jump to navigation

“Affairku di Sepanjang Sungai Siak” September 15, 2008

Posted by cafestudi061 in Cerpen.
trackback

This is my best friend short story. He want me to publish and posting his short story to all need a read and inspiration to write a short story. Just kiddng, Happy reading. cafestudi061

Genta, Senin, 18 Juni 1979

ANGIN di pelabuhan Tanjung Rhu hari itu tidak terlalu kuat. Bolehkah dikategorikan sepoi-sepoi basah. Yang basah memang bukan anginnya, tapi badan buruh-buruh pelabuhan itu, karena terlalu capek bekerja. Membongkar muat ojol dari truk ke kapal. (ojol, yaitu gumpalan-gumpalan getah sebesar kepala yang belum digiling , Pen.)

Aku duduk memerhatikan buruh-buruh itu di haluan kapal motor Budi Laut, yang tertambat di pelabuhan itu. Yang mana, dengan kapal motor Budi Laut inilah sebentar lagi aku akan berangkat menuju Bengkalis, kota leluhurku.

Para penumpang yang lainnya satu persatu mulai berdatangan. Lama-lama ramai, dan semakin ramai saja.

Bermacam-macam  ragam manusianya. Ada yang pedagang, ada penumpang biasa, dan sebagian besar penumpangnya adalah anak-anak sekolah. Maklum musim libur.

Bau ojol yang begitu semerbak menusuk hidung, membuat dan mendorongku untuk segera menjauhi pasukan-pasukan ojol itu. Dan lagi, tas ranselku yang kuletakkan begitu saja di dalam kapal segera kuhampiri. Siapa tahu ada tangan-tangan jahil, bisa dipretelinya itu tas.

Hari semakin larut siang, kulirik jam tangan Titus tuaku sudah pukul sepuluh lewat sedikit. Saat keberangkatan telah tiba. Para penumpang yang masih mondar-mandir dipersilakan untuk bertenggek ke atas kapal. Awak kapal bersiap-siap. Tali-temali dibuka. Haluan KM Budi Laut menuju ke arah muara sungai.

Ramai sekali orang di pelabuhan tadi, tapi tidak semuanya yang bepergian. Buktinya masih banyak yang tinggal. Mereka hanya melambai lambaikan tangan saja kepada penumpang. Aah! Itu mungkin kekasih mereka yang melepas kepergian orang yang dicintai. Atau kaum kerabat mereka. Tidak seperti aku ini. Tidak ada orang yang melepas kepergianku. Memang begitulah kalau hidup sebatang kara. Jangan tidak, sebagai penawar duka, ada juga seorang teman yang melambai-lambaikan tangannya sambil memanggil-manggil namaku. ini mungkin karena sebelum berangkat tadi telah kukorbankan sebatang Gudam Garam padanya. Sebagai imbalannya, itulah lambaian tangannya. Ini kemungkinan lho.

KM Budi Laut melaju menelusuri sungai Siak, para penumpang membawa diri masing-masing. Ada yang membaca majalah, ada yang membaca koran-koran bekas pembungkus. Namun tidak sedikit pula yang hanya duduk melamun memerhatikan hutan-hutan bakau yang terhampar di sepanjang sungai. Aku terlibat dalam hal yang terakhir itu.

Di tengah asyik memerhatikan hutan-hutan bakau itulah, hadir di depanku seorang gadis Sweet seventen. Sepertinya dia ada urusan denganku,. Siapa gerangan ? Oh! aku sudah tahu latar belakang keluarganya. Dia termasuk orang top juga di Bengkalis. Anak Bea Cukai dia. Tanpa malu-malu dan harga diri dilemparkannya sebuah pertanyaan padaku;

“Eit! ke Bengkalis, ya ?”

“Ou, Rogayah! Kapal ini trayeknya, kan Pekanbaru Bengkalis, jadi ke mana lagi aku kalau bukan ke Bengkalis.” jawabku dengan sedikit variasi senyum Pepsodent.

“Kalau begitu kita satu tujuan! Oh, ya!  Di mana tahu namaku Rogayah ?”

“Masak aku tidak tahu, kamu kan termasuk orang the big five juga di Bengkalis bukan?, Jadi siapa pun yang namanya orang Bengkalis pasti mengenalmu.”

“Ah, masak iya begitu. Kamu ini ada-ada saja.”

“ini kenyataan lho, Rogayah. Sebelum percakapan kita dilanjutkan, mungkin namaku Rogayah belum mengenalnya. Maklum orang tidak top. Kenalkan, Kantan namaku. Putra Meskom asli, dan Mahasiswa tingkat III Fakultas Perikanan Universitas Riau.”

Kulihat Rogayah tambah bersemangat untuk melanjutkan omongannya denganku. Mungkin karena aku bakal menjadi Insinyur Perikanan. Oh, mata duitannya dikau Rogayah.

“Rogayah sekolahnya di mana?”

“Di SMPP Pekanbaru. Kelas II IPS.”

“Siapa teman ke Bengkalis?”

“Sendiri.” jawab Rogayah.

“Aku juga sendiri. Bagaimana kalau kita joint ventures saja. Nanti kalau kapal berhenti di Siak Sri Indrapura, Rogayah jaga barang-barang, biar aku yang turun ke darat untuk membeli makanan!” begitu tawarku padanya.

“Akur, deh.” jawab Rogayah. Rogayah gembira sekali dengan tawaranku itu. Mungkin tawaran seperti inilah yang dicari-carinya.

“Ngomong-ngomong, Rogayah ada bawa majalah tak? Kalau tak ada majalah, Koran-koran sepuluh hari yang lalu pun tak apa-apalah”

“Majalah ada, tapi majalah lokal.”

“Aku berani taruhan, Rogayah, pasti majalah Canang, ya?”

“Benar, Tan. Sememangnya Kantan tidak suka baca majalah Canang?”

“Siapa bilang tidak. Itu majalah favoritku, lho.”

“Tunggu, ya! Kuambilkan!”

Rogayah beranjak mengambilkan itu majalah.

Itulah mulanya awal perkenalanku dengan Rogayah. Memang di zaman seperti ini, bukanlah termasuk perbuatan yang luar biasa lagi bila seorang wanita yang memulai suatu trgedi atau pun legenda. Artinya bukan kejutan. Seharusnya, kan aku yang pura-pura bertanya begini;

“Halo, Neng! Ke mana? Ke Bengkalis, ya?” Tapi, yakh, begitulah, dia yang mulai, dia yang mengakhiri …. Dst.

Tak kukira Rogayah seramah itu. Dugaanku selama ini, bahwa Rogayah anak babe yang sombong, tidak mau bersahabat dengan orang-orang seperti aku, perlahan-lahan sirna. Kecuali benak ini diliputi oleh hipotesis-hipotesis; jangan-jangan aku dijadikian umpan peluru saja oleh Rogayah. Karena dia bepergian sendiri, lantas dia berbuat baik kepada siapa saja, agar dapat menolongnya di kala dalam keadaan darurat. Taruhlah sebagai pengawal pribadi. Ah! tidak mungkin Rogayah memunyai pribadi seperti itu. Tidak ada terlukis di parasnya sifat-sifat begitu.

Rogayah kembali menghampiriku.

“Ini dia, majalah Canangnya.” kata Rogayah.

“Pinjam aku ya, Rog!”

Walaupun kami baru sekarang berkenanlan secara langsung, namun rasanya seperti sahabat lama yang sudah sekian lama tidak bertemu. Kami akrap sekali. Ini mungkin karena kami sama-sama pandai menyesuaikan diri.

Rogayah duduk di sampingku. Keinginanku semula untuk melahap semua isi majalah Canang jadi buyar. Dan jadi beralih ke cerita-cerita lain yang lebih menarik dan romantis. Kami bercerita tentang apa saja. Tentang studi, tentang masa depan, dan tentang faktor apa yang menyebabkan air sungai Siak berwarna gelap, namun rasanya jauh sekian tingkat di atas air leding. Dan entah  apa lagi yang kami ceritakan. Sampai-sampai kutanyakan pada Rogayah, apakah dia sudah ada yang punya, yang dijawab dengan malu-malu kucing oleh Rogayah;

“Belum.”

“Kalau begitu, aku punya kesempatan untuk menaburkan benih-benih cintaku padamu Rogayah.” begitu bisik hatiku.

Kini dua insan berlainan jenis itu sedang asyik dengan dunianya. Mungkin mereka sedang dibuai smaradahana. Oh! alangkah indahnya pelayaran ini. Seolah-olah, KM Budi Laut ini, mulai dari haluan sampai ke buritannya, si Kantan dan Rogayah yang punya.

Waktu perlahan-lahan dan pasti berjalan terus. Tanpa terasa, hari semakin di ambang sore. Mentari berangsur ke peraduannya. Kapalmotor terus berlayar menelusuri liku-liku sungai Siak. Tiupan badai senja, menerpa rambut Rogayah. Selimut malam telah turun. Di remang-remang sinar lampu Caltex kulirik wajah Rogayah, semakin elok saja. Dalam hati aku akui, cantik sekali kau Rogayah. Besar sekali gejolak asmaraku untuk dapat memacarimu, tapi aku sangsi, apakah aku akan bertepuk sebelah tangan. Tiba-tiba ….

“Hai!” Rogayah mengusik suasanaku.

“Kantan melamun, ya?”

“Aku bukannya melamun Rogayah, tapi aku sedang memerhatikan nelayan-nelayan itu” sambil kuacungkan telunjukku ke arah nelayan-nelayan di pinggir sungai itu.

“Memangnya Kantan senang jadi nelayan, ya?”

“Senang, sih, tidak. Siapa pula manusianya yang memunyai cita-cita ingin menjadi nelayan, walaupun nelayan itu tulus dan suci”

“Habis buat apa dihiraukan itu nelayan?”

“Bagaimana aku tak akan menghiraukannya Rogayah, abahku di Meskom sana pekerjaannya menangkap ikan, kok. Sewaktu aku masih sekolah di Bengkalis, aku sering ikut abahku turun ke laut. Malah pernah kami dua hari dua malam di tengah laut, karena dibawa berputar-putar oleh angin puting beliung. Rencanaku untuk memperoleh title insinyur Perikanan nanti, isi disertasiku akan membicarakan dan akan mengupas kehidupan nelayan-nelayan itu. Soalnya, aku menguasai seluk-beluk nelayan, jadi ada penghayatan.” Rogayah terpaku mendengar aku menjual koyok.

“Kalau begitu bagus benar.”

“Aku optimis Rogayah. Siapa tahu nanti disertasiku itu mendapat perhatian dan menarik minat satradara-sutradara film untuk memfilmkannya.”

“Ah! mana mungkin itu terjadi, Kantan.”

“Mengapa tidak mungkin? Rogayah, kan tahu, film nasional kita sekarang, kan banyak diangkat dari novel-novel top.”

“Ya, disertasi kan , bukan novel.”

“Memang, tapi di situ letaknya kejutan.”

“Terserah kaulah, Kantan, aku toh, tak bisa berbuat apa. Kukira angan-anganmu terlalu tinggi.”

“Oh! Rogayah tidak tahu, pemuda Kantan ini, kan pencinta angan-angan. Pokoknya Rogayah, disertasiku itu, kalau tidak diangkat ke layar lebar, sekurang-kurangnya difilm dokumenterkan saja lumayanlah. Aku cukup bahagia dengan prestasiku itu, Rogayah tolong doakan, ya! agar tercapai segala cita-citaku.”

“Kalau begitu, okelah.” sela Rogayah.

Kami sampai di Bengkalis pukul 05.30 pagi. Sebelum berpisah menuju rumah masing-masing, sempat juga aku berpesan.

“Rogayah, kalau ada waktu senggang, besok atau lusa, jalan-jalan dong ke Meskom. Sepeda motornya Rogayah kan dua tiga.”

“Kalau di Meskom musim durian aku mau, Tan.”

“Jangan khawatir Rogayah! Kalau tidak musim durian pun, terasi tetap musim di sana ”

Rogayah nampaknya menyimpan keinginannya untuk tersenyum. Mungkin karena kata-kata terasi itu mengandung unsur-unsur humor.

“Okelah Rogayah, jangan lupa! kutunggu di Meskom ya! bye bye”

“bye!” balas Rogayah.

Seminggu libur di Bengkalis membuat hati ini resah. Mana Rogayah yang dinanti-nanti tak datang juga. Betul-betul Rogayah ini doyan durian. sayang sekarang tidak musim durian. Kalau musiman, pasti Rogayah datang. Atau mungkin juga dia sibuk membantu maminya. Sedang hari keberangkatan kembali ke Pekanbaru sudah dekat.

Sehari sebelum kembali ke Pekanbaru, kujelang Rogayah ke rumahnya di jalan Hang Tuah Bengkalis.

“Tolong damping Rogayah, ya nak Kantan!” begitu pesan mami en papi Rogayah padaku.

“Maklum, anak gadis berlayar sendiri, dan anggaplah saudara nak Kantan sendiri.”

Oh! inggin sekali kukatakan kepada papi en maminya Rogayah, bahwa pemuda Kantan yang berdiri di depan mereka ini, akan bersedia menjadi pahlawan putrinya. Jika mereka mau menjodohkan aku dengan Rogayah, akan kuterima dengan senang hati, tanpa mempertimbangkannya lebih jauh. Habis, wajah putrinya yang bernama Rogayah itu kontemporer sekali, dan tipe wanita idaman masa kini.

Hari keberangkatan itupun tiba. Entah apa nama kapalmotornya kali ini, aku kurang begitu peduli. Yang kupedulikan hanya Rogayah seorang.

Rogayah diantar oleh seluruh keluarganya. Kapal berangsur angsur meninggalkan pulau Bengkalis, yang semakin lama semakin kecil, kemudian hilang, seakan-akan tenggelam.

Kapal kembali menelusuri hulu sungai. Kisah-kisah romantis yang pernah kami rasakan minggu lalu kembali terulang. Seolah-olah kapal itu mulai dari haluan sampai ke buritannya kembali kami yang punya.

Perjalanan dari Bengkalis ke Pekanbaru yang memakan waktu kurang lebih sehari semalam, yang dulu terasa begitu lama dan membosankan, kini terasa sebentar saja. Mungkin karena Rogayah menyertai perjalananku. Kalau begini, sepuluh hari sepuluh malam pun dalam perjalanan, aku sanggup, karena ada teman penghibur.

Kapal yang kami tumpang mendarat di Pekanbaru menjelang fajar. Para penumpang memutuskan untuk turun ke darat setelah hari benar-benar siang.

Sang fajar berlalu, diiringi intipan sang surya di ufuk timur. Para penumpang kabur satu persatu. Aku memegang tangan Rogayah untuk sama-sama turun ke darat.

Setelah kami tegak di darat dan membereskan semua peralatan, tiba-tiba…..

“Hey Rog!” seorang pemuda ngganteng mengendarai skuter Bajaj menghampiri kami. Aku dan Rogayah saling berpandangan. Rasa cemburu menyelinap di seluruh tubuhku.

“Maaf, ya Kantan! Dia teman sekelasku.”

Rogayah segera bertenggek ke jok belakang skuter itu.

“Da … dag, Tan!”

“Huh, sialan kau Rogayah, tepat dugaanku. Benar-benar kau jadikan umpan pelurumu aku. Pandai kau bersandiwara. Pertolonganku selama dalam perjalanan itu kau lupakan begitu saja” begitu bisik hatiku.

Aku mengumpat habis-habisan, Rogayah berlalu, bersama hilangnya deru skuter itu.

Oh, nasib-nasib! Untunglah aku belum begitu terlanjur mencintainya. Dengan langkah gontai, lesu dan tak bersemangat, aku berjalan ke simpang Tanjung Datuk, untuk mencari oplet pulang ke rumah. Kalau begini rasanya lemah badan, satu peti pun dimakan Hemaviton tak bakalan sembuh.

Agaknya memang, itulah nasibku, affairku bersama Rogayah dalam perkiraan abadi sampai akhir nanti, ternyata kandas sebelum pengorbananku terlalu besar. Syukurlah!***

Komentar»

1. strawberryyummy - September 15, 2008

cerita nya bagus pak! haha.

2. saurma - Oktober 15, 2008

wah jangan mundur dunk kantan, kan sebelumnya rogayah bilang gak punya pacar, trus pas di jemput temannya, dia bilang hanya teman sekelas kalau ternyata benar kenapa dia harus bohong ??? ya anggap sajalah banyak pria seperti kamu yang mendekatinya, tapi gak langsung dunk dia bilang cinta apalagi baru di kenal,


Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: