jump to navigation

Mengapa Harus Malu September 16, 2008

Posted by cafestudi061 in Cerpen.
trackback

I am very happy when I read my short story was publish in cafestudi061’s weblog the friendly blog. Bravo,.. bravo to may friend said Syaiful Pandu. I thing this make me happy too. I hope for all friend has read this, please give your comment. Thanks see in the next story. Nice to meet you again.

Genta, Minggu III Oktober 1983

KALAU berbicara mengenai nasib atau jalur hidup anak manusia, memang absurd sekali. Sulit ditebak apa jadinya. Ada orang yang ditakdirkan kaya raya, ada yang miskin kepapa. Ada yang berbahagia dan ada pula penuh duka, dan ada-ada saja.

Coba bayangkan! Dalam usiaku yang baru mau menginjak  keempat belas ini, aku sudah harus memikirkan periuk nasi dan asap dapur keluarga. Padahal anak-anak sebayaku hari-harinya penuh perlindungan. Perlindungan menyeluruh. Sebentar lagi kalau sudah remaja, masa remajanya penuh romansa. Yakh ….  itulah nasib. Barangkali nasibkulah yang belum beruntung. Tapi terus terang, aku tidak mau kalau aku ini dikatakan sebagai orang yang “merugi” seperti merugi yang dimaksud dalam ayat; Wal asri, Innal insanalafi qusri, itu.

Bila sore menjelang senja, seperti biasanya, aku telah harus hadir di rumah Pak Munasril, pengusaha yang punya gerobak bakso tidak kurang dari tiga belas buah. Setiap gerobak itu diberi oleh Pak Munasril bernomor. Mulai dari nomor 01, 02, 03 dan kosong seterusnya. Yang 07 pendorong gerobaknya adalah aku..

Setiap pendorong gerobak itu, alias penjual bakso Pak Munasril, telah memunyai jalur-jalur tertentu untuk memasarkan baksonya masing-masing. Yang jelas, pada sebuah jalur atau jalan, jarang terdapat pedagang bakso berganda dari produksi yang sama. Karena sore-sore sebelum berangkat, para pedagang bakso ini telah bikin planning, jalan-jalan mana saja yang akan dilewati.

Aku betul-betul merasa sedikit beruntung, karena jalur bagianku tergolong daerah yang “basah” Yakni jalan Bintara. Di sepanjang jalan inilah setiap senja sampai larut malam aku sering mangkal.

Aku memulainya dari jalan Perwira. Kalau nasib lagi mujur, belum lagi pukul 21.00  baksoku sudah habis dan kikis. Berarti aku berkesempatan menikmati acara Dunia dalam Berita di televisi, lewat jendela rumah salah seorang langgananku. Selesai Dunia dalam berita, barulah aku berarak pulang.

Atas anjuran salah seorang pelanggan baksoku, nomor gerobakku agar ditambah satu angka nol lagi. Yang semula bernomor 07, sekarang dijadikan 007. “Biar menjadi  bakso James Bond” katanya sambil berkelakar.

Agar pelanggan tidak kecewa, maka kupenuhi saja anjuran mereka itu. Semenjak itulah mereka mengenalku sebagai tukang bakso James Bond. Meskipun, kata mereka pukulan kentongan baksoku memunyai irama tersendiri. Tanpa melihat pun, di dalam rumah saja malam hari mereka tahu, kalau yang datang adalah gerobak baksoku. Dan memang itu sudah merupakan ciri khasku. Sudah merupakan identitas. Aku setuju kalau identitas itu penting sekali artinya bagi setiap kreativitas. Biar kita dikenal masyarakat. Kata Goenawan Mohamad, setiap kreativitas harus punya identitas, agar kita meninggalkan kesan. Sebab, kata Goenawan, orang yang pergi tanpa kesan, berarti tidak punya fondasi yang kuat untuk bicara tentang dunianya. Aku tidak mengerti maksud Pak Goenawan Mohamad itu.

Kalau direnung-renung, terkadang aku bangga juga menjalani hidupku seperti ini, sebab, dalam usia yang masih begitu muda, aku bisa bekerja membiayai sekolahku. Malah aku telah pula bisa membahagiakan ibuku yang janda dan mulai renta. Yang semula beliau hilir mudik pakai sepeda Hercules tua untuk menjajakan sayur-mayur. Masuk kampung ke luar kota .  Sekarang beliau telah kubebas tugaskan.  Karena sudah berangsur tua, biarlah di rumah saja. Perbanyak berdoa.

Mulanya beliau tidak mau. Alasannya, kalau beliau tidak ada kegiatan, badan rasanya pegal-pegal. Setelah aku bermohon dengan sangat, dengan janji masalah asap dapur aku yang tanggung, dan aku akan tetap sekolah. Beliau luluh. Tetapi tetap saja beliau mencari kegiatan di rumah. Ada-ada saja yang beliau kerjakan. Duduk saja pun beliau menyulam. Minta tolong hanya kalau memasukkan benang ke lubang jarum.

Cuaca sejak siang mendung saja. Matahari menyelinap di balik awan.

Sore hujan rintik-rintik. Senjanya hari semakin gelap. Di belahan barat langit menghitam. Sebenarnya jika hujan gerimis, malam-malam bawaan orang-orang pada ingin makan saja. Utamanya makan bakso atau goreng-gorengan. Ini pengalamanku.

Biasanya, separuh jalan Bintara kurayapi, baksoku sudah habis dibeli pelanggan. Jarang-jarang yang sampai ke ujungnya. Tapi kali ini, hampir aku mencapai ke ujungnya, baksoku masih tersisa. Untunglah keluarga di rumah mewah ujung memanggil-manggil; “Bakso! Bakso!” Maka lempanglah hatiku. Apalagi nampaknya mereka keluarga besar, yang sepertinya akan memborong baksoku. Wow, senangnya.

Astaga, aku melihat salah seorang di antara mereka seperti orang yang sangat kukenal. Dia memelukkan piring ke dadanya. Meskipun dalam cahaya gelap-gelap terang, jelas dan pasti, dia adalah Yanti, teman sekelasku. Heran, entah kekuatan apa yang telah memerintahkan otak bawah sadarku untuk membelokkan gerobakku  180 derajat. Tanpa memberikan sepatah jawaban pun, aku telah berbalik arah menghindar  dari areal tersebut.

Semenjak itu, aku tidak pernah menjejak-jejakkan kakiku lagi di sepanjang jalan Bintara. Daerah operasiku sekarang telah berpindah ke jalan Mustika, yang “gersang” dan “sepi”. Apalagi di malam hari. Rumah-rumah mewah tertutup rapi, seperti tak berpenghuni. Kecuali lampu-lampu taman yang menawan. Mungkin mereka tidak mau jajan sembarangan, seperti makan di warung-warung pinggir jalan. Atau makan di gerobak asongan.

Malam ketujuh aku mangkal di jalan Mustika, terasa benar merosotnya penjualanku. Malah sering tak terjual separuhnya. Seperti malam ini, Hujan dari senja hanya rintik-rintik saja. Tapi malamnya hujan turun begitu derasnya.

Malam sudah pukull 00.00. Baksoku masih membukit. Hujan makin deras juga. Untuk menjaga kesehatan badan, aku berteduh pada sebuah pohon dekat gardu listrik.

Meskipun aku sudah berteduh, namun badan ini tak terhindarkan dari percikan-percikan air. Kaca gerobakku telah suram, kabur karena diterpa tempias hujan.

Pada saat seperti inilah terkadang aku merenung. Mengapa begitu malang nasibku. Tanpa disadari, air suam-suam kuku mengalir lewat pipiku. Menetes bercampur dengan air hujan. Aku menangis. Sungguh sedih hatiku.

Mengapa pula aku harus bersedih, barangkali masih banyak orang yang hidupnya lebih morat-marit dari aku ini.

Jelas itu salahku sendiri. padahal tempo hari, ketika mangkal di jalan Bintara, baksoku begitu laris manis. Majikanku senangnya bukan main. Keuanganku lancer. Tapi bamanalah? Aku malu berjualan bakso di jalan Bintara. Aku malu pada Yanti, teman sekelasku. Namun  jika dipikir-pikir, MENGAPA HARUS MALU???@@@

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: