jump to navigation

Tumbuhkan Profesionalisme Lewat Organisasi Profesi Desember 27, 2008

Posted by cafestudi061 in Pendidikan.
trackback


Jakarta, Kompas – Termarjinalkannya para guru honorer, belum menentunya nasib para guru bantu, mentradisinya pungutan liar pada waktu kenaikan pangkat, dan rendahnya kualitas guru hendaknya menjadi kegelisahan kolektif insan kependidikan di Tanah Air. Salah satu cara meretas rangkaian kegundahan itu adalah dengan membangun solidaritas melalui organisasi profesi.
Wacana itu mengemuka dalam acara pembentukan Serikat Guru Indonesia (SeGI) Kabupaten Garut, Jawa Barat, Sabtu (9/12). Organisasi tersebut diharapkan menjadi organisasi alternatif bagi para guru. Sebab, seperti yang diamanatkan Undang-Undang Guru dan Dosen pada Pasal 41, guru wajib menjadi anggota salah satu organisasi profesi.
SeGI menghimpun unsur guru secara luas, antara lain mencakup ustadz, penggiat pendidikan, pegawai negeri sipil (PNS), kepala sekolah, guru honorer dan para guru bantu, LSM pendidikan, dan dewan pendidikan. Dalam musyawarah yang dihadiri sekitar 50 peserta tersebut, terpilih formatur yang terdiri atas Imam Taufik (Ketua), Deny Suwarja (Sekretaris), Asep Kahfi (Bendahara), Debiyani (Biro Advokasi), Asep Tio (Humas), dan Anwar Mustofa (Kesekretariatan).
Ketika dihubungi, Deny Suwarja mengatakan, organisasi tersebut diharapkan dapat menjadi lembaga yang bisa menjawab permasalahan para guru yang tidak terakomodasi oleh organisasi profesi keguruan yang lebih dahulu terbentuk.
“Terpinggirkannya guru honorer, belum menentunya nasib para guru bantu, serta masih munculnya berbagai pungutan liar pada waktu kenaikan pangkat, ditambah rendahnya SDM para guru merupakan beberapa permasalahan yang menjadi pekerjaan rumah bagi SeGI. Saya yakin masalah-masalah seperti itu menjadi universal bagi insan kependidikan di Tanah Air,” ujar Deny.
Pada kesempatan itu langsung tercuatkan program kerja, di antaranya monitoring penerimaan calon PNS, perjuangan peningkatan honor guru dan tunjangan daerah untuk para guru, serta beberapa rekomendasi yang ditujukan kepada para wakil rakyat, pihak birokrasi. Juga usulan peningkatan profesionalitas para guru dengan melakukan pelatihan penulisan karya ilmiah, pelatihan teknologi informasi dan komunikasi, serta menyelenggarakan berbagai seminar dan bentuk pelatihan lainnya.
Perkuat posisi tawar
Para peserta musyawarah berharap dengan munculnya SeGI di Kabupaten Garut ini akan diikuti dengan kemunculan organisasi serupa di Indonesia. Dengan demikian, para guru dapat lebih berdaya dan mempunyai posisi tawar yang lebih bermartabat.
“Semoga dengan adanya SeGI ini bisa memperjuangkan gaji para guru honorer atau para penggiat pendidikan yang mempunyai kepedulian terhadap pendidikan, tapi selama ini tidak mendapat perhatian pemerintah. Misalnya, honor saya selama ini hanya Rp 75.000 per bulan,” kata Miljam, salah satu guru honorer di sebuah SMP negeri di Garut, yang mengikuti musyawarah tersebut atas biaya sendiri.
Jamiludin, guru honorer lainnya, mengisahkan bahwa honor yang sebesar itu pun selama ini harus direlakan dipotong iuran PGRI sebesar Rp 1000 per bulan. Padahal, ia mengaku dirinya bukan anggota PGRI. (NAR)

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: