jump to navigation

Kepergian Ayah September 15, 2008

Posted by cafestudi061 in Cerpen.
trackback

This is short story send to me from my best friend, Syaiful Pandu. He want me to publish and posting his short story to cafestudi061’s weblog. Please read and feel happy and enjoy yourself.

SINGGALANG MINGGU, 5 JULI 1981

Uhuk,uhuk…uhuk…uhuk…uhuk, dst. Batuk ayah semakin menjadi-jadi kudengar dari kamarku. Senyapnya sebentar saja. Jika dibanding antara batuk dan senyapnya, maka jauhlah lebih banyak batuknya. Walau setiap tiga hari sekali ayah tetap hadir di Puskesmas yang terletak di simpang tiga itu.

Jarak antara Puskesmas itu dengan pondok kami, kurang lebih dua kilometer. Biasanya ayah menempuhnya pakai sepeda Fonger tua. Hadiah dari seorang bekas majikan beliau dulu. Ayah pernah bekerja sebagai buruh harian pada perusahaan Semprong Lampu milik majikan beliau itu. Ayah memperoleh sepeda Fonger tua itu oleh karena ketekunan, keuletan serta dedikasi ayah yang menonjol.Tapi ayah sekarang tidak bekerja di sana lagi. Ayah sudah lama mengundurkan diri. Alasannya, kesehatan tidak mengizinkan. Lagi pula sudah beranjak tua.

Untuk kelanjutan hidup kami serta kelancaran asap dapur, ayah mengalihkan usahanya ke bidang lain. Keluarga kami hijrah ke kampong. Membuka areal pertanian yang tidak terlalu luas, tapi cukuplah untuk kesinambungan hidup kami. diselingi pula dengan berternak beberapa ekor ayam ras. Hasilnya bolehlah dikatakan lumayan. Kalau boleh, tidak bicara bohong, income atau penghasilan ayah sekarang ini mungkin empat tingkat di atas gaji beliau sewaktu memburuh dulu.

Meskipun ayah setiap tiga hari sekali tetap pergi ke Puskesmas, namun tidak juga ada tanda-tanda berkurangnya penyakit ayah yang cukup menyiksa itu. Malah batuk ayah menunjukkan gejala semakin seru.

Aku satu kalipun tidak pernah beranggapan bahwa obat-obat yang diberikan oleh mantri di Puskesmas itu tidak punya reaksi atau tidak mempan sama sekali. Hanya saja, aku menyesalkan juga sifat-sifat ayah yang tak acuh itu terhadap kesehatan beliau. Bila sakit beliau sudah gawat baru mau berobat.

Ayah kalau sudah bekerja jadi lupa segala-gala, terutama pada kesehatan beliau. Apalagi setelah ditinggal ibu beberapa tahun yang lalu. Sudah dua tahun ayah mengindap penyakit ini, tapi tiga bukan terakhir inilah keadaannya yang terlalu mengawatirkan.

Bukan hanya pertolongan pertama, bahkan pertolongan untuk yang kesekian kalinya akan selalu kuberikan pada ayah. Kurasa sepanjang usiaku, inilah baru bentuk pengabdianku pada ayah, kapan ayah memerlukan bantuanku, aku segera memberikannya sebatas kemampuan yang kumiliki.

Jam dinding tetangga berdentang sembilan kali. Yakh, baru pukul 21.00 sekarang, tapi, aku mengantuknya tak terkendali, dan mata ini tidak bisa diajak kompromi. Sementara Rita dan Marni, kedua adikku sudah mendengkur dengan nyenyaknya.

PR matematikaku yang harus diserahkan besok ini masih terbengkalai, dan baru separuhnyadikerjakan. Kalau PR ini tidak kuselesaikan pada malam ini, maka esoknya habislah aku disumpah serapahi oleh pak Edwar, guru matematika kami yang galak dan rada-rada tenggen itu. Tapi aku tidak peduli semua itu, apapun risikonya akan kuhadapi. Aku harus menolong ayah.

Kututup semua buku yang berserakan di atas meja itu, termasuk juga PR Matematikanya. Aku melangkah ke sebelah, ke kamar ayah. Daun pintu itu kuketuk-ketuk. Dibarengi dengan teriakan “Ayah,ayah,ayah….ayah” tak ada jawaban. Kuulangi lagi, tetap juga tidak ada jawaban. yang kudengar hanya dentuman batuk ayah yang tanpa variasi intonasi itu. Kupanggil lagi untuk terakhir kalinya. Ayah masih tidak menggubrisnya. Kesabaranku memanggil-manggil ayah sampai sudah pada batasnya.Kukumpulkan segala kekuatan kewanitaanku, kudobrak itu pintu, Aku berhasil membukanya secara paksa. Walau ada efek sampingnya, lututku lecet karena bersentuhan dengan lantai semen yang belum diplaster, tapi sakitnya tak kurasa.Mungin oleh karena seluruh perhatianku telah terbius oleh keadaan ayah.

Kulihat ayah terbaring menelentang di atas dua buah bantal,. Tenang dan sepi, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Padahal barusan saja ayah bertempur dengan batuk kronisnya.

Kurasa juga, baru sekali inilah selama hidupku aku menghardik ayah. Memanggil beliau dengan tekanan suara tinggi. Ini kulakukan karena keadaan memaksa. Karena ayah kupanggil berkali-kali, tapi tidak beliau tanggapi dan sahuti. Kuhampiri ayah, kupegang dahinya dan kugenggam erat tangan beliau, begitu dingin dan berkeringat. ”Ayah, apakah ayah perlu bantuanku?” Masih tetap bisu, kuulangi lagi kalimat itu;

”Ayah…..”

Akhirnya seolah-olah terpaksa ayah mencoba membuka mulut beliau yang terkatup itu.Secara serta-merta;

“Nila! Mana adik-adikmu?” begitu sendu pertanyaan ayah padaku,

“Mereka sudah tidur ayah” , jawabku dengan pandangan curiga.

Aneh sekali gerak-gerik ayah sekali ini, apalagi di malam selarut ini. Mungkinkah ayah akan pergi meninggalkan kami di dunia yang maha fana ini. Oh Tuhan, seandainya firasatku ini benar, aku mohon pada-Mu, tangguhkanlah dahulu keinginan-Mu itu. Sekarang kami sekeluarga masih saja dalam suasana berkabung, karena kepergian ibu kami tiga tahun yang lalu . Hanya semata-mata untuk memenuhu panggilan-Mu, begitu bisik hatiku. Pikiran yang tidak-tidak berkecamuk di benakku.

Atas permintaan ayah, kedua adikku Rita dan Marni kubangunkan. Kami duduk mengelilingi ayah sembari masing-masing kami memijat-mijat anggota tubuh ayah. Pembicaraan ayah melantur sudah ke mana-mana. Dugaanku semakin meyakinkan. Seperti ucapan-ucapan ayah inikah yang disebut-sebut orang sebagai amanah almarhum? Entahlah, aku sendiri tidak mengerti.

“Nila anakku!” lanjut ayah.

“Jagalah adik-adikmu baik-baik! Atasi agar mereka tidak terlunta-lunta kelak. Beritahu juga si Danil, abangmu di Pekanbaru mengenai hal ini. Ayah mungkin tidak dapat lagi bersama-sama di tengah-tengah kalian”. Ucapan ayah ini diselingi dengan batuk berat dan berulang-ulang,

“Ayah akan pergi menyusul ibumu” nafas ayah satu-satu, panjang.Tanpa kusadari air mataku bercucuran melihat perjuangan ayah. Ayah sedang berjuang menantang sakratulmaut.

Setelah kurang lebih tujuh kali beliau menarik napas panjang, kemudian……hop,terhenti. Napas ayah tiada lagi. Oh,secara spontan tangisku berganti menjadi jeritan histeris. Adik-adikku juga ikut-ikutan menjerit. Ayah telah menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Tetangga satu-persatu mulai berdatangan. Akhirnya membanjiri persada perkarangan rumah. Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi.

Kini kami tiga bersaudara terpaku dan mengheningkan cipta di atas seonggokan tanah merah yang masih segar, Di sisi makam ibu, di sini pulalah kini ayah terbaring.

Pada hari ini lengkaplah sudah status kami. Yang semula anak yatim, yakh, sekarang menjadi yatim piatu. Semoga kedua pahlawan keluarga kami ini mendapat tempat yang diredhoi oleh-Nya. Amin!

Dan hari-hari selanjutnya akan kami tempuh tanpa kasih sayang ayah dan ibunda. Oh, mengharukan sekali! @@@

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: