biasanya, separuh jalan Bintara kurayapi, baksoku sudah habis dibeli pelanggan. Jarang-jarang yang sampai ke ujungnya. Tapi kali ini, hampir aku mencapai ke ujungnya, baksoku masih tersisa. Untunglah keluarga di rumah mewah ujung memanggil-manggil; “Bakso! Bakso!” Maka lempanglah hatiku. Apalagi nampaknya mereka keluarga besar, yang sepertinya akan memborong baksoku. Wow, senangnya.

Astaga, aku melihat salah seorang di antara mereka seperti orang yang sangat kukenal. Dia memelukkan piring ke dadanya. Meskipun dalam cahaya gelap-gelap terang, jelas dan pasti, dia adalah Yanti, teman sekelasku. Heran, entah kekuatan apa yang telah memerintahkan otak bawah sadarku untuk membelokkan gerobakku  180 derajat. Tanpa memberikan sepatah jawaban pun, aku telah berbalik arah menghindar  dari areal tersebut.

Semenjak itu, aku tidak pernah menjejak-jejakkan kakiku lagi di sepanjang jalan Bintara. Daerah operasiku sekarang telah berpindah ke jalan Mustika, yang “gersang” dan “sepi”. Apalagi di malam hari. Rumah-rumah mewah tertutup rapi, seperti tak berpenghuni. Kecuali lampu-lampu taman yang menawan. Mungkin mereka tidak mau jajan sembarangan, seperti makan di warung-warung pinggir jalan. Atau makan di gerobak asongan.

Malam ketujuh aku mangkal di jalan Mustika, terasa benar merosotnya penjualanku. Malah sering tak terjual separuhnya. Seperti malam ini, Hujan dari senja hanya rintik-rintik saja. Tapi malamnya hujan turun begitu derasnya.

Malam sudah pukull 00.00. Baksoku masih membukit. Hujan makin deras juga. Untuk menjaga kesehatan badan, aku berteduh pada sebuah pohon dekat gardu listrik.

Meskipun aku sudah berteduh, namun badan ini tak terhindarkan dari percikan-percikan air. Kaca gerobakku telah suram, kabur karena diterpa tempias hujan.

Pada saat seperti inilah terkadang aku merenung. Mengapa begitu malang nasibku. Tanpa disadari, air suam-suam kuku mengalir lewat pipiku. Menetes bercampur dengan air hujan. Aku menangis. Sungguh sedih hatiku.

Mengapa pula aku harus bersedih, barangkali masih banyak orang yang hidupnya lebih morat-marit dari aku ini.

Jelas itu salahku sendiri. padahal tempo hari, ketika mangkal di jalan Bintara, baksoku begitu laris manis. Majikanku senangnya bukan main. Keuanganku lancer. Tapi bamanalah? Aku malu berjualan bakso di jalan Bintara. Aku malu pada Yanti, teman sekelasku. Namun  jika dipikir-pikir, MENGAPA HARUS MALU???@@@

Perkenalan September 15, 2008

Posted by cafestudi061 in Cerpen.
add a comment

Hi, friend said Syaiful Pandu, Bravo, I very happy, and full surpraise because my short story was publish and posting in cafestudi061’s weblog. Thanks brother. Get success and fell healthy to you. Please read this my story.

Haluan Minggu,  6 Febriari 1983

SUASANA di areal kampus Universitas Riau pagi ini belum begitu riuh. Malah bolehlah dikategorikan masih sunyi, sunyi sekali. Beberapa ruangan sedang dimanfaatkan oleh mahasiswa–mahasiswi yang kuliah pagi ini. Yakni yang kuliah pukul 07.00. Sekarang baru pukul 07.30. Seandainya hari sudah siang, pastilah suasananya akan jadi lain. Pasti akan riuh rendah oleh suara tawa para pengemis ilmu (baca mahasiswa) dan ditingkah pula oleh deru berbagai jenis kendaraan roda dua dan roda empat. Kalau deru sepeda, bukan hanya tidak kedengaran, malah tidak kelihatan lagi wujudnya. Sayang, mengapa calon-calon intelektual kita begitu enggan naik sepeda akhir-akhir ini. Padahal sepeda itu selain hemat, juga membuat badan kita jadi sehat.

Matahari terus saja merangkak, meninggi. Seakan ingin mencapai awan yang paling tinggi. Padahal bukanlah begitu logikanya.dia hanya menjalankan tugasnya dalam dua puluh empat jam nonstop. Entah sampai kapan matahari ini tetap setia melaksanakan tugasnya. Barangkali sampai dunia kiamat.

Sebagaimana halnya matahari, merangkak, begitu pula para mahasiswa Universitas Riau. Memang tidak merangkak, tapi merayap pakai sepeda motor. Sedikit sekali yang datang dengan mengayunkan dengkul, alias jalan kaki. Indonesia kita kan sudah hampir mencapai makmur sekarang, Mana ada mahasiswa yang jalan kaki pergi kuliah. Kalaupun ada, itu, toh mengada-ada, dan tidak bisa dijadikan alasan untuk mengurangi arti kemakmuran itu.

Nona Adriyetti mengurangi kecepatan Honda Cup Super 800-nya. Kemudian dengan cekatan dia membelokkan sepeda motornya ke pintu gerbang kampus Universitas Riau. Di pos jaga dekat pintu gerbang itu kasak kusuk dua orang anggota Menwa. Nampak-nampak tengah memersiapkan permainan catur. Sebuah senyuman simpul telah dilemparkan oleh nona Adriyetti kepada mereka berdua. Nampaknya mereka kenal-kenal tanggung.

Honda bebek merah yang dikendarai nona Adriyetti itu langsung saja mengambil tempat parkir yang strategis di bawah pohon akasia. Setiap hari dia memilih tempat parkir di situ, seperti langganan saja.

Dalam jadwalnya nona Adriyetti kuliah pukul delapan 08.15. Sekarang belum pukul 08.00. Jadi dia punya kelebihan waktu sekian menit lagi menjelang perkuliahan Sosiologi Sastra dimulai. Entah nona Adriyetti mengerti bahwa waktu ini adalah uang, entah bagaimana, tak tahulah. Yang jelas waktu yang kelebihan beberapa menit itu langsung saja dihabiskannya di Perpustakaan Pusat Universitas Riau.

Dia berjalan melenggang-lenggok menuju pustaka. Para pegawai pustaka yang berjumlah empat orang itu tengah sibuk mengemasi sebagian buku yang letaknya siperkirakan kurang teratur. Yang seorang lagi sibuk mengipas-ngipas debu dengan pengipas bulu ayam. Nona adriyetti mengambil tempat duduk tidak beberapa jauh dari laci katalog. Di sudut sebelah kanan dua orang pemuda tengah kusuk membaca koran edisi kemarin.

Nona Adriyetti mengeluarka  sebuah buku dari dalam tasnya, dan langsung membacanya. Dua orang pemuda yang diperkirakan tengah kusuk tadi sekarang konsentrasinya telah terbagi dua. Yang sebagian ke berita-berita ringan yang disajikan dalam koran. Sebagian lagi sudah jelas tertuju kepada nona Adriyetti yang berwajah rada-rada penyanyi Irni Basyir itu.

Sayang kedua pemuda itu kurang kuat mempertahankan prinsip dasarnya. Yang semula tengah kusuk membaca koran, tetapi hadirnya seorang kaum hawa membuat mereka jadi berpaling. Acara baca korannya sekarang telah mereka kesampingkan. Dan perhatian telah tertuju seratus persen kepada nona Adriyetti. Mereka tengah memikirkan suatu strategi untuk memulai sesuatu. Katakanlah intersaksi antara mereka.

Acara suit-siutnya segera saja dilancarkan. Memang pada dasarnya wanita dan pria itu sama saja pola tingkah lakunya. Cuma semuanya tergantung situasi dan kondisi. Lelaki kalau sedang sendiri juga tidak mampu berbuat apa-apa. Begitu juga halnya wanita. Baik di jalan, maupun di atas oplet sekalipun, pria dan wanita sama saja cerianya. Itu kalau berkawan. Coba kalau lagi sendirian, dapatlah dibayangkan, tak satu atraksi pun mungkin dapat dilakukan.

Pemuda itu sekarang berdua, tentu dia merasa mempunyai ketahanan mental untuk mengganggu nona Adriyetti. Mesi nona Adriyetti agak sedikit menunduk ke meja karena membaca, namun di baju kaosnya cukup jelas dan gamblang tertulis angka 1828. Langsung saja angka 1828 itu dijadikan materi untuk serangan pertama, sekedar mukadimah memperlancar diplomasi.

“1828, peristiwa apa itu ya?” kata salah seorang di antara pemuda itu.

“1828, itu, kan Sumpah Pemuda” balas kawannya pula.

“Hari Sumpah Pemuda 1928 Mack, bukan 18.. Percuma saja kau IQ tinggi, tapi pelupa” mereka berdebat berdua.

Nona Adriyetti tetap pada posisi semula, seolah tidak terjadi apa-apa. Walau sebenarnya suara kedua pemuda itu cukup lantang kedengarannya. Tapi dia tetap tidak mengacuhkannya. Pemuda-pemuda iseng, untuk apa dilayani, bisik hatinya pula.

“Oya, baru aku ingat, 1828 itu, kan judul sebuah film Nasional yang disutradarai oleh Teguh Karya. Tapi sebelum angka 1828, diembel-embeli dengan kata November. Lengkapnya November 1828.

“Betul-betul” balasnya.

“Ada apa rupanya? Kau penggemar film nasional, ya? Atau malah kau ikut serta sebagai figuran dalam film tersebut?”.

“Kalau tampang memang meyakinkan. Aku nonton film tersebut sampai dua kali. Pertama di bioskop Karya Solok. Kedua di bioskop Lativa Pekanbaru. Tapi, kok ya,  tidak pernah saya melihat tampang pemainnya seperti ini”.

Nona Adriyetti sekarang telah yakin seyakin-yakinnya, bahwa dirinya sedang dituding. Tapi tidak sedikitpun merasa tarpojok. Yang disayangkannya sportivitas kedua pemuda itu. Kalau ingin kenalan, jangan begitu  dong caranya, bisik hatinya lagi.

Nona Adriyetti mengubah sedikit posisi duduknya, sehingga buku yang tengah dibacanya sedikit terangkat. Kedua pemuda tadi melihat sepintas kata Perawan pada cover buku yang dibacanya.

“Waduh, judulnya seram; Perawan! Senang juga baca buku-buku kayak begituan ya” katanya.

Nona Adriyetti pun sudah tidak bisa konsentrasi lagi. Diangkatnya buku tersebut dan diperagakannya sampulnya kepada kedua pemuda itu. Maka jelaslah terlihat SUMAN Hs. Mencari Pencuri Anak Perawan. Nona Adriyetti kembali melanjutkan dan menekuni jalan cerita roman yang katanya semi detektif itu. Kedua pemuda itu masih belum kehabisan bahan baku.

“Mencari Pencuri Anak Perawan. Aku telah membacanya ketika usiaku mencapai enam belas tahun. Sekarang usiaku telah lewat dua puluh empat tahun. Berarti kurang lebih delapan tahun yang lalu aku telah membaca roman. Mencari Pencuri Anak Perawan. Kamu baru membacanya sekarang. Nggak ketinggalan tuh”  katanya sesama dia.

“Kata orang, biarlah ketinggalan daripada tidak dama sekali”

Kekesalan nona Adriyetti sudah sampai pada klimaknya. Dimasukkannya buku itu ke dalam tasnya. Kemudia berdiri. Dengan naluri kewanitaannya ditambah dengan sedikit keyakinan pada diri sendiri, dihampirinya kedua pemuda itu. Dengan gaya berkacak pinggang, persis seperti Mutia Dathau dalam film Malu-Malu Kucing, diberondonginya pemuda itu dengan pertanyaan;

“Kamu apaan, sih maunya? Mengganggu orang saja”.

Kedua pemuda itu sedikit bergidik, terlihat dari gerak-geriknya yang sedikit over acting. Mereka saling bertatap pandang. Barangkali bakal saling menyalahkan. Dalam hati nona Adriyetti tak tertahankan lagi rasanya untuk tertawa. Tapi stabilitas tetap dijaga agar jangan jatuh wibawa.

“Ceritanya, sih mau kenalan?”  kata salah seorang di antaranya.

“Kenalan-kenalan, ya kenalan, tapi jangan begitu dong caranya, aku kan, lagi serius belajar.” kata nona Adriyetti.

Mereka sama-sama mengulurkan tangan.

“Adriyetti”

“Syaiful. Mahasiswa tingkat tiga Fakultas Ekonomi dan lahir 24 tahun yang lalu di Sulitwater.”

Dalam hati nona Adriyetti mau memperpanjang dialognya, tapi segera saja pemuda yang satu lagi mengulurkan tangannya pula.

“Sapto Arbain, lahir di Rantauprapat. Blasteran antara Jawa versus Mandailing. Papa Jawa, mama Nasution.”

“Adriyetti”.

Karena keterangan Syaiful agak merupakan sedikit misteri. Langsung saja pertanyaan diarahkan kepada pemuda tersebut kembali.

“Oh ya, maksud Anda Sulitwater itu, Sulitair”.

“Tepat sekali “.balas Syaiful.

“Ah, bohong. Jangan coba-coba ngibul ya! Aku orang sana lho”.

“Kalau begitu kita sekampung. Di mana Sulitairnya?” kata Syaiful

“Di Kototuo”.

‘Ou, saya tak berapa jauh dari mesjid yang teramat bagus itu”.

“Sering pulang ke Sulitair?” lanjut Syaiful

“Cuma sekali setahun” jawab Adriyetti

“Kalau saya sering, kapan maunya saja. Malah baru-baru ini kami pergi naik sepeda motor. Dan ini Sapto Arbain ikut serta”.

“Hooh iya, kapok, deh aku ke Sulitair. Mungkin itu yang pertama dan terakhir aku ke sana. Habis, waktu mulai naik tanjakan pertama di Singkarak, rantai sepedamotorku putus. Untung cepat dapat diatasi ya, Pul”, kata Sapto Arbain pantang ketinggalan dalam pembicaraaan itu. Syaiful mengangguk dengan sedikit nyengir.

“Sering-seringlah lihat kampung kita ya, Adriyetti! Apalagi bus Merah Sungai ke sana sudah pakai video, asyik gat uh?” kata Syaiful. Nona Adriyetti mengangguk.

“Tapi terus terang Syaiful, ya! Saya mau pulang ke Sulitair bukan lantaran bus Merah Sungai pakai video itu, tapi panggilan hati kecil saya. Kerinduan akan kampung halaman. Nanti bila studi saya rampung, saya bersedia ditugaskan di sana. Kalau perlu saya buat permohonan rangkap tiga, atau rangkap berapa saja”. ucap nona adriyetti sungguh-sungguh.

Jarum jam tangan Bulova nona Adriyetti telah menunjukkan angka delapan lewat lima belas menit. Berarti dia harus meninggalkan lokasi untuk mengikuti kuliah Sosiologi Sastra.

Sebenarnya dalam hatinya keberatan sekali mengakhiri diskusi kilat dengan teman sekampungnya itu. Namun apa daya, dia harus mengikuti kuliah dengan dosen yang punya trade mark killer.

Nona Adriyetti segera mohon diri, sengan perjanjian tak tertulis kapan-kapan bakal disambung lagi dengan wawasan lebih luas.

Bagaimana kelanjutan PERKENALAN ini? Itulah yang sedang diproses pada sebuah proyek imajinasi milik saya pribadi. Pen @@

Sebuah Ikrar Telah Dilanggar September 15, 2008

Posted by cafestudi061 in Cerpen.
add a comment

My friend Syaiful Pandu very happy when he know his short story has publish in my weblog, and he is surprise. And I hope to all reader please share this short story to your friend. Good Day, and Enjoy yourself.

Singgalang Minggu, 19 Juli 1981

 

 

Anak-anak di bawah usianya memanggilnya Da Ijal, termasuk juga aku, memanggil dengan Da Ijal. Tapi bila hatiku sedang kesal kupanggil dia Dajjal. Da atau Uda adalah bahasa kampungku, kalau Uda ini dinasionalisasi itu berarti kakak atau abang. Jadi Da Ijal itu berarti Bang Ijal. Yakh, Da Ijal atau Bang Ijal adalah segala-galanya bagiku, dialah cahaya harapanku. Bukan itu saja, bahkan secara informal Da Ijal telah dianggap sebagai unsur anggota keluarga kami. Ini mungkin saja karena Da Ijal telah banyak berbuat tentang apa saja untuk keluarga kami.

 

Kalau atap rumah yang bocor Da Ijal yang turun tangan. Kalau keluarga kami mengadakan kenduri kecil-kecilan ataupun besar-besaran, Da Ijallah yang jadi sibuk. Bahkan waktu kemarau panjang tahun lalu pernah kami dibuatkan sebuah sumur di belakang rumah dengan kedalaman tidak kurang dari lima meter. Sungguh banyak sekali saham yang telah ditanamkan oleh Da Ijal untuk keluargaku, entah dengan apa harus dibalas.

 

Di dalam kampung kecil ini pun nama Da Ijal cukup harum dan terpandang, baik di bidang sosial maupun organisasi lainnya. Bila senja menjelang, dialah yang terlebih dahulu hadir ke mesjid itu untuk memukul beduk, kemudian diiringi dengan suara azannya yang merdu merayu. Aku dan khalayak ramai hapal benar suara itu.

 

Setiap senja, setiap dia lewat di depan rumahku, tak pernah dia lupa mengingatkan padaku bahwa waktu sembahyang maghrib telah masuk. Masih terngiang-ngiang di telingaku suaranya yang bariton itu,

“Hai Wandaty, waktu sembahyang sudah di ambang jendela, sembahyang berjamaah yuk!!” , begitu seringkali Da Ijal mengajakku. Ayah dan emakku juga ikut-ikutan memberitahu. Meskipun begitu aku jarang sekali berjalan beriringan berdua bersama Da Ijal, walau ke mesjid sekalipun. Hal ini karena lingkunganku menganggapnya masih tabu dan janggal. Kolot sekali, ya!

 

Aku hanya menyusul saja dari belakang untuk pergi ke mesjid Al-Ishlah itu. Kecuali kalau suatu kebetulan barulah aku jalan bersama-sama dengannya. Sebenarnya terus terang saja, suasana jalan bergandengan seperti ini selalu dalam anganku. Tapi harap maklum kita orang Timur. Da Ijal kalau kangen dia langsung saja bertamu ke rumahku, menjumpai ayah dan emakku. Memang gentleman dia. Dan setelah mendapat restu barulah berbincang-bincang denganku. Ayah dan emakku mundur teratur ke belakang. Bersyukur juga aku punya orangtua yang memiliki pengertian, dan tahu kebutuhan primer kaum remaja seperti kami ini.

 

Tapi di akhir-akhir ini, kedatangan Da Ijal ke rumah ada pembatasan. Tapi tidak tertutup sama sekali. Atas inisiatif ayah dan demi sekuriti kami bersama ayah menganjurkan pada Da Ijal. Kedatangannya ke rumah supaya dikurangi dan dibatasi. Karena sudah ada beberapa fenomen dari gelagat para tetangga untuk memorak-porandakan hubungan silaturahmi antara Da Ijal denganku beserta keluarga.

Mereka-mereka itu menyebarkan berbagai macam fitnah. Mereka katakan keluarga kami telah memperalat tenaganya Da Ijal. Mereka katakan aku dan Da Ijal berbuat yang tidak-tidak. Dan macam-macam fitnahan yang lainnya. Pokoknya variatiflah. Tapi yang sebenarnya terjadi, sungguh Tuhanlah yang Maha Tahu. Yang jelas kami tidak pernah melakukan hal yang tidak-tidak, yang namanya melanggar norma-norma adat apalagi agama.

 

Semenjak itulah, aku dan Da Ijal jadi jarang untuk mengadakan pertemuan. Ditambah pula belakangan ini Da Ijal sibuk menghadapi pelajaran untuk menyelesaikan studinya, sementara aku juga sibuk menghadapi ujian kenaikan kelas.

 

Menurut Da Ijal dalam penuturannya padaku, dia akan melanjutkan studinya ke IKIP. Aku dan Da Ijal memang mempunyai cita-cita yang sama dalam memilih karir. Yaitu sama-sama kelak akan mengabdikan diri kepada anak didik. Kami akan berbahagia sekali mempunyai status dan profesi sebagai guru. Mudah-mudahan Tuhan mengabulkan iktikad kami yang suci ini.

 

Berkat doa Da Ijal dan barangkali mungkin karena ditopang juga oleh doaku, dia berhasil lulus dalam menempuh ujian  penyaringan untuk dicatat sebagai mahasiswa di IKIP.

 

Tak pelak lagi antara aku dan Da Ijal akan berpisah dalam waktu beberapa tahun. Terus-terang, aku betul-betul keberatan menghadapi kenyataan ini, aku ogah berpisah dengan Da Ijal, aku enggan ditinggal olehnya. Tapi yakh, demi masa depan kami, aku rela dan aku harus sanggup berpisah dengan Da Ijal.

 

Suatu hari menjelang keberangkatannya, di bawah pohon kedondong di belakang rumahku Da Ijal menguber janjinya padaku.

“Percayalah Wandaty, perpisahan kita ini bersifat sementara saja, demi masa depan kita-kita juga. Kuharap engkau tawakal menghadapinya. Nanti kalau kuliahku telah rampung, kita akan segera membangun rumah tangga, akan kita dirikan mahligai bahagia yang dilandasi dengan fondasi yang kokoh berdasarkan cinta kita yang tulus dan suci”, begitu tutur Da Ijal dengan mimik yang meyakinkan padaku. Dan pesannya lagi,

“Rajin-rajinlah belajar, nanti kalau aku Sarjana Muda, Wandaty tamat SPG. Aku mengajar di SLA, Wanda mengajar di SD. Kita sama-sama mengajar dan kita akan mendapatkan in come berganda”. begitu Da Ijal menitipkan harapan padaku. Oh alangkah indahnya ketika itu. Tapi apakah itu hanya fatamorgana? Entahlah. Wallahu alam bisshawab.

 

Walaupun aku belum resmi menjadi milik Da Ijal.  Walau aku belum istrinya yang sah; namun sewaktu keberangkatannya tempo hari, sebuah sun telah kuhadiahkan padanya. Kuhinggapkan tepat di pipi kirinya. Kulihat kebahagiaan terpancar di wajah Da Ijal. Dan terkadang pun aku sudah merasa bahagia, karena dapat membahagiakan seseorang pada saat-saat yang mengharukan, seperti perpisahan ini misalnya.

 

Minggu-minggu pertama aku memang merasa kehilangannya untunglah tiga kali dalam sebulan surat-suratnya selalu mengunjungiku. Begitu pula aku sebaliknya. Surat-surat Da Ijal betul-betul berfungsi sebagai penghibur di kala sunyi menyelimuti diri. Di akhir setiap suratnya tak pernah Da Ijal lupa menyelipkan sepotong kalimat, “Peluk rindu untukmu Wanda”.

 

Setiap hari ingatanku selalu pada Da Ijal, dan selalu menyita seluruh perhatianku. Tapi semua itu bisa kuatasi dengan jalan mencurahkan perhatian sepenuhnya pada pelajaran. Sudah memasuki tahun kedua Da Ijal berpisah denganku. Pertemuan hanya melalui surat-surat belaka. Meski keinginan untuk bertemu muka sungguh memuncak sekali.

Begitulah. Detik, menit, jam, hari dan bulan terus merayap. Memang lamban tapi jelas dan tegas. Suasanapun jadi ikut-ikutan berubah dan berganti. Sebuah malapetaka dalam batinku telah menimpa diriku. Apalagi persoalannya kalau bukan skandal hubungan antara aku dan Da Ijal. Heran aku jadinya, mengapa belakangan ini Da Ijal jadi jarang menyuratiku. Dari jarang malah akhirnya sampai tidak ada sama sekali. Padahal sudah dua tiga surat kulayangkan. Terakhir ini pernah pula aku susulkan dengan sebuah telegram indah. Usahaku yang terakhir inilah yang bisa menggugah hatinya untuk memberitahukan peristiwa apa sebenarnya yang sedang terjadi.

.

Isi surat Da Ijal benar-benar membuat aku heran tak mengerti. Dan yang lebih menjadi tanda tanya, yaitu pada alinea terakhir isi suratnya yang kuterima seminggu yang lalu. Katanya

“Pesanku padamu Wandaty, hati-hatilah mengoleksi teman priamu, ya!. Maklumlah pria jaman sekarang sukar sekali ditebak isi hatinya. Hari ini cinta besok-besoknya belum tentu. Untuk teman pendampingmu kelak, tek perlu yang ganteng atau yang kaya, yang penting setia. Dan selamat belajar, doaku selalu menyertaimu”. Itulah isi dan inti alinea terakhir surat Da Ijal padaku.

 

Aku betul-betul tak habis pikir atas semua ini. Oh, mengapa jadi begini akhirnya. Mungkinkah Da Ijal telah berpaling dari aku ini. Semudah itukah. Kalau tak ada apa-apanya tidak mungkin isi suratnya sampai bernada-nada demikian. Mungkinkah telah ada aku yang lain di hatinya. Kalau saja firasatku ini benar, tindakan apa yang harus aku lakukan.

 

Dalam hal ini aku tidak akan terlalu banyak menuntut. Hanya satu saja doaku pada Tuhan, mudah-mudahan aku berhasil lulus dalam menempuh ujian terakhir dalam bulan ini. Kalau aku lulus, tentu aku kan segera diangkat sebagai guru, dengan jalan ini segala kesibukan sebagai ibu guru akan dapat menyita seluruh perhatianku untuk melupakan Da Ijal.

 

Apa yang menjadi beban batin dan menjadi tanda tanya selama ini semuanya telah terjawab. Dalam libur semester kemarin Da Ijal telah menyempatkan dirinya untuk beranjangsana ke kampung, dengan menggiring seorang dara yang rupawan. Semua orang kampung juga memberikan informasi mengenai hal ini padaku. Dan aku telah mengambil suatu alternatif untuk tidak menemui Da Ijal. Karena aku telah mencap serta memvonisnya sebagai seorang yang telah ingkar janji. Dia telah mengkhianati cintaku yang begitu tulus dan agung.

 

Suatu hari tanpa kuduga dan sengaja, sewaktu pulang dari kebun aku telah bertemu pandang pada jalan setapak dengannya beserta gadisnya itu. Pertemuan ini merupakan sesuatu yang tak sengaja.

 

“Hai, Wanda, ke mana saja engkau dalam beberapa hari ini, kok tidak nongol ke rumah?” katanya. “Hmm, selama ini kau yang sering bertandang ke rumahku.” begitu kata hatiku. Lanjutnya lagi;

“Ini kenalkan, teman sekuliahku. Kalau tak ada aral melintang tahun depan kami akan bertunangan”. Dengan emosi yang terkendali kuulurkan tanganku dan kujabat tangannya yang lembut itu, maklum gadis kota, tak pernah memegang alat-alat berat seperti golok, cangkul, dan lain-lainnya.

“Wandaty”, kataku memerkenalkan diri”

“Mince, dengan ejaan lama”, balasnya.

 

Mulai saat itu (entah sampai kapan) dendam dan sakit hatiku pada Da Ijal betul-betul pada kondisi puncaknya. Tapi untunglah Tuhan memberi aku ketawakalan yang dalam. Semua malapetaka yang menimpa diri kuhadapi dengan dada lapang dan dengan jiwa yang lumayan besarnya. Seharusnya aku frustrasi, tapi aku sadar, hidup ini bukan hanya ini hari saja. Yang menjadi pikiranku kini adalah apakah semua lelaki seperti Da Ijal ini. Semudah dia membuat ikrar, semudah itu pula dia melanggar. Da Ijal oh Da Ijal. Engkau benar-benar Dajjal. @@@

Kepergian Ayah September 15, 2008

Posted by cafestudi061 in Cerpen.
add a comment

This is short story send to me from my best friend, Syaiful Pandu. He want me to publish and posting his short story to cafestudi061’s weblog. Please read and feel happy and enjoy yourself.

SINGGALANG MINGGU, 5 JULI 1981

Uhuk,uhuk…uhuk…uhuk…uhuk, dst. Batuk ayah semakin menjadi-jadi kudengar dari kamarku. Senyapnya sebentar saja. Jika dibanding antara batuk dan senyapnya, maka jauhlah lebih banyak batuknya. Walau setiap tiga hari sekali ayah tetap hadir di Puskesmas yang terletak di simpang tiga itu.

Jarak antara Puskesmas itu dengan pondok kami, kurang lebih dua kilometer. Biasanya ayah menempuhnya pakai sepeda Fonger tua. Hadiah dari seorang bekas majikan beliau dulu. Ayah pernah bekerja sebagai buruh harian pada perusahaan Semprong Lampu milik majikan beliau itu. Ayah memperoleh sepeda Fonger tua itu oleh karena ketekunan, keuletan serta dedikasi ayah yang menonjol.Tapi ayah sekarang tidak bekerja di sana lagi. Ayah sudah lama mengundurkan diri. Alasannya, kesehatan tidak mengizinkan. Lagi pula sudah beranjak tua.

Untuk kelanjutan hidup kami serta kelancaran asap dapur, ayah mengalihkan usahanya ke bidang lain. Keluarga kami hijrah ke kampong. Membuka areal pertanian yang tidak terlalu luas, tapi cukuplah untuk kesinambungan hidup kami. diselingi pula dengan berternak beberapa ekor ayam ras. Hasilnya bolehlah dikatakan lumayan. Kalau boleh, tidak bicara bohong, income atau penghasilan ayah sekarang ini mungkin empat tingkat di atas gaji beliau sewaktu memburuh dulu.

Meskipun ayah setiap tiga hari sekali tetap pergi ke Puskesmas, namun tidak juga ada tanda-tanda berkurangnya penyakit ayah yang cukup menyiksa itu. Malah batuk ayah menunjukkan gejala semakin seru.

Aku satu kalipun tidak pernah beranggapan bahwa obat-obat yang diberikan oleh mantri di Puskesmas itu tidak punya reaksi atau tidak mempan sama sekali. Hanya saja, aku menyesalkan juga sifat-sifat ayah yang tak acuh itu terhadap kesehatan beliau. Bila sakit beliau sudah gawat baru mau berobat.

Ayah kalau sudah bekerja jadi lupa segala-gala, terutama pada kesehatan beliau. Apalagi setelah ditinggal ibu beberapa tahun yang lalu. Sudah dua tahun ayah mengindap penyakit ini, tapi tiga bukan terakhir inilah keadaannya yang terlalu mengawatirkan.

Bukan hanya pertolongan pertama, bahkan pertolongan untuk yang kesekian kalinya akan selalu kuberikan pada ayah. Kurasa sepanjang usiaku, inilah baru bentuk pengabdianku pada ayah, kapan ayah memerlukan bantuanku, aku segera memberikannya sebatas kemampuan yang kumiliki.

Jam dinding tetangga berdentang sembilan kali. Yakh, baru pukul 21.00 sekarang, tapi, aku mengantuknya tak terkendali, dan mata ini tidak bisa diajak kompromi. Sementara Rita dan Marni, kedua adikku sudah mendengkur dengan nyenyaknya.

PR matematikaku yang harus diserahkan besok ini masih terbengkalai, dan baru separuhnyadikerjakan. Kalau PR ini tidak kuselesaikan pada malam ini, maka esoknya habislah aku disumpah serapahi oleh pak Edwar, guru matematika kami yang galak dan rada-rada tenggen itu. Tapi aku tidak peduli semua itu, apapun risikonya akan kuhadapi. Aku harus menolong ayah.

Kututup semua buku yang berserakan di atas meja itu, termasuk juga PR Matematikanya. Aku melangkah ke sebelah, ke kamar ayah. Daun pintu itu kuketuk-ketuk. Dibarengi dengan teriakan “Ayah,ayah,ayah….ayah” tak ada jawaban. Kuulangi lagi, tetap juga tidak ada jawaban. yang kudengar hanya dentuman batuk ayah yang tanpa variasi intonasi itu. Kupanggil lagi untuk terakhir kalinya. Ayah masih tidak menggubrisnya. Kesabaranku memanggil-manggil ayah sampai sudah pada batasnya.Kukumpulkan segala kekuatan kewanitaanku, kudobrak itu pintu, Aku berhasil membukanya secara paksa. Walau ada efek sampingnya, lututku lecet karena bersentuhan dengan lantai semen yang belum diplaster, tapi sakitnya tak kurasa.Mungin oleh karena seluruh perhatianku telah terbius oleh keadaan ayah.

Kulihat ayah terbaring menelentang di atas dua buah bantal,. Tenang dan sepi, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Padahal barusan saja ayah bertempur dengan batuk kronisnya.

Kurasa juga, baru sekali inilah selama hidupku aku menghardik ayah. Memanggil beliau dengan tekanan suara tinggi. Ini kulakukan karena keadaan memaksa. Karena ayah kupanggil berkali-kali, tapi tidak beliau tanggapi dan sahuti. Kuhampiri ayah, kupegang dahinya dan kugenggam erat tangan beliau, begitu dingin dan berkeringat. ”Ayah, apakah ayah perlu bantuanku?” Masih tetap bisu, kuulangi lagi kalimat itu;

”Ayah…..”

Akhirnya seolah-olah terpaksa ayah mencoba membuka mulut beliau yang terkatup itu.Secara serta-merta;

“Nila! Mana adik-adikmu?” begitu sendu pertanyaan ayah padaku,

“Mereka sudah tidur ayah” , jawabku dengan pandangan curiga.

Aneh sekali gerak-gerik ayah sekali ini, apalagi di malam selarut ini. Mungkinkah ayah akan pergi meninggalkan kami di dunia yang maha fana ini. Oh Tuhan, seandainya firasatku ini benar, aku mohon pada-Mu, tangguhkanlah dahulu keinginan-Mu itu. Sekarang kami sekeluarga masih saja dalam suasana berkabung, karena kepergian ibu kami tiga tahun yang lalu . Hanya semata-mata untuk memenuhu panggilan-Mu, begitu bisik hatiku. Pikiran yang tidak-tidak berkecamuk di benakku.

Atas permintaan ayah, kedua adikku Rita dan Marni kubangunkan. Kami duduk mengelilingi ayah sembari masing-masing kami memijat-mijat anggota tubuh ayah. Pembicaraan ayah melantur sudah ke mana-mana. Dugaanku semakin meyakinkan. Seperti ucapan-ucapan ayah inikah yang disebut-sebut orang sebagai amanah almarhum? Entahlah, aku sendiri tidak mengerti.

“Nila anakku!” lanjut ayah.

“Jagalah adik-adikmu baik-baik! Atasi agar mereka tidak terlunta-lunta kelak. Beritahu juga si Danil, abangmu di Pekanbaru mengenai hal ini. Ayah mungkin tidak dapat lagi bersama-sama di tengah-tengah kalian”. Ucapan ayah ini diselingi dengan batuk berat dan berulang-ulang,

“Ayah akan pergi menyusul ibumu” nafas ayah satu-satu, panjang.Tanpa kusadari air mataku bercucuran melihat perjuangan ayah. Ayah sedang berjuang menantang sakratulmaut.

Setelah kurang lebih tujuh kali beliau menarik napas panjang, kemudian……hop,terhenti. Napas ayah tiada lagi. Oh,secara spontan tangisku berganti menjadi jeritan histeris. Adik-adikku juga ikut-ikutan menjerit. Ayah telah menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Tetangga satu-persatu mulai berdatangan. Akhirnya membanjiri persada perkarangan rumah. Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi.

Kini kami tiga bersaudara terpaku dan mengheningkan cipta di atas seonggokan tanah merah yang masih segar, Di sisi makam ibu, di sini pulalah kini ayah terbaring.

Pada hari ini lengkaplah sudah status kami. Yang semula anak yatim, yakh, sekarang menjadi yatim piatu. Semoga kedua pahlawan keluarga kami ini mendapat tempat yang diredhoi oleh-Nya. Amin!

Dan hari-hari selanjutnya akan kami tempuh tanpa kasih sayang ayah dan ibunda. Oh, mengharukan sekali! @@@

“Affairku di Sepanjang Sungai Siak” September 15, 2008

Posted by cafestudi061 in Cerpen.
2 comments

This is my best friend short story. He want me to publish and posting his short story to all need a read and inspiration to write a short story. Just kiddng, Happy reading. cafestudi061

Genta, Senin, 18 Juni 1979

ANGIN di pelabuhan Tanjung Rhu hari itu tidak terlalu kuat. Bolehkah dikategorikan sepoi-sepoi basah. Yang basah memang bukan anginnya, tapi badan buruh-buruh pelabuhan itu, karena terlalu capek bekerja. Membongkar muat ojol dari truk ke kapal. (ojol, yaitu gumpalan-gumpalan getah sebesar kepala yang belum digiling , Pen.)

Aku duduk memerhatikan buruh-buruh itu di haluan kapal motor Budi Laut, yang tertambat di pelabuhan itu. Yang mana, dengan kapal motor Budi Laut inilah sebentar lagi aku akan berangkat menuju Bengkalis, kota leluhurku.

Para penumpang yang lainnya satu persatu mulai berdatangan. Lama-lama ramai, dan semakin ramai saja.

Bermacam-macam  ragam manusianya. Ada yang pedagang, ada penumpang biasa, dan sebagian besar penumpangnya adalah anak-anak sekolah. Maklum musim libur.

Bau ojol yang begitu semerbak menusuk hidung, membuat dan mendorongku untuk segera menjauhi pasukan-pasukan ojol itu. Dan lagi, tas ranselku yang kuletakkan begitu saja di dalam kapal segera kuhampiri. Siapa tahu ada tangan-tangan jahil, bisa dipretelinya itu tas.

Hari semakin larut siang, kulirik jam tangan Titus tuaku sudah pukul sepuluh lewat sedikit. Saat keberangkatan telah tiba. Para penumpang yang masih mondar-mandir dipersilakan untuk bertenggek ke atas kapal. Awak kapal bersiap-siap. Tali-temali dibuka. Haluan KM Budi Laut menuju ke arah muara sungai.

Ramai sekali orang di pelabuhan tadi, tapi tidak semuanya yang bepergian. Buktinya masih banyak yang tinggal. Mereka hanya melambai lambaikan tangan saja kepada penumpang. Aah! Itu mungkin kekasih mereka yang melepas kepergian orang yang dicintai. Atau kaum kerabat mereka. Tidak seperti aku ini. Tidak ada orang yang melepas kepergianku. Memang begitulah kalau hidup sebatang kara. Jangan tidak, sebagai penawar duka, ada juga seorang teman yang melambai-lambaikan tangannya sambil memanggil-manggil namaku. ini mungkin karena sebelum berangkat tadi telah kukorbankan sebatang Gudam Garam padanya. Sebagai imbalannya, itulah lambaian tangannya. Ini kemungkinan lho.

KM Budi Laut melaju menelusuri sungai Siak, para penumpang membawa diri masing-masing. Ada yang membaca majalah, ada yang membaca koran-koran bekas pembungkus. Namun tidak sedikit pula yang hanya duduk melamun memerhatikan hutan-hutan bakau yang terhampar di sepanjang sungai. Aku terlibat dalam hal yang terakhir itu.

Di tengah asyik memerhatikan hutan-hutan bakau itulah, hadir di depanku seorang gadis Sweet seventen. Sepertinya dia ada urusan denganku,. Siapa gerangan ? Oh! aku sudah tahu latar belakang keluarganya. Dia termasuk orang top juga di Bengkalis. Anak Bea Cukai dia. Tanpa malu-malu dan harga diri dilemparkannya sebuah pertanyaan padaku;

“Eit! ke Bengkalis, ya ?”

“Ou, Rogayah! Kapal ini trayeknya, kan Pekanbaru Bengkalis, jadi ke mana lagi aku kalau bukan ke Bengkalis.” jawabku dengan sedikit variasi senyum Pepsodent.

“Kalau begitu kita satu tujuan! Oh, ya!  Di mana tahu namaku Rogayah ?”

“Masak aku tidak tahu, kamu kan termasuk orang the big five juga di Bengkalis bukan?, Jadi siapa pun yang namanya orang Bengkalis pasti mengenalmu.”

“Ah, masak iya begitu. Kamu ini ada-ada saja.”

“ini kenyataan lho, Rogayah. Sebelum percakapan kita dilanjutkan, mungkin namaku Rogayah belum mengenalnya. Maklum orang tidak top. Kenalkan, Kantan namaku. Putra Meskom asli, dan Mahasiswa tingkat III Fakultas Perikanan Universitas Riau.”

Kulihat Rogayah tambah bersemangat untuk melanjutkan omongannya denganku. Mungkin karena aku bakal menjadi Insinyur Perikanan. Oh, mata duitannya dikau Rogayah.

“Rogayah sekolahnya di mana?”

“Di SMPP Pekanbaru. Kelas II IPS.”

“Siapa teman ke Bengkalis?”

“Sendiri.” jawab Rogayah.

“Aku juga sendiri. Bagaimana kalau kita joint ventures saja. Nanti kalau kapal berhenti di Siak Sri Indrapura, Rogayah jaga barang-barang, biar aku yang turun ke darat untuk membeli makanan!” begitu tawarku padanya.

“Akur, deh.” jawab Rogayah. Rogayah gembira sekali dengan tawaranku itu. Mungkin tawaran seperti inilah yang dicari-carinya.

“Ngomong-ngomong, Rogayah ada bawa majalah tak? Kalau tak ada majalah, Koran-koran sepuluh hari yang lalu pun tak apa-apalah”

“Majalah ada, tapi majalah lokal.”

“Aku berani taruhan, Rogayah, pasti majalah Canang, ya?”

“Benar, Tan. Sememangnya Kantan tidak suka baca majalah Canang?”

“Siapa bilang tidak. Itu majalah favoritku, lho.”

“Tunggu, ya! Kuambilkan!”

Rogayah beranjak mengambilkan itu majalah.

Itulah mulanya awal perkenalanku dengan Rogayah. Memang di zaman seperti ini, bukanlah termasuk perbuatan yang luar biasa lagi bila seorang wanita yang memulai suatu trgedi atau pun legenda. Artinya bukan kejutan. Seharusnya, kan aku yang pura-pura bertanya begini;

“Halo, Neng! Ke mana? Ke Bengkalis, ya?” Tapi, yakh, begitulah, dia yang mulai, dia yang mengakhiri …. Dst.

Tak kukira Rogayah seramah itu. Dugaanku selama ini, bahwa Rogayah anak babe yang sombong, tidak mau bersahabat dengan orang-orang seperti aku, perlahan-lahan sirna. Kecuali benak ini diliputi oleh hipotesis-hipotesis; jangan-jangan aku dijadikian umpan peluru saja oleh Rogayah. Karena dia bepergian sendiri, lantas dia berbuat baik kepada siapa saja, agar dapat menolongnya di kala dalam keadaan darurat. Taruhlah sebagai pengawal pribadi. Ah! tidak mungkin Rogayah memunyai pribadi seperti itu. Tidak ada terlukis di parasnya sifat-sifat begitu.

Rogayah kembali menghampiriku.

“Ini dia, majalah Canangnya.” kata Rogayah.

“Pinjam aku ya, Rog!”

Walaupun kami baru sekarang berkenanlan secara langsung, namun rasanya seperti sahabat lama yang sudah sekian lama tidak bertemu. Kami akrap sekali. Ini mungkin karena kami sama-sama pandai menyesuaikan diri.

Rogayah duduk di sampingku. Keinginanku semula untuk melahap semua isi majalah Canang jadi buyar. Dan jadi beralih ke cerita-cerita lain yang lebih menarik dan romantis. Kami bercerita tentang apa saja. Tentang studi, tentang masa depan, dan tentang faktor apa yang menyebabkan air sungai Siak berwarna gelap, namun rasanya jauh sekian tingkat di atas air leding. Dan entah  apa lagi yang kami ceritakan. Sampai-sampai kutanyakan pada Rogayah, apakah dia sudah ada yang punya, yang dijawab dengan malu-malu kucing oleh Rogayah;

“Belum.”

“Kalau begitu, aku punya kesempatan untuk menaburkan benih-benih cintaku padamu Rogayah.” begitu bisik hatiku.

Kini dua insan berlainan jenis itu sedang asyik dengan dunianya. Mungkin mereka sedang dibuai smaradahana. Oh! alangkah indahnya pelayaran ini. Seolah-olah, KM Budi Laut ini, mulai dari haluan sampai ke buritannya, si Kantan dan Rogayah yang punya.

Waktu perlahan-lahan dan pasti berjalan terus. Tanpa terasa, hari semakin di ambang sore. Mentari berangsur ke peraduannya. Kapalmotor terus berlayar menelusuri liku-liku sungai Siak. Tiupan badai senja, menerpa rambut Rogayah. Selimut malam telah turun. Di remang-remang sinar lampu Caltex kulirik wajah Rogayah, semakin elok saja. Dalam hati aku akui, cantik sekali kau Rogayah. Besar sekali gejolak asmaraku untuk dapat memacarimu, tapi aku sangsi, apakah aku akan bertepuk sebelah tangan. Tiba-tiba ….

“Hai!” Rogayah mengusik suasanaku.

“Kantan melamun, ya?”

“Aku bukannya melamun Rogayah, tapi aku sedang memerhatikan nelayan-nelayan itu” sambil kuacungkan telunjukku ke arah nelayan-nelayan di pinggir sungai itu.

“Memangnya Kantan senang jadi nelayan, ya?”

“Senang, sih, tidak. Siapa pula manusianya yang memunyai cita-cita ingin menjadi nelayan, walaupun nelayan itu tulus dan suci”

“Habis buat apa dihiraukan itu nelayan?”

“Bagaimana aku tak akan menghiraukannya Rogayah, abahku di Meskom sana pekerjaannya menangkap ikan, kok. Sewaktu aku masih sekolah di Bengkalis, aku sering ikut abahku turun ke laut. Malah pernah kami dua hari dua malam di tengah laut, karena dibawa berputar-putar oleh angin puting beliung. Rencanaku untuk memperoleh title insinyur Perikanan nanti, isi disertasiku akan membicarakan dan akan mengupas kehidupan nelayan-nelayan itu. Soalnya, aku menguasai seluk-beluk nelayan, jadi ada penghayatan.” Rogayah terpaku mendengar aku menjual koyok.

“Kalau begitu bagus benar.”

“Aku optimis Rogayah. Siapa tahu nanti disertasiku itu mendapat perhatian dan menarik minat satradara-sutradara film untuk memfilmkannya.”

“Ah! mana mungkin itu terjadi, Kantan.”

“Mengapa tidak mungkin? Rogayah, kan tahu, film nasional kita sekarang, kan banyak diangkat dari novel-novel top.”

“Ya, disertasi kan , bukan novel.”

“Memang, tapi di situ letaknya kejutan.”

“Terserah kaulah, Kantan, aku toh, tak bisa berbuat apa. Kukira angan-anganmu terlalu tinggi.”

“Oh! Rogayah tidak tahu, pemuda Kantan ini, kan pencinta angan-angan. Pokoknya Rogayah, disertasiku itu, kalau tidak diangkat ke layar lebar, sekurang-kurangnya difilm dokumenterkan saja lumayanlah. Aku cukup bahagia dengan prestasiku itu, Rogayah tolong doakan, ya! agar tercapai segala cita-citaku.”

“Kalau begitu, okelah.” sela Rogayah.

Kami sampai di Bengkalis pukul 05.30 pagi. Sebelum berpisah menuju rumah masing-masing, sempat juga aku berpesan.

“Rogayah, kalau ada waktu senggang, besok atau lusa, jalan-jalan dong ke Meskom. Sepeda motornya Rogayah kan dua tiga.”

“Kalau di Meskom musim durian aku mau, Tan.”

“Jangan khawatir Rogayah! Kalau tidak musim durian pun, terasi tetap musim di sana ”

Rogayah nampaknya menyimpan keinginannya untuk tersenyum. Mungkin karena kata-kata terasi itu mengandung unsur-unsur humor.

“Okelah Rogayah, jangan lupa! kutunggu di Meskom ya! bye bye”

“bye!” balas Rogayah.

Seminggu libur di Bengkalis membuat hati ini resah. Mana Rogayah yang dinanti-nanti tak datang juga. Betul-betul Rogayah ini doyan durian. sayang sekarang tidak musim durian. Kalau musiman, pasti Rogayah datang. Atau mungkin juga dia sibuk membantu maminya. Sedang hari keberangkatan kembali ke Pekanbaru sudah dekat.

Sehari sebelum kembali ke Pekanbaru, kujelang Rogayah ke rumahnya di jalan Hang Tuah Bengkalis.

“Tolong damping Rogayah, ya nak Kantan!” begitu pesan mami en papi Rogayah padaku.

“Maklum, anak gadis berlayar sendiri, dan anggaplah saudara nak Kantan sendiri.”

Oh! inggin sekali kukatakan kepada papi en maminya Rogayah, bahwa pemuda Kantan yang berdiri di depan mereka ini, akan bersedia menjadi pahlawan putrinya. Jika mereka mau menjodohkan aku dengan Rogayah, akan kuterima dengan senang hati, tanpa mempertimbangkannya lebih jauh. Habis, wajah putrinya yang bernama Rogayah itu kontemporer sekali, dan tipe wanita idaman masa kini.

Hari keberangkatan itupun tiba. Entah apa nama kapalmotornya kali ini, aku kurang begitu peduli. Yang kupedulikan hanya Rogayah seorang.

Rogayah diantar oleh seluruh keluarganya. Kapal berangsur angsur meninggalkan pulau Bengkalis, yang semakin lama semakin kecil, kemudian hilang, seakan-akan tenggelam.

Kapal kembali menelusuri hulu sungai. Kisah-kisah romantis yang pernah kami rasakan minggu lalu kembali terulang. Seolah-olah kapal itu mulai dari haluan sampai ke buritannya kembali kami yang punya.

Perjalanan dari Bengkalis ke Pekanbaru yang memakan waktu kurang lebih sehari semalam, yang dulu terasa begitu lama dan membosankan, kini terasa sebentar saja. Mungkin karena Rogayah menyertai perjalananku. Kalau begini, sepuluh hari sepuluh malam pun dalam perjalanan, aku sanggup, karena ada teman penghibur.

Kapal yang kami tumpang mendarat di Pekanbaru menjelang fajar. Para penumpang memutuskan untuk turun ke darat setelah hari benar-benar siang.

Sang fajar berlalu, diiringi intipan sang surya di ufuk timur. Para penumpang kabur satu persatu. Aku memegang tangan Rogayah untuk sama-sama turun ke darat.

Setelah kami tegak di darat dan membereskan semua peralatan, tiba-tiba…..

“Hey Rog!” seorang pemuda ngganteng mengendarai skuter Bajaj menghampiri kami. Aku dan Rogayah saling berpandangan. Rasa cemburu menyelinap di seluruh tubuhku.

“Maaf, ya Kantan! Dia teman sekelasku.”

Rogayah segera bertenggek ke jok belakang skuter itu.

“Da … dag, Tan!”

“Huh, sialan kau Rogayah, tepat dugaanku. Benar-benar kau jadikan umpan pelurumu aku. Pandai kau bersandiwara. Pertolonganku selama dalam perjalanan itu kau lupakan begitu saja” begitu bisik hatiku.

Aku mengumpat habis-habisan, Rogayah berlalu, bersama hilangnya deru skuter itu.

Oh, nasib-nasib! Untunglah aku belum begitu terlanjur mencintainya. Dengan langkah gontai, lesu dan tak bersemangat, aku berjalan ke simpang Tanjung Datuk, untuk mencari oplet pulang ke rumah. Kalau begini rasanya lemah badan, satu peti pun dimakan Hemaviton tak bakalan sembuh.

Agaknya memang, itulah nasibku, affairku bersama Rogayah dalam perkiraan abadi sampai akhir nanti, ternyata kandas sebelum pengorbananku terlalu besar. Syukurlah!***