jump to navigation

Sebuah Ikrar Telah Dilanggar September 15, 2008

Posted by cafestudi061 in Cerpen.
trackback

My friend Syaiful Pandu very happy when he know his short story has publish in my weblog, and he is surprise. And I hope to all reader please share this short story to your friend. Good Day, and Enjoy yourself.

Singgalang Minggu, 19 Juli 1981

 

 

Anak-anak di bawah usianya memanggilnya Da Ijal, termasuk juga aku, memanggil dengan Da Ijal. Tapi bila hatiku sedang kesal kupanggil dia Dajjal. Da atau Uda adalah bahasa kampungku, kalau Uda ini dinasionalisasi itu berarti kakak atau abang. Jadi Da Ijal itu berarti Bang Ijal. Yakh, Da Ijal atau Bang Ijal adalah segala-galanya bagiku, dialah cahaya harapanku. Bukan itu saja, bahkan secara informal Da Ijal telah dianggap sebagai unsur anggota keluarga kami. Ini mungkin saja karena Da Ijal telah banyak berbuat tentang apa saja untuk keluarga kami.

 

Kalau atap rumah yang bocor Da Ijal yang turun tangan. Kalau keluarga kami mengadakan kenduri kecil-kecilan ataupun besar-besaran, Da Ijallah yang jadi sibuk. Bahkan waktu kemarau panjang tahun lalu pernah kami dibuatkan sebuah sumur di belakang rumah dengan kedalaman tidak kurang dari lima meter. Sungguh banyak sekali saham yang telah ditanamkan oleh Da Ijal untuk keluargaku, entah dengan apa harus dibalas.

 

Di dalam kampung kecil ini pun nama Da Ijal cukup harum dan terpandang, baik di bidang sosial maupun organisasi lainnya. Bila senja menjelang, dialah yang terlebih dahulu hadir ke mesjid itu untuk memukul beduk, kemudian diiringi dengan suara azannya yang merdu merayu. Aku dan khalayak ramai hapal benar suara itu.

 

Setiap senja, setiap dia lewat di depan rumahku, tak pernah dia lupa mengingatkan padaku bahwa waktu sembahyang maghrib telah masuk. Masih terngiang-ngiang di telingaku suaranya yang bariton itu,

“Hai Wandaty, waktu sembahyang sudah di ambang jendela, sembahyang berjamaah yuk!!” , begitu seringkali Da Ijal mengajakku. Ayah dan emakku juga ikut-ikutan memberitahu. Meskipun begitu aku jarang sekali berjalan beriringan berdua bersama Da Ijal, walau ke mesjid sekalipun. Hal ini karena lingkunganku menganggapnya masih tabu dan janggal. Kolot sekali, ya!

 

Aku hanya menyusul saja dari belakang untuk pergi ke mesjid Al-Ishlah itu. Kecuali kalau suatu kebetulan barulah aku jalan bersama-sama dengannya. Sebenarnya terus terang saja, suasana jalan bergandengan seperti ini selalu dalam anganku. Tapi harap maklum kita orang Timur. Da Ijal kalau kangen dia langsung saja bertamu ke rumahku, menjumpai ayah dan emakku. Memang gentleman dia. Dan setelah mendapat restu barulah berbincang-bincang denganku. Ayah dan emakku mundur teratur ke belakang. Bersyukur juga aku punya orangtua yang memiliki pengertian, dan tahu kebutuhan primer kaum remaja seperti kami ini.

 

Tapi di akhir-akhir ini, kedatangan Da Ijal ke rumah ada pembatasan. Tapi tidak tertutup sama sekali. Atas inisiatif ayah dan demi sekuriti kami bersama ayah menganjurkan pada Da Ijal. Kedatangannya ke rumah supaya dikurangi dan dibatasi. Karena sudah ada beberapa fenomen dari gelagat para tetangga untuk memorak-porandakan hubungan silaturahmi antara Da Ijal denganku beserta keluarga.

Mereka-mereka itu menyebarkan berbagai macam fitnah. Mereka katakan keluarga kami telah memperalat tenaganya Da Ijal. Mereka katakan aku dan Da Ijal berbuat yang tidak-tidak. Dan macam-macam fitnahan yang lainnya. Pokoknya variatiflah. Tapi yang sebenarnya terjadi, sungguh Tuhanlah yang Maha Tahu. Yang jelas kami tidak pernah melakukan hal yang tidak-tidak, yang namanya melanggar norma-norma adat apalagi agama.

 

Semenjak itulah, aku dan Da Ijal jadi jarang untuk mengadakan pertemuan. Ditambah pula belakangan ini Da Ijal sibuk menghadapi pelajaran untuk menyelesaikan studinya, sementara aku juga sibuk menghadapi ujian kenaikan kelas.

 

Menurut Da Ijal dalam penuturannya padaku, dia akan melanjutkan studinya ke IKIP. Aku dan Da Ijal memang mempunyai cita-cita yang sama dalam memilih karir. Yaitu sama-sama kelak akan mengabdikan diri kepada anak didik. Kami akan berbahagia sekali mempunyai status dan profesi sebagai guru. Mudah-mudahan Tuhan mengabulkan iktikad kami yang suci ini.

 

Berkat doa Da Ijal dan barangkali mungkin karena ditopang juga oleh doaku, dia berhasil lulus dalam menempuh ujian  penyaringan untuk dicatat sebagai mahasiswa di IKIP.

 

Tak pelak lagi antara aku dan Da Ijal akan berpisah dalam waktu beberapa tahun. Terus-terang, aku betul-betul keberatan menghadapi kenyataan ini, aku ogah berpisah dengan Da Ijal, aku enggan ditinggal olehnya. Tapi yakh, demi masa depan kami, aku rela dan aku harus sanggup berpisah dengan Da Ijal.

 

Suatu hari menjelang keberangkatannya, di bawah pohon kedondong di belakang rumahku Da Ijal menguber janjinya padaku.

“Percayalah Wandaty, perpisahan kita ini bersifat sementara saja, demi masa depan kita-kita juga. Kuharap engkau tawakal menghadapinya. Nanti kalau kuliahku telah rampung, kita akan segera membangun rumah tangga, akan kita dirikan mahligai bahagia yang dilandasi dengan fondasi yang kokoh berdasarkan cinta kita yang tulus dan suci”, begitu tutur Da Ijal dengan mimik yang meyakinkan padaku. Dan pesannya lagi,

“Rajin-rajinlah belajar, nanti kalau aku Sarjana Muda, Wandaty tamat SPG. Aku mengajar di SLA, Wanda mengajar di SD. Kita sama-sama mengajar dan kita akan mendapatkan in come berganda”. begitu Da Ijal menitipkan harapan padaku. Oh alangkah indahnya ketika itu. Tapi apakah itu hanya fatamorgana? Entahlah. Wallahu alam bisshawab.

 

Walaupun aku belum resmi menjadi milik Da Ijal.  Walau aku belum istrinya yang sah; namun sewaktu keberangkatannya tempo hari, sebuah sun telah kuhadiahkan padanya. Kuhinggapkan tepat di pipi kirinya. Kulihat kebahagiaan terpancar di wajah Da Ijal. Dan terkadang pun aku sudah merasa bahagia, karena dapat membahagiakan seseorang pada saat-saat yang mengharukan, seperti perpisahan ini misalnya.

 

Minggu-minggu pertama aku memang merasa kehilangannya untunglah tiga kali dalam sebulan surat-suratnya selalu mengunjungiku. Begitu pula aku sebaliknya. Surat-surat Da Ijal betul-betul berfungsi sebagai penghibur di kala sunyi menyelimuti diri. Di akhir setiap suratnya tak pernah Da Ijal lupa menyelipkan sepotong kalimat, “Peluk rindu untukmu Wanda”.

 

Setiap hari ingatanku selalu pada Da Ijal, dan selalu menyita seluruh perhatianku. Tapi semua itu bisa kuatasi dengan jalan mencurahkan perhatian sepenuhnya pada pelajaran. Sudah memasuki tahun kedua Da Ijal berpisah denganku. Pertemuan hanya melalui surat-surat belaka. Meski keinginan untuk bertemu muka sungguh memuncak sekali.

Begitulah. Detik, menit, jam, hari dan bulan terus merayap. Memang lamban tapi jelas dan tegas. Suasanapun jadi ikut-ikutan berubah dan berganti. Sebuah malapetaka dalam batinku telah menimpa diriku. Apalagi persoalannya kalau bukan skandal hubungan antara aku dan Da Ijal. Heran aku jadinya, mengapa belakangan ini Da Ijal jadi jarang menyuratiku. Dari jarang malah akhirnya sampai tidak ada sama sekali. Padahal sudah dua tiga surat kulayangkan. Terakhir ini pernah pula aku susulkan dengan sebuah telegram indah. Usahaku yang terakhir inilah yang bisa menggugah hatinya untuk memberitahukan peristiwa apa sebenarnya yang sedang terjadi.

.

Isi surat Da Ijal benar-benar membuat aku heran tak mengerti. Dan yang lebih menjadi tanda tanya, yaitu pada alinea terakhir isi suratnya yang kuterima seminggu yang lalu. Katanya

“Pesanku padamu Wandaty, hati-hatilah mengoleksi teman priamu, ya!. Maklumlah pria jaman sekarang sukar sekali ditebak isi hatinya. Hari ini cinta besok-besoknya belum tentu. Untuk teman pendampingmu kelak, tek perlu yang ganteng atau yang kaya, yang penting setia. Dan selamat belajar, doaku selalu menyertaimu”. Itulah isi dan inti alinea terakhir surat Da Ijal padaku.

 

Aku betul-betul tak habis pikir atas semua ini. Oh, mengapa jadi begini akhirnya. Mungkinkah Da Ijal telah berpaling dari aku ini. Semudah itukah. Kalau tak ada apa-apanya tidak mungkin isi suratnya sampai bernada-nada demikian. Mungkinkah telah ada aku yang lain di hatinya. Kalau saja firasatku ini benar, tindakan apa yang harus aku lakukan.

 

Dalam hal ini aku tidak akan terlalu banyak menuntut. Hanya satu saja doaku pada Tuhan, mudah-mudahan aku berhasil lulus dalam menempuh ujian terakhir dalam bulan ini. Kalau aku lulus, tentu aku kan segera diangkat sebagai guru, dengan jalan ini segala kesibukan sebagai ibu guru akan dapat menyita seluruh perhatianku untuk melupakan Da Ijal.

 

Apa yang menjadi beban batin dan menjadi tanda tanya selama ini semuanya telah terjawab. Dalam libur semester kemarin Da Ijal telah menyempatkan dirinya untuk beranjangsana ke kampung, dengan menggiring seorang dara yang rupawan. Semua orang kampung juga memberikan informasi mengenai hal ini padaku. Dan aku telah mengambil suatu alternatif untuk tidak menemui Da Ijal. Karena aku telah mencap serta memvonisnya sebagai seorang yang telah ingkar janji. Dia telah mengkhianati cintaku yang begitu tulus dan agung.

 

Suatu hari tanpa kuduga dan sengaja, sewaktu pulang dari kebun aku telah bertemu pandang pada jalan setapak dengannya beserta gadisnya itu. Pertemuan ini merupakan sesuatu yang tak sengaja.

 

“Hai, Wanda, ke mana saja engkau dalam beberapa hari ini, kok tidak nongol ke rumah?” katanya. “Hmm, selama ini kau yang sering bertandang ke rumahku.” begitu kata hatiku. Lanjutnya lagi;

“Ini kenalkan, teman sekuliahku. Kalau tak ada aral melintang tahun depan kami akan bertunangan”. Dengan emosi yang terkendali kuulurkan tanganku dan kujabat tangannya yang lembut itu, maklum gadis kota, tak pernah memegang alat-alat berat seperti golok, cangkul, dan lain-lainnya.

“Wandaty”, kataku memerkenalkan diri”

“Mince, dengan ejaan lama”, balasnya.

 

Mulai saat itu (entah sampai kapan) dendam dan sakit hatiku pada Da Ijal betul-betul pada kondisi puncaknya. Tapi untunglah Tuhan memberi aku ketawakalan yang dalam. Semua malapetaka yang menimpa diri kuhadapi dengan dada lapang dan dengan jiwa yang lumayan besarnya. Seharusnya aku frustrasi, tapi aku sadar, hidup ini bukan hanya ini hari saja. Yang menjadi pikiranku kini adalah apakah semua lelaki seperti Da Ijal ini. Semudah dia membuat ikrar, semudah itu pula dia melanggar. Da Ijal oh Da Ijal. Engkau benar-benar Dajjal. @@@

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: