jump to navigation

Anjing Desember 23, 2008

Posted by cafestudi061 in Opini.
trackback

Kalau kata ini disampaikan dan diucapkan di depan seseorang atau siapa saja yang menyuarakan kata tersebut, pasti orang tersebut akan tersungging, eh, maksudnya tersinggung. Entah mengapa ini bisa terjadi. Apakah perasaan orang tersebut sangat sensitife dengan kata anjing atau telinga yang mendengarkan hal itu menjadi gerah atau hatinya menjadi marah menandakan tidak senang mendengar kata anjing, entahlah.
Lain lagi pada kumpulan anak-anak belakang ( baca anak berandal di sekolahan ) atau pada kumpulan preman-preman di terminal-terminal oplet atau di terminal bus. Kata anjing sudah menjadi sarapan dan santapan keseharian mulut dan telinga mereka. Apa saja yang mereka rasa, senang, tidak senang, suka atau tidak suka, marah atau sekedar menyapa saja, dengan santai mereka ucapkan kata ‘anjing’.
Yang namanya anjing sebenarnya adalah jenis hewan buas yang dengan penuh kesabaran dan ketelatenan pemiliknya yang memeliharanya dapat mengubah sifat buas anjing tersebut, menjadi seekor hewan yang berguna bagi pemiliknya. Hewan ini jenis binatang yang setia, loh. Bahkan dia, lebih setia dari majikannya sendiri. Sungguh luar biasa.
Beberapa waktu yang lalu di Bali dijangkiti penyakit gila anjing atau anjing gila. Penyakit yang ditularkan oleh anjing ini sangat mempengaruhi jumlah kunjungan wisatawan ke pulau Dewata. Entah mengapa dan bagaimana sampai timbul penyakit pada anjing ini dan banyak berjangkit di Bali. Penyakit anjing gila ini biasa dikenal dengan nama rabies. Jangan salah, rabies ini bisa membuat nyali para turis mancanegara ciut. Pengaruhnya hampir menyaingi kekawatiran para turis datang ke Bali setelah terjadinya bom Bali 1 dan bom Bali 2. Ondeee,,,,???
Padahal, sebenarnya anjing adalah salah satu hewan yang dalam kitab-kitab suci dari keyakinan yang ada dianut di dunia ini mendapat tempat dan mungkin memiliki tiket di salah satu ruang di akhirat untuk bersanding dengan para penghuni surga. Sedangkan dilain pihak sebenarnya ada banyak ‘anjing’ yang berkaki dua seenaknya memakan dengan lahap uang rakyat yang telah memilihnya. Bahkan ‘anjing-anjing’ ini sangat rakus, dengan bangga dan tersenyum sumringah melangkah penuh bangga ketika ‘anjing-anjing’ ini digiring sebagai tersangka masuk ke ruang pengadilan, di mana persidangan itu sesungguhnya kasus merekayang disidangkan. Dan pengadilan tersebut dipimpin oleh para hakim-hakim yang mulia.
Kalaulah anjing bisa ngomong, mungkin dia bisa berkata: “Sesungguhnya akulah yang disebut manusia, tetapi manusia memanggilku anjing. Aku adalah anjing yang meskipun suka terhadap kotoran, tetapi aku, anjing yang tidak pernah mau mengorupsi dan merampas uang rakyatku sendiri”.
Kata anjing sekali lagi, “Kalaulah nanti aku bertemu dengan mereka di surga aku akan tuntut sang Pencipta, mengapa aku di dudukkan bersama dengan manusia-manusia ini, sedangkan mereka itu sebenarnya adalah ‘anjing-anjing’ yang suka memakan kotorannya sendiri“. Tetapi, aku hanyalah seekor anjing yang hanya bisa menggonggong dan kafilah dengan santainya berlalu.
Nah, sekarang siapa sebenarnya kafilah itu ? Apakah manusia yang suka mengambil dan mencuri, serta mengorupsi uang rakyat yang dipimpinnya itu, disebut kafilah ?. Atau aku, yang manusia itu sering menyebutku ‘anjing’ dan seharusnya akulah kafilah ?
Entahlah, aku sendiri tidak tahu. Apakah aku yang dapat membaca dan menulis, berselancar menggunakan internet dengan klik mouse sana, klik mouse sini dan tekan tuts keyboard adalah ‘anjing-anjing’ itu ? Tetapi, aku berharap bahwa aku adalah manusia yang sesungguhnya.
Kalaulah aku manusia dan dapat menjadi pemimpin, aku ingin sekali menolong siapa saja yang seharusnya mendapat pertolongan dariku. Bukan malah memangsan, merampok, menyantap dan menghisap habis seluruh kepunyaannya, sehingga manusia-manusia itu tidak punya apa-apa lagi. Tinggal sebatang kara. Menjadi manusia hina. Tinggallah aku sendiri.
Apakah aku sebagai manusia yang disebut dengan kata anjing, atau aku adalah ‘anjing-anjing’ itu, atau anjing yang menggunakan pakaian manusia ? Manusia berpakaian terhormat, apakah aku sebagai pejabat, dengan kedudukan terhormat, yang mungkin gila hormat, atau yang suka menyikat habis kepunyaan rakyat .
Entahlah, yang jelas itu bukan budaya dari bangsaku, jelas korupsi itu bukan budaya, ya, bukan pula kebiasaan dari bangsa anjing. Tapi kini aku tinggal sendiri. Tinggal termenung di dalam ruang yang penuh sesak.pengap dan di kelilingi terali besi. Ya, aku patut disebut dengan ‘anjing-anjing’ itu. Aku bukan lagi manusia.
Biarlah semua ini menjadi satu pesan buat siapa saja yang baca. Apakah dia para pemimpin atau caleg-caleg yang akan berlaga di tahun 2009 yang akan datang. Mereka pasti tidak mau menjadi ‘anjing-anjing’ yang dengan buasnya melahap uang rakyat yang telah memilih mereka. Anjing berkata: “Ah, mana mungkin ?”
Mudah-mudahan tulisan anjing ini menjadi sesuatu yang mengubah kebuasanmu menjadi manusia yang sesungguhnya bukan anjing yang sebenarnya.

Cafestudi061

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: