jump to navigation

Perkenalan September 15, 2008

Posted by cafestudi061 in Cerpen.
trackback

Hi, friend said Syaiful Pandu, Bravo, I very happy, and full surpraise because my short story was publish and posting in cafestudi061’s weblog. Thanks brother. Get success and fell healthy to you. Please read this my story.

Haluan Minggu,  6 Febriari 1983

SUASANA di areal kampus Universitas Riau pagi ini belum begitu riuh. Malah bolehlah dikategorikan masih sunyi, sunyi sekali. Beberapa ruangan sedang dimanfaatkan oleh mahasiswa–mahasiswi yang kuliah pagi ini. Yakni yang kuliah pukul 07.00. Sekarang baru pukul 07.30. Seandainya hari sudah siang, pastilah suasananya akan jadi lain. Pasti akan riuh rendah oleh suara tawa para pengemis ilmu (baca mahasiswa) dan ditingkah pula oleh deru berbagai jenis kendaraan roda dua dan roda empat. Kalau deru sepeda, bukan hanya tidak kedengaran, malah tidak kelihatan lagi wujudnya. Sayang, mengapa calon-calon intelektual kita begitu enggan naik sepeda akhir-akhir ini. Padahal sepeda itu selain hemat, juga membuat badan kita jadi sehat.

Matahari terus saja merangkak, meninggi. Seakan ingin mencapai awan yang paling tinggi. Padahal bukanlah begitu logikanya.dia hanya menjalankan tugasnya dalam dua puluh empat jam nonstop. Entah sampai kapan matahari ini tetap setia melaksanakan tugasnya. Barangkali sampai dunia kiamat.

Sebagaimana halnya matahari, merangkak, begitu pula para mahasiswa Universitas Riau. Memang tidak merangkak, tapi merayap pakai sepeda motor. Sedikit sekali yang datang dengan mengayunkan dengkul, alias jalan kaki. Indonesia kita kan sudah hampir mencapai makmur sekarang, Mana ada mahasiswa yang jalan kaki pergi kuliah. Kalaupun ada, itu, toh mengada-ada, dan tidak bisa dijadikan alasan untuk mengurangi arti kemakmuran itu.

Nona Adriyetti mengurangi kecepatan Honda Cup Super 800-nya. Kemudian dengan cekatan dia membelokkan sepeda motornya ke pintu gerbang kampus Universitas Riau. Di pos jaga dekat pintu gerbang itu kasak kusuk dua orang anggota Menwa. Nampak-nampak tengah memersiapkan permainan catur. Sebuah senyuman simpul telah dilemparkan oleh nona Adriyetti kepada mereka berdua. Nampaknya mereka kenal-kenal tanggung.

Honda bebek merah yang dikendarai nona Adriyetti itu langsung saja mengambil tempat parkir yang strategis di bawah pohon akasia. Setiap hari dia memilih tempat parkir di situ, seperti langganan saja.

Dalam jadwalnya nona Adriyetti kuliah pukul delapan 08.15. Sekarang belum pukul 08.00. Jadi dia punya kelebihan waktu sekian menit lagi menjelang perkuliahan Sosiologi Sastra dimulai. Entah nona Adriyetti mengerti bahwa waktu ini adalah uang, entah bagaimana, tak tahulah. Yang jelas waktu yang kelebihan beberapa menit itu langsung saja dihabiskannya di Perpustakaan Pusat Universitas Riau.

Dia berjalan melenggang-lenggok menuju pustaka. Para pegawai pustaka yang berjumlah empat orang itu tengah sibuk mengemasi sebagian buku yang letaknya siperkirakan kurang teratur. Yang seorang lagi sibuk mengipas-ngipas debu dengan pengipas bulu ayam. Nona adriyetti mengambil tempat duduk tidak beberapa jauh dari laci katalog. Di sudut sebelah kanan dua orang pemuda tengah kusuk membaca koran edisi kemarin.

Nona Adriyetti mengeluarka  sebuah buku dari dalam tasnya, dan langsung membacanya. Dua orang pemuda yang diperkirakan tengah kusuk tadi sekarang konsentrasinya telah terbagi dua. Yang sebagian ke berita-berita ringan yang disajikan dalam koran. Sebagian lagi sudah jelas tertuju kepada nona Adriyetti yang berwajah rada-rada penyanyi Irni Basyir itu.

Sayang kedua pemuda itu kurang kuat mempertahankan prinsip dasarnya. Yang semula tengah kusuk membaca koran, tetapi hadirnya seorang kaum hawa membuat mereka jadi berpaling. Acara baca korannya sekarang telah mereka kesampingkan. Dan perhatian telah tertuju seratus persen kepada nona Adriyetti. Mereka tengah memikirkan suatu strategi untuk memulai sesuatu. Katakanlah intersaksi antara mereka.

Acara suit-siutnya segera saja dilancarkan. Memang pada dasarnya wanita dan pria itu sama saja pola tingkah lakunya. Cuma semuanya tergantung situasi dan kondisi. Lelaki kalau sedang sendiri juga tidak mampu berbuat apa-apa. Begitu juga halnya wanita. Baik di jalan, maupun di atas oplet sekalipun, pria dan wanita sama saja cerianya. Itu kalau berkawan. Coba kalau lagi sendirian, dapatlah dibayangkan, tak satu atraksi pun mungkin dapat dilakukan.

Pemuda itu sekarang berdua, tentu dia merasa mempunyai ketahanan mental untuk mengganggu nona Adriyetti. Mesi nona Adriyetti agak sedikit menunduk ke meja karena membaca, namun di baju kaosnya cukup jelas dan gamblang tertulis angka 1828. Langsung saja angka 1828 itu dijadikan materi untuk serangan pertama, sekedar mukadimah memperlancar diplomasi.

“1828, peristiwa apa itu ya?” kata salah seorang di antara pemuda itu.

“1828, itu, kan Sumpah Pemuda” balas kawannya pula.

“Hari Sumpah Pemuda 1928 Mack, bukan 18.. Percuma saja kau IQ tinggi, tapi pelupa” mereka berdebat berdua.

Nona Adriyetti tetap pada posisi semula, seolah tidak terjadi apa-apa. Walau sebenarnya suara kedua pemuda itu cukup lantang kedengarannya. Tapi dia tetap tidak mengacuhkannya. Pemuda-pemuda iseng, untuk apa dilayani, bisik hatinya pula.

“Oya, baru aku ingat, 1828 itu, kan judul sebuah film Nasional yang disutradarai oleh Teguh Karya. Tapi sebelum angka 1828, diembel-embeli dengan kata November. Lengkapnya November 1828.

“Betul-betul” balasnya.

“Ada apa rupanya? Kau penggemar film nasional, ya? Atau malah kau ikut serta sebagai figuran dalam film tersebut?”.

“Kalau tampang memang meyakinkan. Aku nonton film tersebut sampai dua kali. Pertama di bioskop Karya Solok. Kedua di bioskop Lativa Pekanbaru. Tapi, kok ya,  tidak pernah saya melihat tampang pemainnya seperti ini”.

Nona Adriyetti sekarang telah yakin seyakin-yakinnya, bahwa dirinya sedang dituding. Tapi tidak sedikitpun merasa tarpojok. Yang disayangkannya sportivitas kedua pemuda itu. Kalau ingin kenalan, jangan begitu  dong caranya, bisik hatinya lagi.

Nona Adriyetti mengubah sedikit posisi duduknya, sehingga buku yang tengah dibacanya sedikit terangkat. Kedua pemuda tadi melihat sepintas kata Perawan pada cover buku yang dibacanya.

“Waduh, judulnya seram; Perawan! Senang juga baca buku-buku kayak begituan ya” katanya.

Nona Adriyetti pun sudah tidak bisa konsentrasi lagi. Diangkatnya buku tersebut dan diperagakannya sampulnya kepada kedua pemuda itu. Maka jelaslah terlihat SUMAN Hs. Mencari Pencuri Anak Perawan. Nona Adriyetti kembali melanjutkan dan menekuni jalan cerita roman yang katanya semi detektif itu. Kedua pemuda itu masih belum kehabisan bahan baku.

“Mencari Pencuri Anak Perawan. Aku telah membacanya ketika usiaku mencapai enam belas tahun. Sekarang usiaku telah lewat dua puluh empat tahun. Berarti kurang lebih delapan tahun yang lalu aku telah membaca roman. Mencari Pencuri Anak Perawan. Kamu baru membacanya sekarang. Nggak ketinggalan tuh”  katanya sesama dia.

“Kata orang, biarlah ketinggalan daripada tidak dama sekali”

Kekesalan nona Adriyetti sudah sampai pada klimaknya. Dimasukkannya buku itu ke dalam tasnya. Kemudia berdiri. Dengan naluri kewanitaannya ditambah dengan sedikit keyakinan pada diri sendiri, dihampirinya kedua pemuda itu. Dengan gaya berkacak pinggang, persis seperti Mutia Dathau dalam film Malu-Malu Kucing, diberondonginya pemuda itu dengan pertanyaan;

“Kamu apaan, sih maunya? Mengganggu orang saja”.

Kedua pemuda itu sedikit bergidik, terlihat dari gerak-geriknya yang sedikit over acting. Mereka saling bertatap pandang. Barangkali bakal saling menyalahkan. Dalam hati nona Adriyetti tak tertahankan lagi rasanya untuk tertawa. Tapi stabilitas tetap dijaga agar jangan jatuh wibawa.

“Ceritanya, sih mau kenalan?”  kata salah seorang di antaranya.

“Kenalan-kenalan, ya kenalan, tapi jangan begitu dong caranya, aku kan, lagi serius belajar.” kata nona Adriyetti.

Mereka sama-sama mengulurkan tangan.

“Adriyetti”

“Syaiful. Mahasiswa tingkat tiga Fakultas Ekonomi dan lahir 24 tahun yang lalu di Sulitwater.”

Dalam hati nona Adriyetti mau memperpanjang dialognya, tapi segera saja pemuda yang satu lagi mengulurkan tangannya pula.

“Sapto Arbain, lahir di Rantauprapat. Blasteran antara Jawa versus Mandailing. Papa Jawa, mama Nasution.”

“Adriyetti”.

Karena keterangan Syaiful agak merupakan sedikit misteri. Langsung saja pertanyaan diarahkan kepada pemuda tersebut kembali.

“Oh ya, maksud Anda Sulitwater itu, Sulitair”.

“Tepat sekali “.balas Syaiful.

“Ah, bohong. Jangan coba-coba ngibul ya! Aku orang sana lho”.

“Kalau begitu kita sekampung. Di mana Sulitairnya?” kata Syaiful

“Di Kototuo”.

‘Ou, saya tak berapa jauh dari mesjid yang teramat bagus itu”.

“Sering pulang ke Sulitair?” lanjut Syaiful

“Cuma sekali setahun” jawab Adriyetti

“Kalau saya sering, kapan maunya saja. Malah baru-baru ini kami pergi naik sepeda motor. Dan ini Sapto Arbain ikut serta”.

“Hooh iya, kapok, deh aku ke Sulitair. Mungkin itu yang pertama dan terakhir aku ke sana. Habis, waktu mulai naik tanjakan pertama di Singkarak, rantai sepedamotorku putus. Untung cepat dapat diatasi ya, Pul”, kata Sapto Arbain pantang ketinggalan dalam pembicaraaan itu. Syaiful mengangguk dengan sedikit nyengir.

“Sering-seringlah lihat kampung kita ya, Adriyetti! Apalagi bus Merah Sungai ke sana sudah pakai video, asyik gat uh?” kata Syaiful. Nona Adriyetti mengangguk.

“Tapi terus terang Syaiful, ya! Saya mau pulang ke Sulitair bukan lantaran bus Merah Sungai pakai video itu, tapi panggilan hati kecil saya. Kerinduan akan kampung halaman. Nanti bila studi saya rampung, saya bersedia ditugaskan di sana. Kalau perlu saya buat permohonan rangkap tiga, atau rangkap berapa saja”. ucap nona adriyetti sungguh-sungguh.

Jarum jam tangan Bulova nona Adriyetti telah menunjukkan angka delapan lewat lima belas menit. Berarti dia harus meninggalkan lokasi untuk mengikuti kuliah Sosiologi Sastra.

Sebenarnya dalam hatinya keberatan sekali mengakhiri diskusi kilat dengan teman sekampungnya itu. Namun apa daya, dia harus mengikuti kuliah dengan dosen yang punya trade mark killer.

Nona Adriyetti segera mohon diri, sengan perjanjian tak tertulis kapan-kapan bakal disambung lagi dengan wawasan lebih luas.

Bagaimana kelanjutan PERKENALAN ini? Itulah yang sedang diproses pada sebuah proyek imajinasi milik saya pribadi. Pen @@

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: