jump to navigation

HARAP DIBACA, MUDAH2AN ANDA TIDAK MELAKUKAN HAL YANG SERUPA!! September 25, 2008

Posted by cafestudi061 in Umum.
add a comment


1. “Jangan charge HP anda semalaman dan JANGAN ditaruh dekat anda ketika mencharge.”

2. “Jangan pernah menjawab panggilan masuk ke HP saat sedang di charge!!”


Beberapa hari yang lalu, seorang laki2 sedang mencharge HP di rumahnya.

Disaat yang bersamaan, ada telepon masuk dan dia menjawabnya saat HP tersebut masih tersambung ke kontak listrik.

Setelah beberapa detik, arus listrik masuk ke HP tanpa kendali dan pria muda tersebut terlempar ke lantai dengan kerasnya.

Orangtuanya bergegas datang ke kamarnya dan menemukan dirinya pingsan, dengan detak jantung yang lemah dan jari terbakar.
Dia dilarikan kerumah sakit terdekat, tapi “jiwanya sudah tak tertolong lagi” ketika sampai dirumah sakit.

cafestudi061

Kemampuan Guru September 25, 2008

Posted by cafestudi061 in Pendidikan.
add a comment

 

       Menjadi guru bukanlah pilihan alternative, dan ini perlu dihayati dan dipahami oleh seorang yang ingin menjadi guru. Apabila guru sebagai pilihan yang tidak diunggulkan, dan ini akan berdampak kepada psikologi yang bersangkutan. Karena untuk menjadi seorang guru memiliki serangkaian kemampuan, dan kemampuan itu tidak datang dengan sendirinya, akan tetapi melalui kesadaran, motivasi belajar dan proses berkelanjutan.

       Guru adalah salah satu profesi yang jelas disebutkan seseorang yang memiliki kemampuan, kemampuan tersebut tidak dimiliki oleh semua orang dan hanya dimiliki oleh seorang guru. Makanya guru adalah orang yang memiliki kemampuan di dalam memberikan pendidikan kepada anak didiknya, memberikan pengajaran dengan berbagai ilmu kepada anak didiknya, serta memberikan keterampilan kepada anak didiknya, sehingga anak didik yang dihasilkannya juga memiliki kemampuan sebagaimana yang dimiliki oleh gurunya sendiri.

       Kemampuan guru akan berkait erat dengan kinerja guru, dan guru yang memiliki kinerja tinggi dan menyadari akan tugas dan tanggung jawab yang diembannya, maka guru akan berupaya mungkin untuk mendapatkan berbagai kemampuan sehigga guru memiliki wawasan dan kualifikasi ilmu seluas dan memiliki daya saing tinggi di dalam meningkatkan kemampuannya dalam proses pembelajaran di kelas. Kinerja guru kaitannya dengan kemampuan individu yang bersangkutan akan sangat berperan dalam menentukan keberhasilan program pembelajaran di kelas. Profil dan ciri kemampuan guru, Rochman Natawidjaja mengutip pendapat D. A. Tisna Amidjaja mengatakan tiga aspek kemampuan guru, yaitu mencakup: (1) Kemampuan pribadi; setiap guru harus memiliki kemampuan pribadi, karena dengan kemampuan nya itu, ia akan menjadi guru berkualitas, dan kualitas itu sendiri dapat dihasilkan bilamana di mulai dari kemampuan pribadi gurunya; (2) Kemampuan professional, ini yang juga tidak kalah pentingnya dan kemampuan professional merupakan kemampuan di dalam menghayati dan mendalami bidang keilmuannya. Kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kemampuan professional, maka akan berdampak kepada kualitas pembelajarannya, akhirnya juga bermuara kepada kualitas pendidikan secara nasional. (3) Kemampuan kemasyarakatan atau sosial, dan guru juga harus memahami dan memiliki kemampuan ini, bagaimana guru mampu beradaptasi dengan lingkungan dan kehidupan bermasyarakat, serta mampu melakukan sosialisasi dengan lingkungannya, sehingga dimanapun, dan kapanpun, serta dengan siapapun guru memiliki kemampuan dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.

       Charles Johnson mengatakan, sebagaimana dikutip oleh Rochman Natawidjaja mengungkapkan seluruh kemampuan guru itu dalam enam komponen pokok, yaitu: (a) unjuk kerja ( performance), (b) penguasaan materi pelajaran yang harus diajarkan kepada siswanya, (c) penguasaan landasan professional keguruan dan pendidikan, (d) penguasaan prose-proses pengajaran dan pendidikan, (e) penguasaan cara untuk menyesuaikan diri, dan (f) kepribadian.

       Keenam komponen di atas merupakan satu system dalam arti tidak boleh dipandang sebagai suatu yang terpisah-pisah, melainkan harus dipandang sebagai suatu keterpaduan yang menjelma dan bermuara pada kualitas unjuk kerja yang diperkirakan menunjang keberhasilan siswa dalam belajar. Huston dan kawan-kawan mengemukakan bahwa dalam penelitian yang dilaksanakan di Amerika Serikat oleh Nasional Education Association mengungkapkan 10 macam tugas guru yang harus dilakukan sehari-hari, yaitu: a. Manjaga agar selalu melaksanakan tugasnya, b. Mencatat kehadiran siswa, c. Menyesuaikan rencana kerja dalam kegiatan kelas, d. Memantau kegiatan-kegiatan di luar sekolah, e. Merencanakan pelajaran, f. Mendiskusikan pekerjaan dengan rekan sejawat, g. Memberikan penyuluhan kepada siswa, h. Memberikan respon kepada pertanyaan kepala sekolah, i. Mengadakan pertemuan dengan orang tua siswa, j. Menghadiri rapat guru.

       Agar dapat melaksanakan tugas sehari-hari dengan baik, guru harus memiliki kemampuan pribadi, kemampuan professional dan kemampuan kemasyarakatan atau kemampuan sosial. Kemampuan tersebut akan sangat berpengaruh terhadap kinerjanya dalam melaksanakan tugas yang diembannya, terutama dalam merencanakan pembelajaran. Dengan memiliki kemampuan yang baik, diharapkan proses pembelajaran dapat berlangsung dengan lancar dan tujuan pembelajaran di kelas dapat tercapai, dan keinginan kita untuk meningkatkan mutu pendidikan akan dapat dicapai. Semoga.

Dikutip dari Teroka oleh Drs. H. Isjoni, MSi dari Riau Pos, Ahad, 24 Desember 2006, halaman 24

cafestudi061

Air, Angin dan Api September 23, 2008

Posted by cafestudi061 in Artikel Remaja.
add a comment

 

 

 

This is my first artical was publish in Riau Mandiri, on July,2004. I hope this arctical make inspiring to my student.

Happy, all day.

 

Oleh : Sopar Maruli

 

            Air, angin dan api merupakan  tiga unsur yang selalu ada dan sering kita gunakan. Ketiga zat tersebut memiliki susunan unsur-unsur kimia yang tidak jauh berbeda. Setiap makhluk di dunia ini sangat bergantung dan sangat membutuhkan tiga macam zat tersebut secara seimbang.

             Seperti air yang memiliki susunan molekul hidrogen dan oksigen, dan biasa ditulis dengan H2O, di mana unsur hidrogen maupun oksigen ini sangat diperlukan oleh kita untuk bernafas dalam setiap aktivitas. Begitu juga angin yang sering disebut dengan udara, merupakan bagian yang terbesar dalam atmosfir bumi. Udara sangat dibutuhkan di dalam aktivitas baik mahluk hidup, maupun benda mati, seperti mesin. Karena proses pembakaran yang terjadi di ruang mesin disebabkan adanya udara, maka terbakarlah bahan bakar yang diinjeksikan sehingga pengapian terjadi. Dengan demikian pengapian  yang berkelanjutan tersebut menghasilkan tenaga. Tenaga ini bermanfaat untuk segala kegiatan dan aktivitas hidup.

             Udara di permukaan bumi ini mengandung banyak unsur, terbesar nitrogen, kemudian oksigen, hidrogen , carbon, argon, neon, xenon, ozon, dan lain-lain. Kebutuhan yang diperlukan oleh kita dari angin yang kita sebut dengan udara ini adalah oksigen dan hidrogen. Dengan terpeliharanya lingkungan yang sehat dan bersih, maka udara yang kita hirup terasa segar seperti di daerah penggunungan. Untuk itu kita perlu melindungi ekositem di lingkungan kita masing-masing. Dengan peredaraan udara dan hembusan angin yang segar akan menciptakan pikiran-pikiran yang kreatif dan produktif.

              Kalau kita lihat kebiasaan yang sangat buruk dari kita selama ini, yaitu dengan membuang sampah dan membakar sampah di sembarang tepat, menjadikan udara di sekitar kita tidak sehat lagi, yang kita hirup sudah banyak mengandung unsur karbon, di mana karbon tersebut mengikat oksigen. Menjadi cukup berbahaya dan mengganggu saluran pernafasan. Yang lainnya adalah dalam mengatasi sampah-sampah yang cukup banyak. Kita masih belum sungguh-sungguh untuk memelihara lingkungan kita sendiri. Sampah yang berasal dari rumah tangga tidak teratasi. Mari kita mulai dari lingkungan terdekat, yaitu rumah kita sendiri.       

               Sampah sudah menjadikan salah satu penyebab udara yang tidak segar. Angin yang meniup bau yang tidak sedap dari proses pembusukkan  bermacam-macam sampah tersebut bisa saja membawa wabah penyakit. Akhirnya akan menimbulkan penyakit bahkan penyakit menular yang dapat menjadikan masalah kesehatan di rumah, di lingkungan daerah kita bisa sampai ketingkat yang lebih besar dan luas.

               Yang tidak kalah penting lagi adalah api. Api merupakan unsur atau suatu bentuk yang sangat abadi, sebelum dunia ini ada api sudah tercipta. Kita tidak tahu percis dari mana datangnya dan apa saja unsur yang ada didalam api. Tetapi yang cukup jelas bagi kita yaitu api tidak akan pernah dapat menyala bila disekitarnya tidak ada udara (angin) yang cukup. Sejak dari bangku Sekolah Dasar pengetahuan ini sudah kita dapatkan. Seperti yang diperagakan guru kita pada pelajaran IPA, di mana  lilin dinyalakan, kemudian ditutup dengan sebuah gelas, maka tidak lama kemudian lilin itu mati (padam). Mengapa ? Ini jelas kerena api dapat menyala atau hidup jika ada udara. Dalam pelajaran bahasa Indonesia  juga kita diajarkan peribahasa. Yaitu peribahasa yang berbicara tentang api. Peribahasa itu mengatakan “Kecil-kecil menjadi teman sudah besar menjadi lawan”. Ini dapat diartikan bahwa api itu sahabat ketika ia dapat dimanfaatkan, tetapi api akan menjadi sangat berbahaya dan lawan, jika sudah tidak terkendali.

                Sangat banyak kejadian yang dapat kita baca dari zaman dahulu sampai saat ini yang berhubungan dengan api. Ketika musim kemarau tiba pembakaran terjadi di mana-mana. Api melalap habis dengan cepatnya ilalang dan pohon-pohon yang sudah puluhan bahkan ratusan tahun umurnya. Entah kapan kita dapat melihat hutan yang dahulu tumbuh indah, hijau dan rindang kalau kebiasaan ini terus terulang dan terulang lagi. Akibat lainnya udara berkabut dan menyesakkan dada. Kita stres, mengomel, mengumpat. Entah kepada siapa kita mengadu. Pemerintah pusat maupun pemerintah setempat, para ahli dan badan meteorologi sudah sering membicarakan hal ini, tetapi masih saja masyarakat kita tidak mau peduli. Tetap saja kebiasaan buruk dengan membakar sampah dan  membakar ilalang bahkan hutan tejadi setiap hari,setiap minggu, bulan dan tahun. Sampai akhirnya menjadi seperti musim saja, karena setiap tahun selalu berkabut,dan berasap.

                 Mari kita tinggalkan kebiasaan membuang sampah dan membakar sampah sembarangan. Kita sebaiknya mendaur ulang semua  sampah, baik yang organik maupun anorganik. Kami juga menghimbau kepada para pengusaha dan pengembang,  pertanian, peternakan dan pengembang pemukiman, maupun pengusaha industri-industri, pemegang HPH untuk menghentikan kebiasaan membakar sampah dan membuang sampah yang tidak pada tempatnya dan berakibat sangat fatal. Sebaiknya sampah tersebut diolah dan didaur ulang, atau diproses melalui kilang-kilang pengolahan sampah. Kita coba pikirkan bagaimana untuk mengolah dan mendaur ulang setiap sampah dan unsur-unsur yang dapat terbakar menjadi sesuatu yang bermanfaat. Sampah bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat jika diolah kembali. Memang ini membutuhkan pemikiran, biaya dan teknologi yang tinggi. Mari kita belajar dari negara yang sudah berhasil mengolah dan mendaur ulang sampah, seperti negara Jerman bersatu, Jepang dan Amerika. Jadi mari kita bersama-sama menyatukan visi kita untuk kebersihan lingkungan di tempat kita masing-masing, mulai dari rumah, lingkungan kelurahan , perkotaan sampai ke setiap provinsi, negara dan  antarbenua.

                  Dengan terpelihara dan terciptanya lingkungan yang bersih dan sehat, maka kehidupan kita mudah-mudahan bertambah cerah dan ceria.

Kita songsong tahun yang akan kita lalui ini dengan tekat yang bulat, bahwa air, angin dan api merupakan bagian dari kehidupan kita. Keseimbangan antara ketiga unsur ini akan menjadikan suasana yang lebih bergairah dan tercipta keharmonisan yang abadi. Terciptalah kehidupan dan peradaban yang semula jadi. Kita sehat, kita segar, kita bahagia, maka panjang umurpun menjadi sesuatu yang tidak jauh dari kita masing-masing.

                  Tak ada yang mustahil dimuka bumi ini, bila kita mengembalikan semuanya sesuai dengan kehendak-Nya. Sebab pada mulanya Allah melihat segala ciptaannya adalah baik. Mari kita kembalikan semua kepada standar penciptaan alam semesta.

                   Akhirnya dengan kerjasama yang baik antar penghuni tiap lingkungan mulai dari rumah, sampai kemerata tempat aktivitas yang kita lakukan akan  menjadi lebih hidup. Lingkungan yang sehat, bersih dan hijau akan menciptakan pemandangan nyaman, tentram  dan bahagia.

                   Mudah-mudahan air, angin dan api  menjadi bagian yang sangat bersahabat, sehingga kita semua terpanggil dan bertanggungjawab penuh serta bahu membahu untuk menjaga air, angin dan api tidak dirusak oleh siapapun.

 

 

Cafestudi061

 

 

MASYARAKAT MASA DEPAN September 17, 2008

Posted by cafestudi061 in Bahan Kuliah.
add a comment

Pengantar Pendidikan

a. Deskripsi Singkat

Pendidikan adalah masa kini tetapi pendidikan harus juga memperkirakan masa depan, berorientasi ke masa depan, karena naka didik masa kini adalah orang-orang pada masa depan. Bagaimana memperkirakan masa depan dengan mempertimbangkan kecenderungan globalisasi, perkembangan iptek, arus komunikasi yang semakin cepat dan padat, dan peningkatan pelayanan semakin professional, adalah hal-hal yang akan dibicarakan pada bagian ini. Selian itu dibicarakan tuntuan bagi manusia masa depan (manusia modern) dan bagaimana mengantisipasi masa depan terutama perubahan dalam nilai dan sikap.

b. RelevasiMateri Dengan Kopetensi Pendidikan

Bagaimana memperkirakan keadaan masa depan adalah penting bagi tenaga kependidikan, agar siswa yang diasuhnya dan dibinanya tidak menjadi asing pada keadaan yang akan dijumpainya. Tenaga kependidikan yang harus dapat menginformasikan bagaimana masyarakat masa depan itu, bagaimana cara globalisasi akan membuat kita harus siap dengan budaya dan nilai-nilai yang lain dengan kita walaupun kita tidak berusaha mengadopsinya. Jadi pendidikan sebagai wadah pembauran budaya nasional sebaiknya mempersiapkan anak didk agar siap mentolerir adanya budaya lain yang datang ke negeri ini seperti akan membaur, tetapi kita mempersiapkan juga agar anak didik mampu mennagkal budaya-budaya lain itu, tidak tenggelam, berbaur tapi tidak menyatu. Pendidik mensti mengetahui dan menyadari adanya gambaran masa depan dengan segala tuntuannya terhadap manusia masa depan, sehingga perlu diantisipasi sejak sekarang.

c. Tujuan Khusus Pembelajaran

Selama dan setelah mempelajari materi yang disajikan mahasiswa diharapkan dapat :

1. Menyebutkan arti dan makna kecenderungan globalisasi dengan memberikan contoh-contoh.

2. Menjelaskan pengaruh perkembangan iptek terhadap mayarakat masa depan.

3. Menyebutkan beberapa tuntuan bagi manusia masa depan yaitu masyarakat modern.

4. Menjeaskan beberpa upaya pendidikan untuk mengantisipasi masyarakat modern.

5. Menjelaskan arti daripada peningkatan pelayanan yang semakin professional.

A. Perkiraan Terhadap Masa Depan

Perkiraan terhadap masa depan dilakukan antara lain dengan mempertimbangkan :

1. Kecenderungan Globalisasi

Di dalam era globalisasi sifat rasa kedaerahan, corak kebangsaan tidak lagi secara dominan dapat ditonjolkan, dunia seolah-olah makin akrapm suatu bangsa tidak lagi merasa asing bila berada di suatu tempat bangsa lain, pakaian, makanan, dan bahkan bahasa tidak lagi menentukan identitas suatu bangsa. Pada saat ini hal itu baru merupakan kecendrungan-kecendrungan yang kelihatannya semakin nyata telah menanmpakkan sosok yang global, sosok yang mendunia. Era globalisasi terjadi aarus lalu—lintas perjalanan bangsa-bangsa dari satu negeri samgat maju, karena adanya system tranportasi dan sikap penerimaan dari bangsa-bangsa yang dituju. Kemudahan transportasi dan sikap penerimaan ini ditunjang oleh keadaan yang makin mantap dan pelayanan yang semakin memuaskan. Demikian pula masing-masing Negara yang ada di dunia meningkatkan dan menggalakkan pariwisata, disamping skap masing-masing bangsa yang suka mengadakan kunjungan atau tour ke manca Negara secara terencana. Misalnya saja, pada masa-masa sebelumnya bangsa kita adalah bangsa yang belum tourist minded, artinya berkunjung keluar neeri itu bukan suatu gaya hidup, tetapi sekarang, bagi mereka yang mampu, bepergian ke luar negeri itu memang sudah menjadi suatu rencana, sudah diarahkan. Kalu ada liburan sekolah, ada yang ke Jepang, ke Amerika, paling tidak ada yang ke Malaysia atau Simapore, paling tidak juga , ada ke Bali, ke puncak. Pokoknya hari libur diisi dengan perjalanan jauh. Lalu lintas kunjungan inilah yang membuat masing-masing negara menyiapkan suatu yang sesuai dengan keadaan Negara yang mengunjungi, sehingga makanan, pakaian apa yang ada di Jepang sudah pasti ada di Flipina, begitu juga apa yang ada di Amerika sudah pasti ada restoran-restoran Indonesia dan sebaliknya. Mobilitas antar bangsa sangat tinggi.

Dengan keadaan yang global tidak heran kalau tetangga kita di Samosir adalah orang Prancis, atau orang Spanyol, sehingga kita bersikap luwes dan tidak sempit.

2. Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Salah satu hal yang perlu diperkirakan bagi masyarakat masa depan adalah perkembangan iptek. Perkembangan iptek demikian cepatnya sehingga sekolah selalu ketinggalan untuk mengikutinya, sehingga sekolah tidak siap untuk membekali lulusannya dengan kemajuan iptek yang akan ditemui di masyarakat. Misanya saja, di sekolah anak-anak diberi pelajarn mengetik denga mesin ketik, padahal dimasyarakat mesin ini sudah tidak dipakai. Di sekolah diberi pelajaran computer, padahal di duni pekerjaan komputer yang seperti itu sudah ketinggalan zaman.

Demikian juga pelajaran-pelajaran teknik, peranian dan pelayan yang ada di sekolah jauh ketinggalan dengan ada di masyarakat, bidang kesehatan sudah begitu canggih, tetapi yang ada di sekolah belum seberapa. Sekolah harus mempersiapkan anak bukan saja untuk masa kini, tetapi yang lebih penting adalah untuk masa depan yang kita perkirakan pasti sudah canggih daripada sekarang ini, terutama dalam bidang iptek.

3. Arus Komunikasi yang Semakin Cepat dan Padat

Tidak terlepas dengan perkembangan iptek, maka masa datang adalah masa dimana arus komunikasi semakin cepat dan padat, karena cepatnya komunikasi maka informs mengenai sesuatunya tidak lagi menunggu waktu sampai kepada seantero dunia, orang makin cepat memperoleh pengetahuan baru, makin cepat menguasai dan memakai penemuan-penemuan baru dan teknologi baru. Hal ini tak akan memungkinkan semakin cepatnya perkembangan ilmu pengetahuan sehingga masa mendatang merupakan masa yang sangat dinamis, sangat cepat berubah. Karena cepatnya komunikasi orang yang beada di luar negeri, orang yang sedang beada di Negara lain tidak merasa jauh dengan tempat tinggalnya, tidak merasa adanya amsalah untuk pergi sejauh mungkin baik untuk studi maupun bisnis, sehingga dunia dirasakan semakin mudah untuk dijangkau, dan selanjutnya arus komunikasisemakin padat. Kecepatan arus komunikasi merangsang pihak-pihak tertentu untuk menciptakan dan menghasilkan system dan alat komunikasi yang lebih canggih lagi, sehingga dapat dikatakan masa datang itu adalah masa era komunikasi.

4. Peningkatan Pelayanan yang Semakin Profesional

Dapat diperkirakan bahwa masyarakat masa depan adalah masyarakat yang menggunakan tenaga-tenaga spesialis, semua serba spesialis, barang kali dapat juga disebut era spesialisasi. Sejalan dengan kecenderungan globalisasi, maka setiap Negara adalah mendunia, memiliki perspektif global,berorientasi internasional. Hotel-hotel, rumah sakit internasional, begitu juga bank, pelabuhan udara dan pelabuhan laut dan sebagainya.

Dengan orientasi yang mendunia ini setiap layananpun akan ditingkatkan setaraf dengan layanan yang berlaku secara internasional, untuk tenaga-tenaga yang disiapkan adalah tenaga yang spesialis, berkompeten dan professional. Kalu dahulu untuk menjadi karyawan hotel persyaratannya tidaklah sukar, tetapi sekarang karena tuntuan profesionalitas, maka mereka harus lulusan akademi perhotelan, menguasai beragam bahasa asing. Muncullah berbagai akademi dan sekolah khusus seperti akademi pariwisata, sekolah menengah pariwisata, program diploma 3, 2 dan 1 dalam bidang perbankan, sekretaris, manajemen dan bahasa asing. Barangkali sudah banyak sekali sekolah atau akademi yang menyiapkan tenaga-tenaga spesial dab professional ini untuk meningkatkan pelayanan di era yang mendunia yang akan datang

B. Antisipasi Terhadap Masa Depan

Berdasarkan perkiraan-perkiraan yang telah dikemukakan berdasarkan pertimbangan kecenderungan globalisasi, perkembangan iptek, arus komunikasi yang semakin cepat dan padat, serta peningkatan pelayanan yang semakinprofesional, maka masa depan, atau masyarakat masa depan sudah dapat digambarkan atau diperkirakan dan pendidikan perlumengantisipasi ya. Sekaitan dengan antisipasi pendidikan terhadap masa depan, dapat juga di katakana tuntutan-tuntutan apa yang diharapkan manusia masa depan, akan dibicarakan di bawah ini.

1. Tuntutan Bagi Manusia Masa Depan (Manusia Modern)

Mempertimbangkan beberapa keadaan yang akan berkembang pada masa depan itu sesuai denga kecenderungan yang ada tadi, maka agar kita survive, berhasil dan sukses, perlu diperhatikan beberapa tuntutan yang diharapkan dimiliki oleh manusia masa depan itu, antara lain ialah :

Memiliki sikap yang terbuka, memiliki wawasan internasional dan seimbang dengan itu memiliki wawasan nusantara dan ketahanan nasional agar tidak lebur dengan adanya kecenderungan globalisasi, aga jati diri sebagai bangsa exsist. Memiliki sikap toleransi yang tinggi untuk mau memahami budaya bangsa lain, berkemauan dan berusaha meningkatkan kualitas diri pribadi , meningkatkan kegemaran membaca, mau belajar dari pengalaman orang lain atau bangsa lain, saling menghargai dan menghormati.

Menerapkan dan meningkatkan azas pendidikan seumur hidup (long life education), karena dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu cepat, orang perlu belajar dan belajar terus agar tidak ketinggalan dengan kemajuan yang terjadi, agar dapat memanfaatkan perkembangan iptek tersebut secara tepat guna. Azas belajar sepanjang hayat harus disikapi sebagai suatu usaha menignkatkan kualitas dari pribadi, memiliki sikap yang tidak cepat merasa puas dengan ilmu yang telah dimiliki, sehingga mau terus belajar baik sepanjang hayat harus disikapi dengan suatu usaha meningkatkan kualitas pribadi, memiliki sikat yang tidak cepat merasa puas dengan ilmu yang telah dimiliki, sehingga ma uterus belajar baik melalui pendidikan formal maupun pendidikan nonformal, atau juga belajar secara mandiri. Barangkali sekarang kita telah memiliki gambaran, kalu dulu sudah cukup puas bila sudah memperoleh gelar sarjana, tetapi sekarang masih belajar lagi dan melanjutkan ke tingkat pasca sarjana untuk sampai pada jenjang S2 dan S3. Tututan manusia masa depan sesuai dengan kecenderungan perkembangan iptek, adalah manusia yang suka belajar dan berusaha meningkatkan kualitas dirinya.

Melengkapi sarana kehidupan dengan alat-alat komunikasi yang up to date, karena arus komunikasi yang semakin cepat dan padat kurang dapat ditangkap informasinya dengan cara-cara trandisional, misalnya dengan surat kabar dan majalah. Pada masa sekarang ini saja bagi orang-orang yang sangat merasa berkepentingan dengan informasi mereka menyewa bahkan memiliki saluran internet, faximale, walaupun memang ada orang-orang memakai telepon genggam sekedar gengsi, prestise, atau pajangan. Di era informasi dan komunikasi orang-orang dituntut untuk cepat tanggap, dituntut meningkatkan inisiatif dan kreativitas.

Memiliki ilmu pengetahuan yang bersifat khusus, memiliki spesialisasi dalam bidang pekerjaan tertentu, mengukuti program khusus tenaga kerja tertentu, penguasaan beberapa bahas aasing dan penampilan yang layak untuk standard internasional. Barang kali kita dapat juga dikemukakan di sini bahwa zaman sekarang dan masa depan itu di sebut zaman modern, dan manusianya disebut manusia modern, tentu bagi manusia modern, oleh Alex Inkeles disebut cirri-ciri manusia modern diantaranya adalah :

1. Mempercayai dan mengutamakan kemampuan akal manusia, artinya tidak ada yang tidak dipelajari asalkan orang mau menggunakan akal dan pikirannya secara sungguh-sungguh.

2. Menggunakan dan menanfaatkan waktu sangat efisien, sangat padat dan sangat ketat, teratur untuk hal-hal yang berguna. Orang modern mampu mengatur waktu dan mengisi waktu sesuai dengan yang direncanakan, baik untuk bekerja, belajar, untuk keperluan hubungan social, rekreasi, olah raga dan hiburan, atau sekedar membaca novel, membaca buku-buku ilmu pengetahuan.

3. Suka kepada pembaharuan dan mau menerima pembaharuan, karenanya orang modern juga suka kepada perubahan, selalu bersifat dinamis, suka mencoba untuk membuktikan mana yang lebih baik, yang lama atau yang baru. Orang yang tidak modern sukar sekali diajak untuk mengadakan pembaharuan, menolak dan bahkan selalu curiga kepada pembaharuan, tidak suka mencoba.

4. Orrientasi kee masa depan, masa lalu bukan untuk dipuja dan dikenang-kenang, tetapi untuk dijadikan pelajaran dan pengalaman dalam merencanakan maa depan.

5. Hemat dalam penggunaan penghasilan, saving minded ( cara hidup yang suka menabung ), penggunaan uang juga terencana.

6. Mampu mengontrol diri sendiri, kurang senang diatur dan dicampuri oleh orang lain.

7. Tidak suka tergantung pada bantuan orang lain.

2. Upaya-Upaya Mengantisipasi Masa Depan, Terutama Perubahan Dalam Nilai dan Sikap

Mengantisipasi masa depan terutama dalam perubahan nilai dan sikap adalah merupakan hal yang sangat sulit dan tidak dapat dilaksanakan dalam waktu yang cepat. Mengubah orang dari yang bersifat negative menjadi sikap positif, dari yang dangkal dan emosional menjadi nersikap matang, luas dan rasional, dari sikap yang menolak perunnbahan kepada sikap yang menerima dan melaksanakan perubahan, berdasarkan pengalaman asalah sukar sekali.

Naun demikian kita tetap percaya bahwa upaya-upaya hanya dapat dilakukan melalui pendidikan di rumah tangga oleh keluarga, pendidikan di sekolah dan pendidikan di masyarakat. Ketigapusat pendidikan ini didukung oleh kebijakan-kebijakan dari pemerintah akan mampu mempersiapkan manusia masa depan dengan segala tuntutannya.

Upaya yang dapat dilakukan oelh pendidikan dengan menganalisis materi yang ada di dalam kurikulum dan di dalam buku pelajaran. Apakah materi tersebut masih relevan sebagai pengetahuan yang dapat dilakukan, intervensi apa yang dapat diberikan agar materi dapat mendekati kenyataaan yang ada di masa depan. Sekolah dapat menyediakan sarana seperti laboratorium, perpustakaan, ruag praktek, worlshop, ruang computer, ruang gelap untuk belajar dengan media slide, OHP, dan film ilmu pengetahuan dengan catatan srana tersebut bukan hanya ada tetapi tetap fungsi. Misalnya, di sekolah ada perpustakaan tetapi buku-buku yang ada disana hanyalah buku paket, itupun sudah lama. Mengenai pengetahuan baru, penemuan baru, mengenai kejadian baru belum masuk perpustakaan.

Diperlukan suasana yang demokratis dan suasana lainnya yang konduksif untuk mengembangkan sikap dan nilai-nilai yang harus dimiliki anak untuk masa depan, maka suasana belajar-mengajar lebih menekankan pengembangan diri anak dengan memberikan kesempatan yang luas untuk mengeluarkan pendapat, untuk pembelajaran sendiri. Sekolah tetap tanggap kepada suku bangsa yang ada di kelas, dan juga berbagai kepercayaan yang ada. Guru membiasakan anak untuk memapu mencari informasi tentang apa saja yangs esuai dengan anak, informasi tentang dunia kerja, informasi tentang buku yang baik dan baru, informasi tentang kecenderungan masa depan, Jadi sekolah sebagai agent of innovation, secara terencana mengarahkan siswanya untuk mengantisipasi masa depan dengan sefala cirri dan tuntutannya.

Tidak kalah penting adalah sikap guru yang mau mengikuti perkembangan ilmu penggetahuan, mau meningkatkan kualitas profesinya, mau mencari informasi-informasi baru ddi dalam bidang pendidikan pengajaran, mau memperhatikan hasil-hasil penelitian di dalam bidang pendidikan, pengajaran dan psikologi paling tidak, guru harus menjadi orang yang gemar membaca, membaca Koran, jurnal, dan majalah-majalah yang berhubungan dengan bidang spesialisasinya.

Rangkuman

Pembangunan adalah proses perubahan yang terus menerus sengaja direncanakan, merupakan kemajuan dan perbaikan menuju kearah tujuan yang ingin dicapai dan yang telah direncankan. Pembangunan Nasional bertujuan menwujudkan masyarakat adil dan makmur merata bagi seluruh rakyat yang berada dalam wilayah Republik Indonesia, dalam suasana yang tertib aman dan tentram serta dinamis, dan dalam pergaulan dunia yang merdeka dan bersahabat.

Ruang lingkup pembangunan yang direncanakan adalah bidnag Ekonomi, termasuk ke dalamnya sektor: Pertanian, Industri, Pertambangan, Prasarana, Pariwisata, Koperasi, Transmigrasi, Pembangunan Daerah

Dan sumber Alam serta linggkungan Hidup. Bidang Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Sosial Budaya, termasukdi dlamnya sector Agama. Pendidikan Kebudayaan, IPTEK, Penelitian, Kesehatan, Keluarga Berencana, Kependudukan, Perumahan, Kesjahteraan Sosial, Generasi Muda, dan Pernan Wanita Bidang Polotik, dan dengan sector : Aparatur Pemerintah, Hukum, Peneangan, Pers, Hubungan Luar Negeri.

Peranan manusia dalam pembangunan adalah sebagai perencana; tentang kelayakan, kemanfaatan sumber daya alam, sumber daya manusia, dan dana. Manusia juga berperan sebagai pelaksana pembangunan terutama dalam manajemen dan tenaga ahli, tanggung jawab dan memiliki berbagai kemampuan yang relevan. Manusia juga sebagai pengawas dan kewenangan. Dan akhirnya manusia ada;lah pemakai dari hasil pembangunan.

Beberapa Pertanyaan untuk Latihan

1. Mengapa pembangnan diartikan sebagai perubahan yang terencana ?

2. Dimana kita memperoleh informasi tentang rencana pembangunan nasional sebutkanarti Pelita dan

Repelita ?

3. Apakah yang dimaksud dengan ruang lingkup pembangunan nasional sebutkan bidang-bidangnya saja.

4. Apakah semua bangsa Indonesia berperandalam pembangunan nasional, sebagai apa ?

5. Apa yang dimaksud dengan pembangunan fisik dalam bidang pendidikan ?

Cafestudi061.wordpress.com

Mengapa Harus Malu September 16, 2008

Posted by cafestudi061 in Cerpen.
add a comment

I am very happy when I read my short story was publish in cafestudi061’s weblog the friendly blog. Bravo,.. bravo to may friend said Syaiful Pandu. I thing this make me happy too. I hope for all friend has read this, please give your comment. Thanks see in the next story. Nice to meet you again.

Genta, Minggu III Oktober 1983

KALAU berbicara mengenai nasib atau jalur hidup anak manusia, memang absurd sekali. Sulit ditebak apa jadinya. Ada orang yang ditakdirkan kaya raya, ada yang miskin kepapa. Ada yang berbahagia dan ada pula penuh duka, dan ada-ada saja.

Coba bayangkan! Dalam usiaku yang baru mau menginjak  keempat belas ini, aku sudah harus memikirkan periuk nasi dan asap dapur keluarga. Padahal anak-anak sebayaku hari-harinya penuh perlindungan. Perlindungan menyeluruh. Sebentar lagi kalau sudah remaja, masa remajanya penuh romansa. Yakh ….  itulah nasib. Barangkali nasibkulah yang belum beruntung. Tapi terus terang, aku tidak mau kalau aku ini dikatakan sebagai orang yang “merugi” seperti merugi yang dimaksud dalam ayat; Wal asri, Innal insanalafi qusri, itu.

Bila sore menjelang senja, seperti biasanya, aku telah harus hadir di rumah Pak Munasril, pengusaha yang punya gerobak bakso tidak kurang dari tiga belas buah. Setiap gerobak itu diberi oleh Pak Munasril bernomor. Mulai dari nomor 01, 02, 03 dan kosong seterusnya. Yang 07 pendorong gerobaknya adalah aku..

Setiap pendorong gerobak itu, alias penjual bakso Pak Munasril, telah memunyai jalur-jalur tertentu untuk memasarkan baksonya masing-masing. Yang jelas, pada sebuah jalur atau jalan, jarang terdapat pedagang bakso berganda dari produksi yang sama. Karena sore-sore sebelum berangkat, para pedagang bakso ini telah bikin planning, jalan-jalan mana saja yang akan dilewati.

Aku betul-betul merasa sedikit beruntung, karena jalur bagianku tergolong daerah yang “basah” Yakni jalan Bintara. Di sepanjang jalan inilah setiap senja sampai larut malam aku sering mangkal.

Aku memulainya dari jalan Perwira. Kalau nasib lagi mujur, belum lagi pukul 21.00  baksoku sudah habis dan kikis. Berarti aku berkesempatan menikmati acara Dunia dalam Berita di televisi, lewat jendela rumah salah seorang langgananku. Selesai Dunia dalam berita, barulah aku berarak pulang.

Atas anjuran salah seorang pelanggan baksoku, nomor gerobakku agar ditambah satu angka nol lagi. Yang semula bernomor 07, sekarang dijadikan 007. “Biar menjadi  bakso James Bond” katanya sambil berkelakar.

Agar pelanggan tidak kecewa, maka kupenuhi saja anjuran mereka itu. Semenjak itulah mereka mengenalku sebagai tukang bakso James Bond. Meskipun, kata mereka pukulan kentongan baksoku memunyai irama tersendiri. Tanpa melihat pun, di dalam rumah saja malam hari mereka tahu, kalau yang datang adalah gerobak baksoku. Dan memang itu sudah merupakan ciri khasku. Sudah merupakan identitas. Aku setuju kalau identitas itu penting sekali artinya bagi setiap kreativitas. Biar kita dikenal masyarakat. Kata Goenawan Mohamad, setiap kreativitas harus punya identitas, agar kita meninggalkan kesan. Sebab, kata Goenawan, orang yang pergi tanpa kesan, berarti tidak punya fondasi yang kuat untuk bicara tentang dunianya. Aku tidak mengerti maksud Pak Goenawan Mohamad itu.

Kalau direnung-renung, terkadang aku bangga juga menjalani hidupku seperti ini, sebab, dalam usia yang masih begitu muda, aku bisa bekerja membiayai sekolahku. Malah aku telah pula bisa membahagiakan ibuku yang janda dan mulai renta. Yang semula beliau hilir mudik pakai sepeda Hercules tua untuk menjajakan sayur-mayur. Masuk kampung ke luar kota .  Sekarang beliau telah kubebas tugaskan.  Karena sudah berangsur tua, biarlah di rumah saja. Perbanyak berdoa.

Mulanya beliau tidak mau. Alasannya, kalau beliau tidak ada kegiatan, badan rasanya pegal-pegal. Setelah aku bermohon dengan sangat, dengan janji masalah asap dapur aku yang tanggung, dan aku akan tetap sekolah. Beliau luluh. Tetapi tetap saja beliau mencari kegiatan di rumah. Ada-ada saja yang beliau kerjakan. Duduk saja pun beliau menyulam. Minta tolong hanya kalau memasukkan benang ke lubang jarum.

Cuaca sejak siang mendung saja. Matahari menyelinap di balik awan.

Sore hujan rintik-rintik. Senjanya hari semakin gelap. Di belahan barat langit menghitam. Sebenarnya jika hujan gerimis, malam-malam bawaan orang-orang pada ingin makan saja. Utamanya makan bakso atau goreng-gorengan. Ini pengalamanku.

Biasanya, separuh jalan Bintara kurayapi, baksoku sudah habis dibeli pelanggan. Jarang-jarang yang sampai ke ujungnya. Tapi kali ini, hampir aku mencapai ke ujungnya, baksoku masih tersisa. Untunglah keluarga di rumah mewah ujung memanggil-manggil; “Bakso! Bakso!” Maka lempanglah hatiku. Apalagi nampaknya mereka keluarga besar, yang sepertinya akan memborong baksoku. Wow, senangnya.

Astaga, aku melihat salah seorang di antara mereka seperti orang yang sangat kukenal. Dia memelukkan piring ke dadanya. Meskipun dalam cahaya gelap-gelap terang, jelas dan pasti, dia adalah Yanti, teman sekelasku. Heran, entah kekuatan apa yang telah memerintahkan otak bawah sadarku untuk membelokkan gerobakku  180 derajat. Tanpa memberikan sepatah jawaban pun, aku telah berbalik arah menghindar  dari areal tersebut.

Semenjak itu, aku tidak pernah menjejak-jejakkan kakiku lagi di sepanjang jalan Bintara. Daerah operasiku sekarang telah berpindah ke jalan Mustika, yang “gersang” dan “sepi”. Apalagi di malam hari. Rumah-rumah mewah tertutup rapi, seperti tak berpenghuni. Kecuali lampu-lampu taman yang menawan. Mungkin mereka tidak mau jajan sembarangan, seperti makan di warung-warung pinggir jalan. Atau makan di gerobak asongan.

Malam ketujuh aku mangkal di jalan Mustika, terasa benar merosotnya penjualanku. Malah sering tak terjual separuhnya. Seperti malam ini, Hujan dari senja hanya rintik-rintik saja. Tapi malamnya hujan turun begitu derasnya.

Malam sudah pukull 00.00. Baksoku masih membukit. Hujan makin deras juga. Untuk menjaga kesehatan badan, aku berteduh pada sebuah pohon dekat gardu listrik.

Meskipun aku sudah berteduh, namun badan ini tak terhindarkan dari percikan-percikan air. Kaca gerobakku telah suram, kabur karena diterpa tempias hujan.

Pada saat seperti inilah terkadang aku merenung. Mengapa begitu malang nasibku. Tanpa disadari, air suam-suam kuku mengalir lewat pipiku. Menetes bercampur dengan air hujan. Aku menangis. Sungguh sedih hatiku.

Mengapa pula aku harus bersedih, barangkali masih banyak orang yang hidupnya lebih morat-marit dari aku ini.

Jelas itu salahku sendiri. padahal tempo hari, ketika mangkal di jalan Bintara, baksoku begitu laris manis. Majikanku senangnya bukan main. Keuanganku lancer. Tapi bamanalah? Aku malu berjualan bakso di jalan Bintara. Aku malu pada Yanti, teman sekelasku. Namun  jika dipikir-pikir, MENGAPA HARUS MALU???@@@

SIAPKAH SEKOLAH-SEKOLAH DI BAWAH YAYASAN PENDIDIKAN CENDANA MENJADI SEKOLAH SBI? SIAPA TAKUT ??? September 16, 2008

Posted by cafestudi061 in Pendidikan.
add a comment


Dengan adanya kerja sama antara Yayasan Pendidikan Cendana dengan Universitas Negeri Malang yang akan mempersiapkan Sekolah-Sekolah dibawah naungan YPC, seperti SMA dan SMP belajar dengan menggunakan dwibahasa (bilingual). Sebab sudah banyak yang mengatakannya siap untuk sekolah SBI, tapi kenyataannya ???

Kini sudah memasuki tahun kedua dari program Yayasan untuk menjadikan Sekolah-sekolah di bawah naungan Yayasan Pendidikan Cendana menjadikan sekolah ini, khususnya SMP dan SMA menjadi Sekolah Bertaraf Internasional (SBI). Pada saat sekarang ini banyak sekolah baik yang ada di kota maupun di desa sudah menyandang predikat sekolah SBI (Sekolah Bertaraf Internasional). Sekolah yang merupakan tempat tujuan dari para orang tua menyerahkan anaknya untuk belajar dan mengembangkan kemampuan putra-putri mereka. Dari sekian banyak sekolah yang ada di beberapa tingkatan di Indonesia maka sekolah SMK menjadi salah satu tingkatan yang mempunyai sekolah SBI terbanyak di Indonesia sebanyak 170 sekolah. Sekolah SBI adalah perkembangan dari sekolah yang dulunya disebut SNBI (Sekolah Nasional Bertaraf Internasional) dan kemudian menjadi SBI. Perkembengan ini akan berlanjut sampai saat ini menjadi sekolah Rintisan SBI. Sekolah yang sudah memenuhi predikat sebagai sekolah SBI harus melaksanakan berbagai macam persyaratan yang telah ditetapkan oleh Standar Internasional.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi sebuah sekolah, sehingga sekolah

tersebut mendapat predikat SBI. Diantara syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu yaitu :

1. Sekolah harus mendapatkan sertifikat ISO 9001:2000 sebagai faktor utama sekolah melangkah ke SBI. Untuk mendapatkan sertifikat ISO tersebut sekolah harus melaksanakan beberapa pekerjaan dan kegiatan yang dilaksanakan dalam proses apapun di sekolah. Proses tersebut meliputi dari proses kegiatan belajar mengajar, proses pembinaan siswa dan guru, dan yang paling penting proses penyelenggaraan sekolah yang meliputi manajemen sekolah yang baik.Di dalam poin ISO sekolah harus melaksanakan kontrak kerja atau janji kinerja sekolah dalam proses penyelenggaraan dan proses kegiatan belajar mengajar. Janji kinerja tersebut harus dilaksanakan oleh seluruh komunitas atau civitas academika di sekolah tersebut. Jika janji kinerja tersebut tidak terlaksana maka sertifikat ISO yang telah didapatkan harus ditinjau ulang oleh pihak pemberi sertifikat dan kemungkinan bisa diturunkan status sekolah tersebut menjadi sekolah biasa.Kegiatan yang sangat mencolok dalam proses KBM dan kegiatan ekstrakurikuler di SBI adalah penggunaan dwibahasa atau bilingual. Komunikasi yang terjadi antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa dan guru dengan guru harus menggunakan bahasa internasional yang dalam hal ini biasanya menggunakan bahasa Inggris. Dan untuk melakukan hal itu perlu dipersiapkan kemampuan dari elemen sekolah, dari penyelenggara sampai pelaksana pembelajaran di sekolah. Persiapan tersebut bisa berupa pemberian les bahasa Inggris kepada siswa, guru, dan karyawan. Jika sekolah yang sudah di “cap” sebagai SBI masih menggunakan bahasa Indonesia saja dalam komunikasi antar siswa, guru, dan karyawan maka sekolah tersebut belum layak untuk disebut sebagai sekolah SBI. Karena ciri khas yang paling menonjol untuk sekolah SBI adalah sekolah harus sejajar dengan sekolah di luar negeri dengan kemampuan yang sama, sehingga jika para peserta didik bertukar atau berkooperasi dengan sekolah di luar negeri maka interaksi yang mungkin harus menggunakan komunikasi yang efektif lewat bahasa internasional.

2.  Tidak hanya bahasa Inggris yang harus dikuasai oleh seluruh civitas akademika tetapi juga bahasa yang lain yang berhubungan dengan program keahliannya. Sekolah SMK teknologi yang alat kerja siswanya    bekerjasama dengan negara jepang, maka siswa di sekolah tersebut ditambah bahasanya yaitu bahasa jepang. Sekolah yang jurusannya tentang mesin buatan jerman maka sekolah tersebut menambah kemampuan siswanya dengan pelajaran bahasa Jerman. Sehingga pada waktu kerjasama dengan luar negeri maka siswa tidak lagi asing dengan bahasa yang digunakan oleh pihak lain.Kerjasama yang dibangun sekolah dengan pihak asing sudah harus dibangun untuk mendapatkan titel SBI. Kegiatan yang dikembangkan dan dilaksanakan di SMK adalah prakerin (praktek kerja industri). Untuk sekolah SBI, prakerin yang dilaksanakan oleh siswa harus di luar negeri selama masa yang telah ditentukan. Sehingga dengan prakerin di luar negeri maka suatu saat siswa yang sudah lulus dari sekolah SBI akan bekerja di perusahaan luar negeri yang sesuai dengan kompetensi yang dia miliki. Karena selama ini para tenaga kerja Indonesia baik pria dan wanita kebanyakan berprofesi sebagai pembantu rumah tangga yang semakin hari banyak kasusnya.Untuk membuat siswa dapat ke pihak luar negeri maka sekolah harus membangun berbagai kerjasama dengan pihak asing. Yang paling utama adalah perusahaan asing yang sesuai dengan program keahlian di sekolah tersebut. Jurusan otomotif bekerjasama dengan perusahaan otomotif Jepang seperti Suzuki, Honda, Yamaha dan lain-lain. Tetapi bagaimana jika sekolah SBI belum mempunyai kerjasama dengan pihak asing, sudah layakkah disebut sebagai sekolah SBI?

3. Dalam melaksanakan persiapan siswa untuk berkembang sebagai siswa yang unggul dan kompeten diperlukan fasilitas pendukung yang memadai. Fasilitas dalam proses KBM dan faktor pendukung pembelajaran harus dilengkapi, sehingga setiap siswa melaksanakan kegiatannya maka siswa dapat dengan mudah menemukannya. Fasilitas pendukung seperti media informasi dan teknologi harus mampu digunakan siswa, terutama internet harus dapat diakses siswa saat dibutuhkan dan diperlukan. Peran media komunikasi dan informasi sangat banyak untuk pengembangan kompetensi siswa dan hubungan siswa dengan pihak asing. Email adalah sarana yang murah untuk melaksanakan komunikasi jarak jauh, sehingga pertukaran informasi menjadi semakin cepat dan tidak terbatas. Maka dari itu muncul program jardiknas oleh pemerintah sebagai masa depan online pendidikan di Indonesia. Bagaimana jika sudah ada fasilitas tetapi tidak digunakan? Tentunya biaya yang cukup mahal untuk membuat sekolah SBI akan terbuang percuma. Oleh karena itu diperlukan sumber daya manusia yang cakap dan unggul untuk memanfaatkan fasilitas dan mengajarkan kegunaan serta manfaat yang ada di sekolah SBI.Utuk melaksanakan kegiatan penyelenggaraan di sekolah SBI harus diterapkan sistem manajemen mutu. Manajemen inilah sebagai dasar pelaksanaan kegiatan penyelengaraan sekolah SBI. Dalam melaksanakan manajemen sekolah SBI harus membuat sistem manajemen yang tertata rapi dan teratur, sehingga jika data dan file dibutuhkan maka data dan file tersebut cepat ditemukan dan digunakan sesuai keperluannya.Bagi sekolah yang belum menjadi sekolah SBI harus dipersiapkan kelengkapannya untuk menjadi SBI.

Syarat-syarat yang sudah dibahas hanya sebagian kecil dari kelengkapan untuk menjadi sekolah yang disebut Sekolah Bertaraf Internasional. Jangan sampai menjadi bomerang dan diplesetkan menjadi Sekolah Bertarif Internasional. Karena sistem penyelengaraan dan pelaksanaan KBM tidak sesuai dengan standar Internasional tetapi biaya yang digunakan sesuai dengan pihak asing.Jelas bahwa tujuan pemerintah membentuk sekolah SBI adalah untuk meningkatkan mutu dari sekolah yang ada di Indonesia menjadi sekolah yang unggul dan mampu berkompetisi dengan sekolah-sekolah asing yang berada di luar negeri maupun yang sudah membuka di negara kita. Mampukah kita melaksanakannya? Sudah siapkah sekolah-sekolah di bawah Yayasan Pendidikan Cendana khususnya SMP dan SMA Cendana menjadi Sekolah Bertaraf Internasional ? Itulah pertanyaan yang harus dijawab dan dilakukan oleh stakeholder di Yayasan Pendidikan Cendana, khususnya serta setiap sekolah di Indonesia baik yang SBI maupun non-SBI.

Cafestudi061

Perkenalan September 15, 2008

Posted by cafestudi061 in Cerpen.
add a comment

Hi, friend said Syaiful Pandu, Bravo, I very happy, and full surpraise because my short story was publish and posting in cafestudi061’s weblog. Thanks brother. Get success and fell healthy to you. Please read this my story.

Haluan Minggu,  6 Febriari 1983

SUASANA di areal kampus Universitas Riau pagi ini belum begitu riuh. Malah bolehlah dikategorikan masih sunyi, sunyi sekali. Beberapa ruangan sedang dimanfaatkan oleh mahasiswa–mahasiswi yang kuliah pagi ini. Yakni yang kuliah pukul 07.00. Sekarang baru pukul 07.30. Seandainya hari sudah siang, pastilah suasananya akan jadi lain. Pasti akan riuh rendah oleh suara tawa para pengemis ilmu (baca mahasiswa) dan ditingkah pula oleh deru berbagai jenis kendaraan roda dua dan roda empat. Kalau deru sepeda, bukan hanya tidak kedengaran, malah tidak kelihatan lagi wujudnya. Sayang, mengapa calon-calon intelektual kita begitu enggan naik sepeda akhir-akhir ini. Padahal sepeda itu selain hemat, juga membuat badan kita jadi sehat.

Matahari terus saja merangkak, meninggi. Seakan ingin mencapai awan yang paling tinggi. Padahal bukanlah begitu logikanya.dia hanya menjalankan tugasnya dalam dua puluh empat jam nonstop. Entah sampai kapan matahari ini tetap setia melaksanakan tugasnya. Barangkali sampai dunia kiamat.

Sebagaimana halnya matahari, merangkak, begitu pula para mahasiswa Universitas Riau. Memang tidak merangkak, tapi merayap pakai sepeda motor. Sedikit sekali yang datang dengan mengayunkan dengkul, alias jalan kaki. Indonesia kita kan sudah hampir mencapai makmur sekarang, Mana ada mahasiswa yang jalan kaki pergi kuliah. Kalaupun ada, itu, toh mengada-ada, dan tidak bisa dijadikan alasan untuk mengurangi arti kemakmuran itu.

Nona Adriyetti mengurangi kecepatan Honda Cup Super 800-nya. Kemudian dengan cekatan dia membelokkan sepeda motornya ke pintu gerbang kampus Universitas Riau. Di pos jaga dekat pintu gerbang itu kasak kusuk dua orang anggota Menwa. Nampak-nampak tengah memersiapkan permainan catur. Sebuah senyuman simpul telah dilemparkan oleh nona Adriyetti kepada mereka berdua. Nampaknya mereka kenal-kenal tanggung.

Honda bebek merah yang dikendarai nona Adriyetti itu langsung saja mengambil tempat parkir yang strategis di bawah pohon akasia. Setiap hari dia memilih tempat parkir di situ, seperti langganan saja.

Dalam jadwalnya nona Adriyetti kuliah pukul delapan 08.15. Sekarang belum pukul 08.00. Jadi dia punya kelebihan waktu sekian menit lagi menjelang perkuliahan Sosiologi Sastra dimulai. Entah nona Adriyetti mengerti bahwa waktu ini adalah uang, entah bagaimana, tak tahulah. Yang jelas waktu yang kelebihan beberapa menit itu langsung saja dihabiskannya di Perpustakaan Pusat Universitas Riau.

Dia berjalan melenggang-lenggok menuju pustaka. Para pegawai pustaka yang berjumlah empat orang itu tengah sibuk mengemasi sebagian buku yang letaknya siperkirakan kurang teratur. Yang seorang lagi sibuk mengipas-ngipas debu dengan pengipas bulu ayam. Nona adriyetti mengambil tempat duduk tidak beberapa jauh dari laci katalog. Di sudut sebelah kanan dua orang pemuda tengah kusuk membaca koran edisi kemarin.

Nona Adriyetti mengeluarka  sebuah buku dari dalam tasnya, dan langsung membacanya. Dua orang pemuda yang diperkirakan tengah kusuk tadi sekarang konsentrasinya telah terbagi dua. Yang sebagian ke berita-berita ringan yang disajikan dalam koran. Sebagian lagi sudah jelas tertuju kepada nona Adriyetti yang berwajah rada-rada penyanyi Irni Basyir itu.

Sayang kedua pemuda itu kurang kuat mempertahankan prinsip dasarnya. Yang semula tengah kusuk membaca koran, tetapi hadirnya seorang kaum hawa membuat mereka jadi berpaling. Acara baca korannya sekarang telah mereka kesampingkan. Dan perhatian telah tertuju seratus persen kepada nona Adriyetti. Mereka tengah memikirkan suatu strategi untuk memulai sesuatu. Katakanlah intersaksi antara mereka.

Acara suit-siutnya segera saja dilancarkan. Memang pada dasarnya wanita dan pria itu sama saja pola tingkah lakunya. Cuma semuanya tergantung situasi dan kondisi. Lelaki kalau sedang sendiri juga tidak mampu berbuat apa-apa. Begitu juga halnya wanita. Baik di jalan, maupun di atas oplet sekalipun, pria dan wanita sama saja cerianya. Itu kalau berkawan. Coba kalau lagi sendirian, dapatlah dibayangkan, tak satu atraksi pun mungkin dapat dilakukan.

Pemuda itu sekarang berdua, tentu dia merasa mempunyai ketahanan mental untuk mengganggu nona Adriyetti. Mesi nona Adriyetti agak sedikit menunduk ke meja karena membaca, namun di baju kaosnya cukup jelas dan gamblang tertulis angka 1828. Langsung saja angka 1828 itu dijadikan materi untuk serangan pertama, sekedar mukadimah memperlancar diplomasi.

“1828, peristiwa apa itu ya?” kata salah seorang di antara pemuda itu.

“1828, itu, kan Sumpah Pemuda” balas kawannya pula.

“Hari Sumpah Pemuda 1928 Mack, bukan 18.. Percuma saja kau IQ tinggi, tapi pelupa” mereka berdebat berdua.

Nona Adriyetti tetap pada posisi semula, seolah tidak terjadi apa-apa. Walau sebenarnya suara kedua pemuda itu cukup lantang kedengarannya. Tapi dia tetap tidak mengacuhkannya. Pemuda-pemuda iseng, untuk apa dilayani, bisik hatinya pula.

“Oya, baru aku ingat, 1828 itu, kan judul sebuah film Nasional yang disutradarai oleh Teguh Karya. Tapi sebelum angka 1828, diembel-embeli dengan kata November. Lengkapnya November 1828.

“Betul-betul” balasnya.

“Ada apa rupanya? Kau penggemar film nasional, ya? Atau malah kau ikut serta sebagai figuran dalam film tersebut?”.

“Kalau tampang memang meyakinkan. Aku nonton film tersebut sampai dua kali. Pertama di bioskop Karya Solok. Kedua di bioskop Lativa Pekanbaru. Tapi, kok ya,  tidak pernah saya melihat tampang pemainnya seperti ini”.

Nona Adriyetti sekarang telah yakin seyakin-yakinnya, bahwa dirinya sedang dituding. Tapi tidak sedikitpun merasa tarpojok. Yang disayangkannya sportivitas kedua pemuda itu. Kalau ingin kenalan, jangan begitu  dong caranya, bisik hatinya lagi.

Nona Adriyetti mengubah sedikit posisi duduknya, sehingga buku yang tengah dibacanya sedikit terangkat. Kedua pemuda tadi melihat sepintas kata Perawan pada cover buku yang dibacanya.

“Waduh, judulnya seram; Perawan! Senang juga baca buku-buku kayak begituan ya” katanya.

Nona Adriyetti pun sudah tidak bisa konsentrasi lagi. Diangkatnya buku tersebut dan diperagakannya sampulnya kepada kedua pemuda itu. Maka jelaslah terlihat SUMAN Hs. Mencari Pencuri Anak Perawan. Nona Adriyetti kembali melanjutkan dan menekuni jalan cerita roman yang katanya semi detektif itu. Kedua pemuda itu masih belum kehabisan bahan baku.

“Mencari Pencuri Anak Perawan. Aku telah membacanya ketika usiaku mencapai enam belas tahun. Sekarang usiaku telah lewat dua puluh empat tahun. Berarti kurang lebih delapan tahun yang lalu aku telah membaca roman. Mencari Pencuri Anak Perawan. Kamu baru membacanya sekarang. Nggak ketinggalan tuh”  katanya sesama dia.

“Kata orang, biarlah ketinggalan daripada tidak dama sekali”

Kekesalan nona Adriyetti sudah sampai pada klimaknya. Dimasukkannya buku itu ke dalam tasnya. Kemudia berdiri. Dengan naluri kewanitaannya ditambah dengan sedikit keyakinan pada diri sendiri, dihampirinya kedua pemuda itu. Dengan gaya berkacak pinggang, persis seperti Mutia Dathau dalam film Malu-Malu Kucing, diberondonginya pemuda itu dengan pertanyaan;

“Kamu apaan, sih maunya? Mengganggu orang saja”.

Kedua pemuda itu sedikit bergidik, terlihat dari gerak-geriknya yang sedikit over acting. Mereka saling bertatap pandang. Barangkali bakal saling menyalahkan. Dalam hati nona Adriyetti tak tertahankan lagi rasanya untuk tertawa. Tapi stabilitas tetap dijaga agar jangan jatuh wibawa.

“Ceritanya, sih mau kenalan?”  kata salah seorang di antaranya.

“Kenalan-kenalan, ya kenalan, tapi jangan begitu dong caranya, aku kan, lagi serius belajar.” kata nona Adriyetti.

Mereka sama-sama mengulurkan tangan.

“Adriyetti”

“Syaiful. Mahasiswa tingkat tiga Fakultas Ekonomi dan lahir 24 tahun yang lalu di Sulitwater.”

Dalam hati nona Adriyetti mau memperpanjang dialognya, tapi segera saja pemuda yang satu lagi mengulurkan tangannya pula.

“Sapto Arbain, lahir di Rantauprapat. Blasteran antara Jawa versus Mandailing. Papa Jawa, mama Nasution.”

“Adriyetti”.

Karena keterangan Syaiful agak merupakan sedikit misteri. Langsung saja pertanyaan diarahkan kepada pemuda tersebut kembali.

“Oh ya, maksud Anda Sulitwater itu, Sulitair”.

“Tepat sekali “.balas Syaiful.

“Ah, bohong. Jangan coba-coba ngibul ya! Aku orang sana lho”.

“Kalau begitu kita sekampung. Di mana Sulitairnya?” kata Syaiful

“Di Kototuo”.

‘Ou, saya tak berapa jauh dari mesjid yang teramat bagus itu”.

“Sering pulang ke Sulitair?” lanjut Syaiful

“Cuma sekali setahun” jawab Adriyetti

“Kalau saya sering, kapan maunya saja. Malah baru-baru ini kami pergi naik sepeda motor. Dan ini Sapto Arbain ikut serta”.

“Hooh iya, kapok, deh aku ke Sulitair. Mungkin itu yang pertama dan terakhir aku ke sana. Habis, waktu mulai naik tanjakan pertama di Singkarak, rantai sepedamotorku putus. Untung cepat dapat diatasi ya, Pul”, kata Sapto Arbain pantang ketinggalan dalam pembicaraaan itu. Syaiful mengangguk dengan sedikit nyengir.

“Sering-seringlah lihat kampung kita ya, Adriyetti! Apalagi bus Merah Sungai ke sana sudah pakai video, asyik gat uh?” kata Syaiful. Nona Adriyetti mengangguk.

“Tapi terus terang Syaiful, ya! Saya mau pulang ke Sulitair bukan lantaran bus Merah Sungai pakai video itu, tapi panggilan hati kecil saya. Kerinduan akan kampung halaman. Nanti bila studi saya rampung, saya bersedia ditugaskan di sana. Kalau perlu saya buat permohonan rangkap tiga, atau rangkap berapa saja”. ucap nona adriyetti sungguh-sungguh.

Jarum jam tangan Bulova nona Adriyetti telah menunjukkan angka delapan lewat lima belas menit. Berarti dia harus meninggalkan lokasi untuk mengikuti kuliah Sosiologi Sastra.

Sebenarnya dalam hatinya keberatan sekali mengakhiri diskusi kilat dengan teman sekampungnya itu. Namun apa daya, dia harus mengikuti kuliah dengan dosen yang punya trade mark killer.

Nona Adriyetti segera mohon diri, sengan perjanjian tak tertulis kapan-kapan bakal disambung lagi dengan wawasan lebih luas.

Bagaimana kelanjutan PERKENALAN ini? Itulah yang sedang diproses pada sebuah proyek imajinasi milik saya pribadi. Pen @@

Sebuah Ikrar Telah Dilanggar September 15, 2008

Posted by cafestudi061 in Cerpen.
add a comment

My friend Syaiful Pandu very happy when he know his short story has publish in my weblog, and he is surprise. And I hope to all reader please share this short story to your friend. Good Day, and Enjoy yourself.

Singgalang Minggu, 19 Juli 1981

 

 

Anak-anak di bawah usianya memanggilnya Da Ijal, termasuk juga aku, memanggil dengan Da Ijal. Tapi bila hatiku sedang kesal kupanggil dia Dajjal. Da atau Uda adalah bahasa kampungku, kalau Uda ini dinasionalisasi itu berarti kakak atau abang. Jadi Da Ijal itu berarti Bang Ijal. Yakh, Da Ijal atau Bang Ijal adalah segala-galanya bagiku, dialah cahaya harapanku. Bukan itu saja, bahkan secara informal Da Ijal telah dianggap sebagai unsur anggota keluarga kami. Ini mungkin saja karena Da Ijal telah banyak berbuat tentang apa saja untuk keluarga kami.

 

Kalau atap rumah yang bocor Da Ijal yang turun tangan. Kalau keluarga kami mengadakan kenduri kecil-kecilan ataupun besar-besaran, Da Ijallah yang jadi sibuk. Bahkan waktu kemarau panjang tahun lalu pernah kami dibuatkan sebuah sumur di belakang rumah dengan kedalaman tidak kurang dari lima meter. Sungguh banyak sekali saham yang telah ditanamkan oleh Da Ijal untuk keluargaku, entah dengan apa harus dibalas.

 

Di dalam kampung kecil ini pun nama Da Ijal cukup harum dan terpandang, baik di bidang sosial maupun organisasi lainnya. Bila senja menjelang, dialah yang terlebih dahulu hadir ke mesjid itu untuk memukul beduk, kemudian diiringi dengan suara azannya yang merdu merayu. Aku dan khalayak ramai hapal benar suara itu.

 

Setiap senja, setiap dia lewat di depan rumahku, tak pernah dia lupa mengingatkan padaku bahwa waktu sembahyang maghrib telah masuk. Masih terngiang-ngiang di telingaku suaranya yang bariton itu,

“Hai Wandaty, waktu sembahyang sudah di ambang jendela, sembahyang berjamaah yuk!!” , begitu seringkali Da Ijal mengajakku. Ayah dan emakku juga ikut-ikutan memberitahu. Meskipun begitu aku jarang sekali berjalan beriringan berdua bersama Da Ijal, walau ke mesjid sekalipun. Hal ini karena lingkunganku menganggapnya masih tabu dan janggal. Kolot sekali, ya!

 

Aku hanya menyusul saja dari belakang untuk pergi ke mesjid Al-Ishlah itu. Kecuali kalau suatu kebetulan barulah aku jalan bersama-sama dengannya. Sebenarnya terus terang saja, suasana jalan bergandengan seperti ini selalu dalam anganku. Tapi harap maklum kita orang Timur. Da Ijal kalau kangen dia langsung saja bertamu ke rumahku, menjumpai ayah dan emakku. Memang gentleman dia. Dan setelah mendapat restu barulah berbincang-bincang denganku. Ayah dan emakku mundur teratur ke belakang. Bersyukur juga aku punya orangtua yang memiliki pengertian, dan tahu kebutuhan primer kaum remaja seperti kami ini.

 

Tapi di akhir-akhir ini, kedatangan Da Ijal ke rumah ada pembatasan. Tapi tidak tertutup sama sekali. Atas inisiatif ayah dan demi sekuriti kami bersama ayah menganjurkan pada Da Ijal. Kedatangannya ke rumah supaya dikurangi dan dibatasi. Karena sudah ada beberapa fenomen dari gelagat para tetangga untuk memorak-porandakan hubungan silaturahmi antara Da Ijal denganku beserta keluarga.

Mereka-mereka itu menyebarkan berbagai macam fitnah. Mereka katakan keluarga kami telah memperalat tenaganya Da Ijal. Mereka katakan aku dan Da Ijal berbuat yang tidak-tidak. Dan macam-macam fitnahan yang lainnya. Pokoknya variatiflah. Tapi yang sebenarnya terjadi, sungguh Tuhanlah yang Maha Tahu. Yang jelas kami tidak pernah melakukan hal yang tidak-tidak, yang namanya melanggar norma-norma adat apalagi agama.

 

Semenjak itulah, aku dan Da Ijal jadi jarang untuk mengadakan pertemuan. Ditambah pula belakangan ini Da Ijal sibuk menghadapi pelajaran untuk menyelesaikan studinya, sementara aku juga sibuk menghadapi ujian kenaikan kelas.

 

Menurut Da Ijal dalam penuturannya padaku, dia akan melanjutkan studinya ke IKIP. Aku dan Da Ijal memang mempunyai cita-cita yang sama dalam memilih karir. Yaitu sama-sama kelak akan mengabdikan diri kepada anak didik. Kami akan berbahagia sekali mempunyai status dan profesi sebagai guru. Mudah-mudahan Tuhan mengabulkan iktikad kami yang suci ini.

 

Berkat doa Da Ijal dan barangkali mungkin karena ditopang juga oleh doaku, dia berhasil lulus dalam menempuh ujian  penyaringan untuk dicatat sebagai mahasiswa di IKIP.

 

Tak pelak lagi antara aku dan Da Ijal akan berpisah dalam waktu beberapa tahun. Terus-terang, aku betul-betul keberatan menghadapi kenyataan ini, aku ogah berpisah dengan Da Ijal, aku enggan ditinggal olehnya. Tapi yakh, demi masa depan kami, aku rela dan aku harus sanggup berpisah dengan Da Ijal.

 

Suatu hari menjelang keberangkatannya, di bawah pohon kedondong di belakang rumahku Da Ijal menguber janjinya padaku.

“Percayalah Wandaty, perpisahan kita ini bersifat sementara saja, demi masa depan kita-kita juga. Kuharap engkau tawakal menghadapinya. Nanti kalau kuliahku telah rampung, kita akan segera membangun rumah tangga, akan kita dirikan mahligai bahagia yang dilandasi dengan fondasi yang kokoh berdasarkan cinta kita yang tulus dan suci”, begitu tutur Da Ijal dengan mimik yang meyakinkan padaku. Dan pesannya lagi,

“Rajin-rajinlah belajar, nanti kalau aku Sarjana Muda, Wandaty tamat SPG. Aku mengajar di SLA, Wanda mengajar di SD. Kita sama-sama mengajar dan kita akan mendapatkan in come berganda”. begitu Da Ijal menitipkan harapan padaku. Oh alangkah indahnya ketika itu. Tapi apakah itu hanya fatamorgana? Entahlah. Wallahu alam bisshawab.

 

Walaupun aku belum resmi menjadi milik Da Ijal.  Walau aku belum istrinya yang sah; namun sewaktu keberangkatannya tempo hari, sebuah sun telah kuhadiahkan padanya. Kuhinggapkan tepat di pipi kirinya. Kulihat kebahagiaan terpancar di wajah Da Ijal. Dan terkadang pun aku sudah merasa bahagia, karena dapat membahagiakan seseorang pada saat-saat yang mengharukan, seperti perpisahan ini misalnya.

 

Minggu-minggu pertama aku memang merasa kehilangannya untunglah tiga kali dalam sebulan surat-suratnya selalu mengunjungiku. Begitu pula aku sebaliknya. Surat-surat Da Ijal betul-betul berfungsi sebagai penghibur di kala sunyi menyelimuti diri. Di akhir setiap suratnya tak pernah Da Ijal lupa menyelipkan sepotong kalimat, “Peluk rindu untukmu Wanda”.

 

Setiap hari ingatanku selalu pada Da Ijal, dan selalu menyita seluruh perhatianku. Tapi semua itu bisa kuatasi dengan jalan mencurahkan perhatian sepenuhnya pada pelajaran. Sudah memasuki tahun kedua Da Ijal berpisah denganku. Pertemuan hanya melalui surat-surat belaka. Meski keinginan untuk bertemu muka sungguh memuncak sekali.

Begitulah. Detik, menit, jam, hari dan bulan terus merayap. Memang lamban tapi jelas dan tegas. Suasanapun jadi ikut-ikutan berubah dan berganti. Sebuah malapetaka dalam batinku telah menimpa diriku. Apalagi persoalannya kalau bukan skandal hubungan antara aku dan Da Ijal. Heran aku jadinya, mengapa belakangan ini Da Ijal jadi jarang menyuratiku. Dari jarang malah akhirnya sampai tidak ada sama sekali. Padahal sudah dua tiga surat kulayangkan. Terakhir ini pernah pula aku susulkan dengan sebuah telegram indah. Usahaku yang terakhir inilah yang bisa menggugah hatinya untuk memberitahukan peristiwa apa sebenarnya yang sedang terjadi.

.

Isi surat Da Ijal benar-benar membuat aku heran tak mengerti. Dan yang lebih menjadi tanda tanya, yaitu pada alinea terakhir isi suratnya yang kuterima seminggu yang lalu. Katanya

“Pesanku padamu Wandaty, hati-hatilah mengoleksi teman priamu, ya!. Maklumlah pria jaman sekarang sukar sekali ditebak isi hatinya. Hari ini cinta besok-besoknya belum tentu. Untuk teman pendampingmu kelak, tek perlu yang ganteng atau yang kaya, yang penting setia. Dan selamat belajar, doaku selalu menyertaimu”. Itulah isi dan inti alinea terakhir surat Da Ijal padaku.

 

Aku betul-betul tak habis pikir atas semua ini. Oh, mengapa jadi begini akhirnya. Mungkinkah Da Ijal telah berpaling dari aku ini. Semudah itukah. Kalau tak ada apa-apanya tidak mungkin isi suratnya sampai bernada-nada demikian. Mungkinkah telah ada aku yang lain di hatinya. Kalau saja firasatku ini benar, tindakan apa yang harus aku lakukan.

 

Dalam hal ini aku tidak akan terlalu banyak menuntut. Hanya satu saja doaku pada Tuhan, mudah-mudahan aku berhasil lulus dalam menempuh ujian terakhir dalam bulan ini. Kalau aku lulus, tentu aku kan segera diangkat sebagai guru, dengan jalan ini segala kesibukan sebagai ibu guru akan dapat menyita seluruh perhatianku untuk melupakan Da Ijal.

 

Apa yang menjadi beban batin dan menjadi tanda tanya selama ini semuanya telah terjawab. Dalam libur semester kemarin Da Ijal telah menyempatkan dirinya untuk beranjangsana ke kampung, dengan menggiring seorang dara yang rupawan. Semua orang kampung juga memberikan informasi mengenai hal ini padaku. Dan aku telah mengambil suatu alternatif untuk tidak menemui Da Ijal. Karena aku telah mencap serta memvonisnya sebagai seorang yang telah ingkar janji. Dia telah mengkhianati cintaku yang begitu tulus dan agung.

 

Suatu hari tanpa kuduga dan sengaja, sewaktu pulang dari kebun aku telah bertemu pandang pada jalan setapak dengannya beserta gadisnya itu. Pertemuan ini merupakan sesuatu yang tak sengaja.

 

“Hai, Wanda, ke mana saja engkau dalam beberapa hari ini, kok tidak nongol ke rumah?” katanya. “Hmm, selama ini kau yang sering bertandang ke rumahku.” begitu kata hatiku. Lanjutnya lagi;

“Ini kenalkan, teman sekuliahku. Kalau tak ada aral melintang tahun depan kami akan bertunangan”. Dengan emosi yang terkendali kuulurkan tanganku dan kujabat tangannya yang lembut itu, maklum gadis kota, tak pernah memegang alat-alat berat seperti golok, cangkul, dan lain-lainnya.

“Wandaty”, kataku memerkenalkan diri”

“Mince, dengan ejaan lama”, balasnya.

 

Mulai saat itu (entah sampai kapan) dendam dan sakit hatiku pada Da Ijal betul-betul pada kondisi puncaknya. Tapi untunglah Tuhan memberi aku ketawakalan yang dalam. Semua malapetaka yang menimpa diri kuhadapi dengan dada lapang dan dengan jiwa yang lumayan besarnya. Seharusnya aku frustrasi, tapi aku sadar, hidup ini bukan hanya ini hari saja. Yang menjadi pikiranku kini adalah apakah semua lelaki seperti Da Ijal ini. Semudah dia membuat ikrar, semudah itu pula dia melanggar. Da Ijal oh Da Ijal. Engkau benar-benar Dajjal. @@@

Kepergian Ayah September 15, 2008

Posted by cafestudi061 in Cerpen.
add a comment

This is short story send to me from my best friend, Syaiful Pandu. He want me to publish and posting his short story to cafestudi061’s weblog. Please read and feel happy and enjoy yourself.

SINGGALANG MINGGU, 5 JULI 1981

Uhuk,uhuk…uhuk…uhuk…uhuk, dst. Batuk ayah semakin menjadi-jadi kudengar dari kamarku. Senyapnya sebentar saja. Jika dibanding antara batuk dan senyapnya, maka jauhlah lebih banyak batuknya. Walau setiap tiga hari sekali ayah tetap hadir di Puskesmas yang terletak di simpang tiga itu.

Jarak antara Puskesmas itu dengan pondok kami, kurang lebih dua kilometer. Biasanya ayah menempuhnya pakai sepeda Fonger tua. Hadiah dari seorang bekas majikan beliau dulu. Ayah pernah bekerja sebagai buruh harian pada perusahaan Semprong Lampu milik majikan beliau itu. Ayah memperoleh sepeda Fonger tua itu oleh karena ketekunan, keuletan serta dedikasi ayah yang menonjol.Tapi ayah sekarang tidak bekerja di sana lagi. Ayah sudah lama mengundurkan diri. Alasannya, kesehatan tidak mengizinkan. Lagi pula sudah beranjak tua.

Untuk kelanjutan hidup kami serta kelancaran asap dapur, ayah mengalihkan usahanya ke bidang lain. Keluarga kami hijrah ke kampong. Membuka areal pertanian yang tidak terlalu luas, tapi cukuplah untuk kesinambungan hidup kami. diselingi pula dengan berternak beberapa ekor ayam ras. Hasilnya bolehlah dikatakan lumayan. Kalau boleh, tidak bicara bohong, income atau penghasilan ayah sekarang ini mungkin empat tingkat di atas gaji beliau sewaktu memburuh dulu.

Meskipun ayah setiap tiga hari sekali tetap pergi ke Puskesmas, namun tidak juga ada tanda-tanda berkurangnya penyakit ayah yang cukup menyiksa itu. Malah batuk ayah menunjukkan gejala semakin seru.

Aku satu kalipun tidak pernah beranggapan bahwa obat-obat yang diberikan oleh mantri di Puskesmas itu tidak punya reaksi atau tidak mempan sama sekali. Hanya saja, aku menyesalkan juga sifat-sifat ayah yang tak acuh itu terhadap kesehatan beliau. Bila sakit beliau sudah gawat baru mau berobat.

Ayah kalau sudah bekerja jadi lupa segala-gala, terutama pada kesehatan beliau. Apalagi setelah ditinggal ibu beberapa tahun yang lalu. Sudah dua tahun ayah mengindap penyakit ini, tapi tiga bukan terakhir inilah keadaannya yang terlalu mengawatirkan.

Bukan hanya pertolongan pertama, bahkan pertolongan untuk yang kesekian kalinya akan selalu kuberikan pada ayah. Kurasa sepanjang usiaku, inilah baru bentuk pengabdianku pada ayah, kapan ayah memerlukan bantuanku, aku segera memberikannya sebatas kemampuan yang kumiliki.

Jam dinding tetangga berdentang sembilan kali. Yakh, baru pukul 21.00 sekarang, tapi, aku mengantuknya tak terkendali, dan mata ini tidak bisa diajak kompromi. Sementara Rita dan Marni, kedua adikku sudah mendengkur dengan nyenyaknya.

PR matematikaku yang harus diserahkan besok ini masih terbengkalai, dan baru separuhnyadikerjakan. Kalau PR ini tidak kuselesaikan pada malam ini, maka esoknya habislah aku disumpah serapahi oleh pak Edwar, guru matematika kami yang galak dan rada-rada tenggen itu. Tapi aku tidak peduli semua itu, apapun risikonya akan kuhadapi. Aku harus menolong ayah.

Kututup semua buku yang berserakan di atas meja itu, termasuk juga PR Matematikanya. Aku melangkah ke sebelah, ke kamar ayah. Daun pintu itu kuketuk-ketuk. Dibarengi dengan teriakan “Ayah,ayah,ayah….ayah” tak ada jawaban. Kuulangi lagi, tetap juga tidak ada jawaban. yang kudengar hanya dentuman batuk ayah yang tanpa variasi intonasi itu. Kupanggil lagi untuk terakhir kalinya. Ayah masih tidak menggubrisnya. Kesabaranku memanggil-manggil ayah sampai sudah pada batasnya.Kukumpulkan segala kekuatan kewanitaanku, kudobrak itu pintu, Aku berhasil membukanya secara paksa. Walau ada efek sampingnya, lututku lecet karena bersentuhan dengan lantai semen yang belum diplaster, tapi sakitnya tak kurasa.Mungin oleh karena seluruh perhatianku telah terbius oleh keadaan ayah.

Kulihat ayah terbaring menelentang di atas dua buah bantal,. Tenang dan sepi, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Padahal barusan saja ayah bertempur dengan batuk kronisnya.

Kurasa juga, baru sekali inilah selama hidupku aku menghardik ayah. Memanggil beliau dengan tekanan suara tinggi. Ini kulakukan karena keadaan memaksa. Karena ayah kupanggil berkali-kali, tapi tidak beliau tanggapi dan sahuti. Kuhampiri ayah, kupegang dahinya dan kugenggam erat tangan beliau, begitu dingin dan berkeringat. ”Ayah, apakah ayah perlu bantuanku?” Masih tetap bisu, kuulangi lagi kalimat itu;

”Ayah…..”

Akhirnya seolah-olah terpaksa ayah mencoba membuka mulut beliau yang terkatup itu.Secara serta-merta;

“Nila! Mana adik-adikmu?” begitu sendu pertanyaan ayah padaku,

“Mereka sudah tidur ayah” , jawabku dengan pandangan curiga.

Aneh sekali gerak-gerik ayah sekali ini, apalagi di malam selarut ini. Mungkinkah ayah akan pergi meninggalkan kami di dunia yang maha fana ini. Oh Tuhan, seandainya firasatku ini benar, aku mohon pada-Mu, tangguhkanlah dahulu keinginan-Mu itu. Sekarang kami sekeluarga masih saja dalam suasana berkabung, karena kepergian ibu kami tiga tahun yang lalu . Hanya semata-mata untuk memenuhu panggilan-Mu, begitu bisik hatiku. Pikiran yang tidak-tidak berkecamuk di benakku.

Atas permintaan ayah, kedua adikku Rita dan Marni kubangunkan. Kami duduk mengelilingi ayah sembari masing-masing kami memijat-mijat anggota tubuh ayah. Pembicaraan ayah melantur sudah ke mana-mana. Dugaanku semakin meyakinkan. Seperti ucapan-ucapan ayah inikah yang disebut-sebut orang sebagai amanah almarhum? Entahlah, aku sendiri tidak mengerti.

“Nila anakku!” lanjut ayah.

“Jagalah adik-adikmu baik-baik! Atasi agar mereka tidak terlunta-lunta kelak. Beritahu juga si Danil, abangmu di Pekanbaru mengenai hal ini. Ayah mungkin tidak dapat lagi bersama-sama di tengah-tengah kalian”. Ucapan ayah ini diselingi dengan batuk berat dan berulang-ulang,

“Ayah akan pergi menyusul ibumu” nafas ayah satu-satu, panjang.Tanpa kusadari air mataku bercucuran melihat perjuangan ayah. Ayah sedang berjuang menantang sakratulmaut.

Setelah kurang lebih tujuh kali beliau menarik napas panjang, kemudian……hop,terhenti. Napas ayah tiada lagi. Oh,secara spontan tangisku berganti menjadi jeritan histeris. Adik-adikku juga ikut-ikutan menjerit. Ayah telah menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Tetangga satu-persatu mulai berdatangan. Akhirnya membanjiri persada perkarangan rumah. Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi.

Kini kami tiga bersaudara terpaku dan mengheningkan cipta di atas seonggokan tanah merah yang masih segar, Di sisi makam ibu, di sini pulalah kini ayah terbaring.

Pada hari ini lengkaplah sudah status kami. Yang semula anak yatim, yakh, sekarang menjadi yatim piatu. Semoga kedua pahlawan keluarga kami ini mendapat tempat yang diredhoi oleh-Nya. Amin!

Dan hari-hari selanjutnya akan kami tempuh tanpa kasih sayang ayah dan ibunda. Oh, mengharukan sekali! @@@

“Affairku di Sepanjang Sungai Siak” September 15, 2008

Posted by cafestudi061 in Cerpen.
2 comments

This is my best friend short story. He want me to publish and posting his short story to all need a read and inspiration to write a short story. Just kiddng, Happy reading. cafestudi061

Genta, Senin, 18 Juni 1979

ANGIN di pelabuhan Tanjung Rhu hari itu tidak terlalu kuat. Bolehkah dikategorikan sepoi-sepoi basah. Yang basah memang bukan anginnya, tapi badan buruh-buruh pelabuhan itu, karena terlalu capek bekerja. Membongkar muat ojol dari truk ke kapal. (ojol, yaitu gumpalan-gumpalan getah sebesar kepala yang belum digiling , Pen.)

Aku duduk memerhatikan buruh-buruh itu di haluan kapal motor Budi Laut, yang tertambat di pelabuhan itu. Yang mana, dengan kapal motor Budi Laut inilah sebentar lagi aku akan berangkat menuju Bengkalis, kota leluhurku.

Para penumpang yang lainnya satu persatu mulai berdatangan. Lama-lama ramai, dan semakin ramai saja.

Bermacam-macam  ragam manusianya. Ada yang pedagang, ada penumpang biasa, dan sebagian besar penumpangnya adalah anak-anak sekolah. Maklum musim libur.

Bau ojol yang begitu semerbak menusuk hidung, membuat dan mendorongku untuk segera menjauhi pasukan-pasukan ojol itu. Dan lagi, tas ranselku yang kuletakkan begitu saja di dalam kapal segera kuhampiri. Siapa tahu ada tangan-tangan jahil, bisa dipretelinya itu tas.

Hari semakin larut siang, kulirik jam tangan Titus tuaku sudah pukul sepuluh lewat sedikit. Saat keberangkatan telah tiba. Para penumpang yang masih mondar-mandir dipersilakan untuk bertenggek ke atas kapal. Awak kapal bersiap-siap. Tali-temali dibuka. Haluan KM Budi Laut menuju ke arah muara sungai.

Ramai sekali orang di pelabuhan tadi, tapi tidak semuanya yang bepergian. Buktinya masih banyak yang tinggal. Mereka hanya melambai lambaikan tangan saja kepada penumpang. Aah! Itu mungkin kekasih mereka yang melepas kepergian orang yang dicintai. Atau kaum kerabat mereka. Tidak seperti aku ini. Tidak ada orang yang melepas kepergianku. Memang begitulah kalau hidup sebatang kara. Jangan tidak, sebagai penawar duka, ada juga seorang teman yang melambai-lambaikan tangannya sambil memanggil-manggil namaku. ini mungkin karena sebelum berangkat tadi telah kukorbankan sebatang Gudam Garam padanya. Sebagai imbalannya, itulah lambaian tangannya. Ini kemungkinan lho.

KM Budi Laut melaju menelusuri sungai Siak, para penumpang membawa diri masing-masing. Ada yang membaca majalah, ada yang membaca koran-koran bekas pembungkus. Namun tidak sedikit pula yang hanya duduk melamun memerhatikan hutan-hutan bakau yang terhampar di sepanjang sungai. Aku terlibat dalam hal yang terakhir itu.

Di tengah asyik memerhatikan hutan-hutan bakau itulah, hadir di depanku seorang gadis Sweet seventen. Sepertinya dia ada urusan denganku,. Siapa gerangan ? Oh! aku sudah tahu latar belakang keluarganya. Dia termasuk orang top juga di Bengkalis. Anak Bea Cukai dia. Tanpa malu-malu dan harga diri dilemparkannya sebuah pertanyaan padaku;

“Eit! ke Bengkalis, ya ?”

“Ou, Rogayah! Kapal ini trayeknya, kan Pekanbaru Bengkalis, jadi ke mana lagi aku kalau bukan ke Bengkalis.” jawabku dengan sedikit variasi senyum Pepsodent.

“Kalau begitu kita satu tujuan! Oh, ya!  Di mana tahu namaku Rogayah ?”

“Masak aku tidak tahu, kamu kan termasuk orang the big five juga di Bengkalis bukan?, Jadi siapa pun yang namanya orang Bengkalis pasti mengenalmu.”

“Ah, masak iya begitu. Kamu ini ada-ada saja.”

“ini kenyataan lho, Rogayah. Sebelum percakapan kita dilanjutkan, mungkin namaku Rogayah belum mengenalnya. Maklum orang tidak top. Kenalkan, Kantan namaku. Putra Meskom asli, dan Mahasiswa tingkat III Fakultas Perikanan Universitas Riau.”

Kulihat Rogayah tambah bersemangat untuk melanjutkan omongannya denganku. Mungkin karena aku bakal menjadi Insinyur Perikanan. Oh, mata duitannya dikau Rogayah.

“Rogayah sekolahnya di mana?”

“Di SMPP Pekanbaru. Kelas II IPS.”

“Siapa teman ke Bengkalis?”

“Sendiri.” jawab Rogayah.

“Aku juga sendiri. Bagaimana kalau kita joint ventures saja. Nanti kalau kapal berhenti di Siak Sri Indrapura, Rogayah jaga barang-barang, biar aku yang turun ke darat untuk membeli makanan!” begitu tawarku padanya.

“Akur, deh.” jawab Rogayah. Rogayah gembira sekali dengan tawaranku itu. Mungkin tawaran seperti inilah yang dicari-carinya.

“Ngomong-ngomong, Rogayah ada bawa majalah tak? Kalau tak ada majalah, Koran-koran sepuluh hari yang lalu pun tak apa-apalah”

“Majalah ada, tapi majalah lokal.”

“Aku berani taruhan, Rogayah, pasti majalah Canang, ya?”

“Benar, Tan. Sememangnya Kantan tidak suka baca majalah Canang?”

“Siapa bilang tidak. Itu majalah favoritku, lho.”

“Tunggu, ya! Kuambilkan!”

Rogayah beranjak mengambilkan itu majalah.

Itulah mulanya awal perkenalanku dengan Rogayah. Memang di zaman seperti ini, bukanlah termasuk perbuatan yang luar biasa lagi bila seorang wanita yang memulai suatu trgedi atau pun legenda. Artinya bukan kejutan. Seharusnya, kan aku yang pura-pura bertanya begini;

“Halo, Neng! Ke mana? Ke Bengkalis, ya?” Tapi, yakh, begitulah, dia yang mulai, dia yang mengakhiri …. Dst.

Tak kukira Rogayah seramah itu. Dugaanku selama ini, bahwa Rogayah anak babe yang sombong, tidak mau bersahabat dengan orang-orang seperti aku, perlahan-lahan sirna. Kecuali benak ini diliputi oleh hipotesis-hipotesis; jangan-jangan aku dijadikian umpan peluru saja oleh Rogayah. Karena dia bepergian sendiri, lantas dia berbuat baik kepada siapa saja, agar dapat menolongnya di kala dalam keadaan darurat. Taruhlah sebagai pengawal pribadi. Ah! tidak mungkin Rogayah memunyai pribadi seperti itu. Tidak ada terlukis di parasnya sifat-sifat begitu.

Rogayah kembali menghampiriku.

“Ini dia, majalah Canangnya.” kata Rogayah.

“Pinjam aku ya, Rog!”

Walaupun kami baru sekarang berkenanlan secara langsung, namun rasanya seperti sahabat lama yang sudah sekian lama tidak bertemu. Kami akrap sekali. Ini mungkin karena kami sama-sama pandai menyesuaikan diri.

Rogayah duduk di sampingku. Keinginanku semula untuk melahap semua isi majalah Canang jadi buyar. Dan jadi beralih ke cerita-cerita lain yang lebih menarik dan romantis. Kami bercerita tentang apa saja. Tentang studi, tentang masa depan, dan tentang faktor apa yang menyebabkan air sungai Siak berwarna gelap, namun rasanya jauh sekian tingkat di atas air leding. Dan entah  apa lagi yang kami ceritakan. Sampai-sampai kutanyakan pada Rogayah, apakah dia sudah ada yang punya, yang dijawab dengan malu-malu kucing oleh Rogayah;

“Belum.”

“Kalau begitu, aku punya kesempatan untuk menaburkan benih-benih cintaku padamu Rogayah.” begitu bisik hatiku.

Kini dua insan berlainan jenis itu sedang asyik dengan dunianya. Mungkin mereka sedang dibuai smaradahana. Oh! alangkah indahnya pelayaran ini. Seolah-olah, KM Budi Laut ini, mulai dari haluan sampai ke buritannya, si Kantan dan Rogayah yang punya.

Waktu perlahan-lahan dan pasti berjalan terus. Tanpa terasa, hari semakin di ambang sore. Mentari berangsur ke peraduannya. Kapalmotor terus berlayar menelusuri liku-liku sungai Siak. Tiupan badai senja, menerpa rambut Rogayah. Selimut malam telah turun. Di remang-remang sinar lampu Caltex kulirik wajah Rogayah, semakin elok saja. Dalam hati aku akui, cantik sekali kau Rogayah. Besar sekali gejolak asmaraku untuk dapat memacarimu, tapi aku sangsi, apakah aku akan bertepuk sebelah tangan. Tiba-tiba ….

“Hai!” Rogayah mengusik suasanaku.

“Kantan melamun, ya?”

“Aku bukannya melamun Rogayah, tapi aku sedang memerhatikan nelayan-nelayan itu” sambil kuacungkan telunjukku ke arah nelayan-nelayan di pinggir sungai itu.

“Memangnya Kantan senang jadi nelayan, ya?”

“Senang, sih, tidak. Siapa pula manusianya yang memunyai cita-cita ingin menjadi nelayan, walaupun nelayan itu tulus dan suci”

“Habis buat apa dihiraukan itu nelayan?”

“Bagaimana aku tak akan menghiraukannya Rogayah, abahku di Meskom sana pekerjaannya menangkap ikan, kok. Sewaktu aku masih sekolah di Bengkalis, aku sering ikut abahku turun ke laut. Malah pernah kami dua hari dua malam di tengah laut, karena dibawa berputar-putar oleh angin puting beliung. Rencanaku untuk memperoleh title insinyur Perikanan nanti, isi disertasiku akan membicarakan dan akan mengupas kehidupan nelayan-nelayan itu. Soalnya, aku menguasai seluk-beluk nelayan, jadi ada penghayatan.” Rogayah terpaku mendengar aku menjual koyok.

“Kalau begitu bagus benar.”

“Aku optimis Rogayah. Siapa tahu nanti disertasiku itu mendapat perhatian dan menarik minat satradara-sutradara film untuk memfilmkannya.”

“Ah! mana mungkin itu terjadi, Kantan.”

“Mengapa tidak mungkin? Rogayah, kan tahu, film nasional kita sekarang, kan banyak diangkat dari novel-novel top.”

“Ya, disertasi kan , bukan novel.”

“Memang, tapi di situ letaknya kejutan.”

“Terserah kaulah, Kantan, aku toh, tak bisa berbuat apa. Kukira angan-anganmu terlalu tinggi.”

“Oh! Rogayah tidak tahu, pemuda Kantan ini, kan pencinta angan-angan. Pokoknya Rogayah, disertasiku itu, kalau tidak diangkat ke layar lebar, sekurang-kurangnya difilm dokumenterkan saja lumayanlah. Aku cukup bahagia dengan prestasiku itu, Rogayah tolong doakan, ya! agar tercapai segala cita-citaku.”

“Kalau begitu, okelah.” sela Rogayah.

Kami sampai di Bengkalis pukul 05.30 pagi. Sebelum berpisah menuju rumah masing-masing, sempat juga aku berpesan.

“Rogayah, kalau ada waktu senggang, besok atau lusa, jalan-jalan dong ke Meskom. Sepeda motornya Rogayah kan dua tiga.”

“Kalau di Meskom musim durian aku mau, Tan.”

“Jangan khawatir Rogayah! Kalau tidak musim durian pun, terasi tetap musim di sana ”

Rogayah nampaknya menyimpan keinginannya untuk tersenyum. Mungkin karena kata-kata terasi itu mengandung unsur-unsur humor.

“Okelah Rogayah, jangan lupa! kutunggu di Meskom ya! bye bye”

“bye!” balas Rogayah.

Seminggu libur di Bengkalis membuat hati ini resah. Mana Rogayah yang dinanti-nanti tak datang juga. Betul-betul Rogayah ini doyan durian. sayang sekarang tidak musim durian. Kalau musiman, pasti Rogayah datang. Atau mungkin juga dia sibuk membantu maminya. Sedang hari keberangkatan kembali ke Pekanbaru sudah dekat.

Sehari sebelum kembali ke Pekanbaru, kujelang Rogayah ke rumahnya di jalan Hang Tuah Bengkalis.

“Tolong damping Rogayah, ya nak Kantan!” begitu pesan mami en papi Rogayah padaku.

“Maklum, anak gadis berlayar sendiri, dan anggaplah saudara nak Kantan sendiri.”

Oh! inggin sekali kukatakan kepada papi en maminya Rogayah, bahwa pemuda Kantan yang berdiri di depan mereka ini, akan bersedia menjadi pahlawan putrinya. Jika mereka mau menjodohkan aku dengan Rogayah, akan kuterima dengan senang hati, tanpa mempertimbangkannya lebih jauh. Habis, wajah putrinya yang bernama Rogayah itu kontemporer sekali, dan tipe wanita idaman masa kini.

Hari keberangkatan itupun tiba. Entah apa nama kapalmotornya kali ini, aku kurang begitu peduli. Yang kupedulikan hanya Rogayah seorang.

Rogayah diantar oleh seluruh keluarganya. Kapal berangsur angsur meninggalkan pulau Bengkalis, yang semakin lama semakin kecil, kemudian hilang, seakan-akan tenggelam.

Kapal kembali menelusuri hulu sungai. Kisah-kisah romantis yang pernah kami rasakan minggu lalu kembali terulang. Seolah-olah kapal itu mulai dari haluan sampai ke buritannya kembali kami yang punya.

Perjalanan dari Bengkalis ke Pekanbaru yang memakan waktu kurang lebih sehari semalam, yang dulu terasa begitu lama dan membosankan, kini terasa sebentar saja. Mungkin karena Rogayah menyertai perjalananku. Kalau begini, sepuluh hari sepuluh malam pun dalam perjalanan, aku sanggup, karena ada teman penghibur.

Kapal yang kami tumpang mendarat di Pekanbaru menjelang fajar. Para penumpang memutuskan untuk turun ke darat setelah hari benar-benar siang.

Sang fajar berlalu, diiringi intipan sang surya di ufuk timur. Para penumpang kabur satu persatu. Aku memegang tangan Rogayah untuk sama-sama turun ke darat.

Setelah kami tegak di darat dan membereskan semua peralatan, tiba-tiba…..

“Hey Rog!” seorang pemuda ngganteng mengendarai skuter Bajaj menghampiri kami. Aku dan Rogayah saling berpandangan. Rasa cemburu menyelinap di seluruh tubuhku.

“Maaf, ya Kantan! Dia teman sekelasku.”

Rogayah segera bertenggek ke jok belakang skuter itu.

“Da … dag, Tan!”

“Huh, sialan kau Rogayah, tepat dugaanku. Benar-benar kau jadikan umpan pelurumu aku. Pandai kau bersandiwara. Pertolonganku selama dalam perjalanan itu kau lupakan begitu saja” begitu bisik hatiku.

Aku mengumpat habis-habisan, Rogayah berlalu, bersama hilangnya deru skuter itu.

Oh, nasib-nasib! Untunglah aku belum begitu terlanjur mencintainya. Dengan langkah gontai, lesu dan tak bersemangat, aku berjalan ke simpang Tanjung Datuk, untuk mencari oplet pulang ke rumah. Kalau begini rasanya lemah badan, satu peti pun dimakan Hemaviton tak bakalan sembuh.

Agaknya memang, itulah nasibku, affairku bersama Rogayah dalam perkiraan abadi sampai akhir nanti, ternyata kandas sebelum pengorbananku terlalu besar. Syukurlah!***