jump to navigation

Tahun baru, terakhirku… Desember 23, 2008

Posted by cafestudi061 in Artikel Remaja.
trackback

Oleh. Stephanie Angelica

Julio menangis, kak Nina juga. Mama menangis di pelukan papa. Aku…entahlah. Aku tidak tahu kenapa aku tidak menangis. Padahal, hatiku terasa begitu sakit, remuk, dan hancur berkeping-keping. Lalu kenapa aku tidak bisa menangisi kepergian Luci, saudara kembarku? Kenapa aku ini. Luci yang selalu ceria, Luci yang selalu tertawa, Luci yang pintar, Luci yang kuat, Luci yang selalu menghiburku, kini sudah tidak ada lagi. Aku ingat, dulu Luci selalu berkata kepadaku, “ Jangan menangisi yang sudah nggak ada. Toh mereka nggak bakalan balik lagi…”. Kalimat yang kudengar ketika aku menangisi anak anjingku, mati.
Kak Nina memelukku, seolah-olah berkata, “ kamu Luci. Luci dalam tubuh Sari!”. Julio menatapku dengan mata sembab. Aku membalas pelukan kak Nina. Dan air mataku mulai mengalir. Kembaranku…Luci tidak akan pernah kembali lagi.
Lima minggu sejak kepergian Luci, kami sekeluarga liburan ke Bali. Aku tahu keluargaku sudah merelakan kepergian Luci. Tapi bagaimana denganku? Aku yang ada hubungan batin, aku yang mempunyai tubuh dan wajah yang sama dengan Luci. Mungkin karena itu, aku selalu bermimpi, Luci memanggil-manggilku dan mengajakku ke dunianya. Dunia di mana kami tidak merasakan perbedaan, dunia tempat kami tak merasakan sakit, dunia yang tidak akan memisahkan aku dan Luci. Tapi kenapa? Kenapa saat tanganku hampir meraih tangan Luci, wajah mama, papa, kak Nina dan Julio, muncul? Mereka tampak sangat sedih. Bahkan menangis. Aku mendesah.
“ Kenapa, dek? Sakit ya?” tanya kak Nina yang duduk di sampingku. Aku menggelengkan kepalaku.
“ Cerita aja nak, kami siap mendengarkan…” ujar papa, sambil memperhatikan jalan. Julio berhenti memainkan game boy-nya. Papa langsung menghentikan mobil tepat di parkiran sebuah mini market. Mama dan papa melihat ke belakang. Kak Nina dan Julio menatapku tajam. Mama dan papa saling tukar pandang. “ Kalau gitu, mama dan papa cari makanan dulu. Baru kamu bercerita…” ujar mama. Aku mengangguk. Julio minta ikut sedangkan kak Nina menemaniku. Begitu mama, papa dan Julio memasuki mini market, kak Nina langsung mengintrogasiku. “ Cerita aja, dek. Atau nggak…kakak gelitikin!” ancam kak Nina, mengambil ancang-ancang untuk menggelitikku. Baiklah, aku menyerah. Aku menceritakan seluruh mimpiku. Tidak kurang dan juga tidak lebih. Kak Nina langsung tercengang begitu ceritaku selesai.
“ Kak…kakak nggak pa-pa?” tanyaku, mengguncang-guncang tubuh kak Nina. Kak Nina langsung tersadarkan. Dia menelan air ludahnya. Lalu memegang pundakku dengan kedua tangannya. “ Apa pun yang terjadi, kamu jangan sampai menyentuh tangan Luci…! Ngerti!”
“ Tapi kak…aku…”
“ Nggak ada tapi-tapian! Pokoknya nggak boleh!” kak Nina langsung mendengus. Entah kesal atau bagaimana, aku kurang tahu. Spontan aku memeluk kak Nina, “ Aku kangen sama Luci kak…mungkin saat ini aku nggak menyentuh tangannya. Tapi kalau dia terus mendatangiku, gimana? Aku pasti nggak bisa menolak ajakannya….” Aku mulai menangis. Kak Nina mengelus-elus kepalaku. Desahan nafasnya terdengar jelas di telingaku. Kak Nina mulai menangis.
“ Cukup kami kehilangan Luci, kami nggak mau kehilangan kamu sari. Cukup hanya Luci saja. Apa kamu mengerti…?” tanya kak Nina. Aku melepaskan pelukannya. Dan menghapus air mata yang mengalir ke pipinya. “ Aku…aku sayang sama mama, papa, kakak, dan Julio. Tapi aku nggak bisa membiarkan Luci sendirian, kak. Dia butuh aku…” jelasku.
Kak Nina menggelengkan kepalanya, lalu memegang kedua pipiku. “ Dengar kakak baik-baik, Ri. Kamu nggak usah ikuti kemauan Luci, dia pasti senang tinggal di sana. Nanti biar kita menyusulnya bersama-sama. Dengan begitu kita bisa berkumpul lagi…” ujar kak Nina
“ Astaga! Kakak tuh bego banget ya! Kalau kita perginya bareng-bareng, entar yang ada terlalu ramai. Kalau aku aja yang pergi, apa masalahnya sih, kak?” aku langsung turun dari mobil. Memandangi keindahan pantai dari tempat aku berdiri. “ Sari!!!!!!!!!!!!!” mama dan papa memanggilku, sedangkan Julio asyik memakan es krimnya. Papa berlari mendahului mama. Menggendongku. “ Pa! lepasin aku!” aku meronta-ronta. Khan malu, sudah dua belas tahun tapi masih digendong orang tua.
“ Kamu ngapain diri di pinggir jalan?!” tanya papa, sedikit emosi. Entah kenapa, aku merasa kepalaku kosong. Dan aku mau berbagi tubuh dengan Luci. “ Emangnya, nggak boleh pa? Apa papa takut, kalau Sari menyusulku?” mulutku yang bergerak, tapi Luci yang mengatakannya. Papa menatapku, lalu menurunkanku tepat di samping mobil. Mama menggendong Julio sedangkan kak Nina berdiri di samping mama. Mereka semua memperhatikanku tepatnya aku dan Luci.
“ Sari…kamu barusan ngomong apa?” tanya papa. Aku menatap mereka satu per satu, “ emangnya aku barusan ngomong apa?” tanyaku, balik. Aku menelan air ludahku.
“ Aku ingin Sari ikut bersamaku, bolehkan, papi?” kali ini Luci yang angkat bicara. Papa langsung menatap mama. “ Luci…kamukah itu?” tanya mama. Aku tersenyum atau tepatnya Luci yang tersenyum.
“ Bener! Ini aku, Luci dalam tubuh Sari. Mami…Papi…Lio…dan kak Ina. Bukankah aku yang memanggil kalian. Aku dari dulu selalu mengalah untuk Sari. Hanya karena aku yang lahir duluan…aku juga harus berbagi tempat dengan kak Ina. Aku harus membagi makanan untuk Lio. Sekarang apa aku salah membawa Sari, pergi?” tanya Luci, dengan mata berkaca-kaca. Mama dan papa menundukan kepalanya.
“ Kak…Luci…” Lio menjatuhkan es krimnya. Luci tersenyum. Aku…aku semakin lemah, sekarang tubuhku dikuasai oleh Luci. “ Tapi Luci, apa kamu tahu kalau sari juga selalu mengalah untuk kamu? Ketika kamu dibelikan mainan atau tas baru, apa kamu pernah melihat Sari meminta barang yang sama pada mama dan papa? Ketika Sari dibelikan sepatu baru dan kamu tidak. Kamu meraung-raung pengen dibelikan sepatu yang sama. Akhirnya, Sari memberikan sepatunya pada kamu. Apa kamu masih merasa kamu yang paling baik? Ayo jawab!” kak Nina terlihat emosi. Papa mengelus-elus punggung kak Nina.
Luci menundukan kepalanya. “ Ma…pa…aku…aku minta maaf…” kali ini giliranku yang bicara. “ Sebenarnya, aku…aku entahlah, entah bagaimana pun aku mau menemani Luci. Izinkan aku…lagi pula, kanker yang kuderita sudah menyebar….”.
Mama langsung memelukku, “ Nggak! Nggak boleh! Lagi pula sejak kapan kamu punya kanker?!”
Aku tersenyum, “ Waktu itu ada dokter kesehatan yang datang ke sekolah untuk memeriksa kesehatan kami. Mungkin…hanya Luci yang mengatakan kalau dia menderita kanker. Sebenarnya, aku juga. Aku berusaha menghilangkan jejak. Menghapus darah yang keluar dari hidungku, merobek kertas keterangan dokter, dan sebagainya…” jelasku. Papa, kak Nina dan Julio mendekat lalu memelukku.
“ Baiklah, aku harus membawa Sari. Mami, Papi, kak Ina, dan Lio…maafkan aku ya…aku tadi sudah berkata kasar. Maafkan juga aku datang dan akhirnya membawa pergi Sari…” ujar Luci. Mama, papa, kak Nina dan Julio mengangguk sambil menangis. “ Selamat tahun baru! Dan…selamat berpisah…” ujarku dan Luci. Kak Nina menggengam tanganku, “ Selamat ulang tahun…Luci…Sari…” katanya. Aku dan Luci tersentak. Selama ini…kak Nina selalu lupa ulang tahun kami, sekarang…rasanya senang sekali. Luci tersenyum padaku, aku menganggukan kepalaku. Tepat dihari itu, aku pergi ke dunia Luci. Luci menggenggam tanganku dengan erat. Sama seperti yang ia lakukan disaat aku kesepian dulu.
~*~

Cafestudi061

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: