jump to navigation

Kuasa UN Juni 16, 2009

Posted by cafestudi061 in Artikel Remaja.
add a comment

UN bukan singkatan dari United Nation, tapi UN merupakan singkatan dari Ujian Nasional, dimana kemarin hasil UN untuk tingkat SMA sudah keluar. Ada banyak yang bersorak riang, tapi banyak yang meraung-raung bahkan sampai jatuh pingsang.
Sungguh dahsyat kuasamu UN (Ujian Nasional), sekolah dan para guru yang sudah bertungkus lumus tiga tahun mendidik, mengajar anak didik mereka yang adalah siswa SMA ternyata hanya dapat menonton dan gigit jari doang. Adakah pengujian yang dilakukan selama 3 hari atau 4 hari dapat mengabaikan dan mengalfakan semua usaha guru bagi keberhasilan mereka untuk masuk ke dunia pendidikan yang lebih tinggi??? UN memang dapat membuat hancur masa depan sebuah sekolah terutama siswa yang tidak lulus UN. Dan UN juga dapat meluluh lantakkan semua usaha para pendidik yang notabene dikenal guru yang merupakan ujung tombak sekolah tak berkutik sedikitpun karena anak-anak didiknya atau siswa mereka gagal alias tidak lulus UJIAN NASIONAL.
Ini dapat saya artikan bahwa kekuasaan UN lebih besar dari kuasa Tuhan. Dahsyat,….sangat dahsyat sekali. Apakah para pendidik tidak dapat menggugat Menteri DIKNAS. Ada banyak sekolah yang harus ditutup karena seluruh siswa yang mengikuti UN tidak LULUS. Tak seorangpun yang LULUS, hebat sekali tuh Ujian Nasional. Eeeh, benar-benar hebat kuasa UN ini, siapa yang mau diam terimalah hasil apa adanya. Tetapi siapa yang mau bergerak dan bertindak menentang penyelenggarakan UN??? Siap-siaplah siapa yang harus dihadapinya!!!
Mari, kita tanyakan sudah fairkah penyelenggaraan UN, Sudah benarkah pengawas dalam melakukan tanggungjawabnya pada setiap siswa yang menghadapi UN ini ??? Apakah benar data yang dikirim ke Badan Standar Ujian Nasional itu valid??? Atau tidakkah perlu dilakukan pembanding hasil itu dengan hasil rapor siswa dengan rapor semester sebelumnya???
Ini sungguh suatu ironi dalam dunia pendidikan kita. Sekian besar dana yang dialokasikan untuk menyelenggarakan Ujian Nasional, tetapi hasilnya penuh dengan rekayasa belaka.
Siapa yang berkuasa untuk menentukan masa depan para siswa SMA dia adalah UN. Karena UN menentukan hitam putih masa depan para siswa kelas XII atau kelas 3 SMA dan kelas IX atau kelas 3 SMP untuk dapat meneruskan masa depan yang lebih tinggi dalam jalur pendidikan formal. Apakah dengan lulus UN hidup siswa SMP dan SMA ini akan cerah???
Berhasil atau tidaknya seseorang memang perlu jalur pendidikan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah, tetapi tidak selalu orang itu hanya dapat berhasil jika mereka telah Lulus dari SMA.
Silahkan raihlah masa depan anda dengan penuh rasa tanggungjawab yang tinggi bahwa bangsa ini sangat membutuhkan semangat juang anda agar kita tidak diremehkan oleh bangsa lain. Selamat dan sukses bagi anda yang telah Lulus UN, tetapi yang belum lulus tempuhlah jalur paket C yang telah disediakan untuk anda.
Semoga sukses.

Tahun baru, terakhirku… Desember 23, 2008

Posted by cafestudi061 in Artikel Remaja.
add a comment

Oleh. Stephanie Angelica

Julio menangis, kak Nina juga. Mama menangis di pelukan papa. Aku…entahlah. Aku tidak tahu kenapa aku tidak menangis. Padahal, hatiku terasa begitu sakit, remuk, dan hancur berkeping-keping. Lalu kenapa aku tidak bisa menangisi kepergian Luci, saudara kembarku? Kenapa aku ini. Luci yang selalu ceria, Luci yang selalu tertawa, Luci yang pintar, Luci yang kuat, Luci yang selalu menghiburku, kini sudah tidak ada lagi. Aku ingat, dulu Luci selalu berkata kepadaku, “ Jangan menangisi yang sudah nggak ada. Toh mereka nggak bakalan balik lagi…”. Kalimat yang kudengar ketika aku menangisi anak anjingku, mati.
Kak Nina memelukku, seolah-olah berkata, “ kamu Luci. Luci dalam tubuh Sari!”. Julio menatapku dengan mata sembab. Aku membalas pelukan kak Nina. Dan air mataku mulai mengalir. Kembaranku…Luci tidak akan pernah kembali lagi.
Lima minggu sejak kepergian Luci, kami sekeluarga liburan ke Bali. Aku tahu keluargaku sudah merelakan kepergian Luci. Tapi bagaimana denganku? Aku yang ada hubungan batin, aku yang mempunyai tubuh dan wajah yang sama dengan Luci. Mungkin karena itu, aku selalu bermimpi, Luci memanggil-manggilku dan mengajakku ke dunianya. Dunia di mana kami tidak merasakan perbedaan, dunia tempat kami tak merasakan sakit, dunia yang tidak akan memisahkan aku dan Luci. Tapi kenapa? Kenapa saat tanganku hampir meraih tangan Luci, wajah mama, papa, kak Nina dan Julio, muncul? Mereka tampak sangat sedih. Bahkan menangis. Aku mendesah.
“ Kenapa, dek? Sakit ya?” tanya kak Nina yang duduk di sampingku. Aku menggelengkan kepalaku.
“ Cerita aja nak, kami siap mendengarkan…” ujar papa, sambil memperhatikan jalan. Julio berhenti memainkan game boy-nya. Papa langsung menghentikan mobil tepat di parkiran sebuah mini market. Mama dan papa melihat ke belakang. Kak Nina dan Julio menatapku tajam. Mama dan papa saling tukar pandang. “ Kalau gitu, mama dan papa cari makanan dulu. Baru kamu bercerita…” ujar mama. Aku mengangguk. Julio minta ikut sedangkan kak Nina menemaniku. Begitu mama, papa dan Julio memasuki mini market, kak Nina langsung mengintrogasiku. “ Cerita aja, dek. Atau nggak…kakak gelitikin!” ancam kak Nina, mengambil ancang-ancang untuk menggelitikku. Baiklah, aku menyerah. Aku menceritakan seluruh mimpiku. Tidak kurang dan juga tidak lebih. Kak Nina langsung tercengang begitu ceritaku selesai.
“ Kak…kakak nggak pa-pa?” tanyaku, mengguncang-guncang tubuh kak Nina. Kak Nina langsung tersadarkan. Dia menelan air ludahnya. Lalu memegang pundakku dengan kedua tangannya. “ Apa pun yang terjadi, kamu jangan sampai menyentuh tangan Luci…! Ngerti!”
“ Tapi kak…aku…”
“ Nggak ada tapi-tapian! Pokoknya nggak boleh!” kak Nina langsung mendengus. Entah kesal atau bagaimana, aku kurang tahu. Spontan aku memeluk kak Nina, “ Aku kangen sama Luci kak…mungkin saat ini aku nggak menyentuh tangannya. Tapi kalau dia terus mendatangiku, gimana? Aku pasti nggak bisa menolak ajakannya….” Aku mulai menangis. Kak Nina mengelus-elus kepalaku. Desahan nafasnya terdengar jelas di telingaku. Kak Nina mulai menangis.
“ Cukup kami kehilangan Luci, kami nggak mau kehilangan kamu sari. Cukup hanya Luci saja. Apa kamu mengerti…?” tanya kak Nina. Aku melepaskan pelukannya. Dan menghapus air mata yang mengalir ke pipinya. “ Aku…aku sayang sama mama, papa, kakak, dan Julio. Tapi aku nggak bisa membiarkan Luci sendirian, kak. Dia butuh aku…” jelasku.
Kak Nina menggelengkan kepalanya, lalu memegang kedua pipiku. “ Dengar kakak baik-baik, Ri. Kamu nggak usah ikuti kemauan Luci, dia pasti senang tinggal di sana. Nanti biar kita menyusulnya bersama-sama. Dengan begitu kita bisa berkumpul lagi…” ujar kak Nina
“ Astaga! Kakak tuh bego banget ya! Kalau kita perginya bareng-bareng, entar yang ada terlalu ramai. Kalau aku aja yang pergi, apa masalahnya sih, kak?” aku langsung turun dari mobil. Memandangi keindahan pantai dari tempat aku berdiri. “ Sari!!!!!!!!!!!!!” mama dan papa memanggilku, sedangkan Julio asyik memakan es krimnya. Papa berlari mendahului mama. Menggendongku. “ Pa! lepasin aku!” aku meronta-ronta. Khan malu, sudah dua belas tahun tapi masih digendong orang tua.
“ Kamu ngapain diri di pinggir jalan?!” tanya papa, sedikit emosi. Entah kenapa, aku merasa kepalaku kosong. Dan aku mau berbagi tubuh dengan Luci. “ Emangnya, nggak boleh pa? Apa papa takut, kalau Sari menyusulku?” mulutku yang bergerak, tapi Luci yang mengatakannya. Papa menatapku, lalu menurunkanku tepat di samping mobil. Mama menggendong Julio sedangkan kak Nina berdiri di samping mama. Mereka semua memperhatikanku tepatnya aku dan Luci.
“ Sari…kamu barusan ngomong apa?” tanya papa. Aku menatap mereka satu per satu, “ emangnya aku barusan ngomong apa?” tanyaku, balik. Aku menelan air ludahku.
“ Aku ingin Sari ikut bersamaku, bolehkan, papi?” kali ini Luci yang angkat bicara. Papa langsung menatap mama. “ Luci…kamukah itu?” tanya mama. Aku tersenyum atau tepatnya Luci yang tersenyum.
“ Bener! Ini aku, Luci dalam tubuh Sari. Mami…Papi…Lio…dan kak Ina. Bukankah aku yang memanggil kalian. Aku dari dulu selalu mengalah untuk Sari. Hanya karena aku yang lahir duluan…aku juga harus berbagi tempat dengan kak Ina. Aku harus membagi makanan untuk Lio. Sekarang apa aku salah membawa Sari, pergi?” tanya Luci, dengan mata berkaca-kaca. Mama dan papa menundukan kepalanya.
“ Kak…Luci…” Lio menjatuhkan es krimnya. Luci tersenyum. Aku…aku semakin lemah, sekarang tubuhku dikuasai oleh Luci. “ Tapi Luci, apa kamu tahu kalau sari juga selalu mengalah untuk kamu? Ketika kamu dibelikan mainan atau tas baru, apa kamu pernah melihat Sari meminta barang yang sama pada mama dan papa? Ketika Sari dibelikan sepatu baru dan kamu tidak. Kamu meraung-raung pengen dibelikan sepatu yang sama. Akhirnya, Sari memberikan sepatunya pada kamu. Apa kamu masih merasa kamu yang paling baik? Ayo jawab!” kak Nina terlihat emosi. Papa mengelus-elus punggung kak Nina.
Luci menundukan kepalanya. “ Ma…pa…aku…aku minta maaf…” kali ini giliranku yang bicara. “ Sebenarnya, aku…aku entahlah, entah bagaimana pun aku mau menemani Luci. Izinkan aku…lagi pula, kanker yang kuderita sudah menyebar….”.
Mama langsung memelukku, “ Nggak! Nggak boleh! Lagi pula sejak kapan kamu punya kanker?!”
Aku tersenyum, “ Waktu itu ada dokter kesehatan yang datang ke sekolah untuk memeriksa kesehatan kami. Mungkin…hanya Luci yang mengatakan kalau dia menderita kanker. Sebenarnya, aku juga. Aku berusaha menghilangkan jejak. Menghapus darah yang keluar dari hidungku, merobek kertas keterangan dokter, dan sebagainya…” jelasku. Papa, kak Nina dan Julio mendekat lalu memelukku.
“ Baiklah, aku harus membawa Sari. Mami, Papi, kak Ina, dan Lio…maafkan aku ya…aku tadi sudah berkata kasar. Maafkan juga aku datang dan akhirnya membawa pergi Sari…” ujar Luci. Mama, papa, kak Nina dan Julio mengangguk sambil menangis. “ Selamat tahun baru! Dan…selamat berpisah…” ujarku dan Luci. Kak Nina menggengam tanganku, “ Selamat ulang tahun…Luci…Sari…” katanya. Aku dan Luci tersentak. Selama ini…kak Nina selalu lupa ulang tahun kami, sekarang…rasanya senang sekali. Luci tersenyum padaku, aku menganggukan kepalaku. Tepat dihari itu, aku pergi ke dunia Luci. Luci menggenggam tanganku dengan erat. Sama seperti yang ia lakukan disaat aku kesepian dulu.
~*~

Cafestudi061

Air, Angin dan Api September 23, 2008

Posted by cafestudi061 in Artikel Remaja.
add a comment

 

 

 

This is my first artical was publish in Riau Mandiri, on July,2004. I hope this arctical make inspiring to my student.

Happy, all day.

 

Oleh : Sopar Maruli

 

            Air, angin dan api merupakan  tiga unsur yang selalu ada dan sering kita gunakan. Ketiga zat tersebut memiliki susunan unsur-unsur kimia yang tidak jauh berbeda. Setiap makhluk di dunia ini sangat bergantung dan sangat membutuhkan tiga macam zat tersebut secara seimbang.

             Seperti air yang memiliki susunan molekul hidrogen dan oksigen, dan biasa ditulis dengan H2O, di mana unsur hidrogen maupun oksigen ini sangat diperlukan oleh kita untuk bernafas dalam setiap aktivitas. Begitu juga angin yang sering disebut dengan udara, merupakan bagian yang terbesar dalam atmosfir bumi. Udara sangat dibutuhkan di dalam aktivitas baik mahluk hidup, maupun benda mati, seperti mesin. Karena proses pembakaran yang terjadi di ruang mesin disebabkan adanya udara, maka terbakarlah bahan bakar yang diinjeksikan sehingga pengapian terjadi. Dengan demikian pengapian  yang berkelanjutan tersebut menghasilkan tenaga. Tenaga ini bermanfaat untuk segala kegiatan dan aktivitas hidup.

             Udara di permukaan bumi ini mengandung banyak unsur, terbesar nitrogen, kemudian oksigen, hidrogen , carbon, argon, neon, xenon, ozon, dan lain-lain. Kebutuhan yang diperlukan oleh kita dari angin yang kita sebut dengan udara ini adalah oksigen dan hidrogen. Dengan terpeliharanya lingkungan yang sehat dan bersih, maka udara yang kita hirup terasa segar seperti di daerah penggunungan. Untuk itu kita perlu melindungi ekositem di lingkungan kita masing-masing. Dengan peredaraan udara dan hembusan angin yang segar akan menciptakan pikiran-pikiran yang kreatif dan produktif.

              Kalau kita lihat kebiasaan yang sangat buruk dari kita selama ini, yaitu dengan membuang sampah dan membakar sampah di sembarang tepat, menjadikan udara di sekitar kita tidak sehat lagi, yang kita hirup sudah banyak mengandung unsur karbon, di mana karbon tersebut mengikat oksigen. Menjadi cukup berbahaya dan mengganggu saluran pernafasan. Yang lainnya adalah dalam mengatasi sampah-sampah yang cukup banyak. Kita masih belum sungguh-sungguh untuk memelihara lingkungan kita sendiri. Sampah yang berasal dari rumah tangga tidak teratasi. Mari kita mulai dari lingkungan terdekat, yaitu rumah kita sendiri.       

               Sampah sudah menjadikan salah satu penyebab udara yang tidak segar. Angin yang meniup bau yang tidak sedap dari proses pembusukkan  bermacam-macam sampah tersebut bisa saja membawa wabah penyakit. Akhirnya akan menimbulkan penyakit bahkan penyakit menular yang dapat menjadikan masalah kesehatan di rumah, di lingkungan daerah kita bisa sampai ketingkat yang lebih besar dan luas.

               Yang tidak kalah penting lagi adalah api. Api merupakan unsur atau suatu bentuk yang sangat abadi, sebelum dunia ini ada api sudah tercipta. Kita tidak tahu percis dari mana datangnya dan apa saja unsur yang ada didalam api. Tetapi yang cukup jelas bagi kita yaitu api tidak akan pernah dapat menyala bila disekitarnya tidak ada udara (angin) yang cukup. Sejak dari bangku Sekolah Dasar pengetahuan ini sudah kita dapatkan. Seperti yang diperagakan guru kita pada pelajaran IPA, di mana  lilin dinyalakan, kemudian ditutup dengan sebuah gelas, maka tidak lama kemudian lilin itu mati (padam). Mengapa ? Ini jelas kerena api dapat menyala atau hidup jika ada udara. Dalam pelajaran bahasa Indonesia  juga kita diajarkan peribahasa. Yaitu peribahasa yang berbicara tentang api. Peribahasa itu mengatakan “Kecil-kecil menjadi teman sudah besar menjadi lawan”. Ini dapat diartikan bahwa api itu sahabat ketika ia dapat dimanfaatkan, tetapi api akan menjadi sangat berbahaya dan lawan, jika sudah tidak terkendali.

                Sangat banyak kejadian yang dapat kita baca dari zaman dahulu sampai saat ini yang berhubungan dengan api. Ketika musim kemarau tiba pembakaran terjadi di mana-mana. Api melalap habis dengan cepatnya ilalang dan pohon-pohon yang sudah puluhan bahkan ratusan tahun umurnya. Entah kapan kita dapat melihat hutan yang dahulu tumbuh indah, hijau dan rindang kalau kebiasaan ini terus terulang dan terulang lagi. Akibat lainnya udara berkabut dan menyesakkan dada. Kita stres, mengomel, mengumpat. Entah kepada siapa kita mengadu. Pemerintah pusat maupun pemerintah setempat, para ahli dan badan meteorologi sudah sering membicarakan hal ini, tetapi masih saja masyarakat kita tidak mau peduli. Tetap saja kebiasaan buruk dengan membakar sampah dan  membakar ilalang bahkan hutan tejadi setiap hari,setiap minggu, bulan dan tahun. Sampai akhirnya menjadi seperti musim saja, karena setiap tahun selalu berkabut,dan berasap.

                 Mari kita tinggalkan kebiasaan membuang sampah dan membakar sampah sembarangan. Kita sebaiknya mendaur ulang semua  sampah, baik yang organik maupun anorganik. Kami juga menghimbau kepada para pengusaha dan pengembang,  pertanian, peternakan dan pengembang pemukiman, maupun pengusaha industri-industri, pemegang HPH untuk menghentikan kebiasaan membakar sampah dan membuang sampah yang tidak pada tempatnya dan berakibat sangat fatal. Sebaiknya sampah tersebut diolah dan didaur ulang, atau diproses melalui kilang-kilang pengolahan sampah. Kita coba pikirkan bagaimana untuk mengolah dan mendaur ulang setiap sampah dan unsur-unsur yang dapat terbakar menjadi sesuatu yang bermanfaat. Sampah bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat jika diolah kembali. Memang ini membutuhkan pemikiran, biaya dan teknologi yang tinggi. Mari kita belajar dari negara yang sudah berhasil mengolah dan mendaur ulang sampah, seperti negara Jerman bersatu, Jepang dan Amerika. Jadi mari kita bersama-sama menyatukan visi kita untuk kebersihan lingkungan di tempat kita masing-masing, mulai dari rumah, lingkungan kelurahan , perkotaan sampai ke setiap provinsi, negara dan  antarbenua.

                  Dengan terpelihara dan terciptanya lingkungan yang bersih dan sehat, maka kehidupan kita mudah-mudahan bertambah cerah dan ceria.

Kita songsong tahun yang akan kita lalui ini dengan tekat yang bulat, bahwa air, angin dan api merupakan bagian dari kehidupan kita. Keseimbangan antara ketiga unsur ini akan menjadikan suasana yang lebih bergairah dan tercipta keharmonisan yang abadi. Terciptalah kehidupan dan peradaban yang semula jadi. Kita sehat, kita segar, kita bahagia, maka panjang umurpun menjadi sesuatu yang tidak jauh dari kita masing-masing.

                  Tak ada yang mustahil dimuka bumi ini, bila kita mengembalikan semuanya sesuai dengan kehendak-Nya. Sebab pada mulanya Allah melihat segala ciptaannya adalah baik. Mari kita kembalikan semua kepada standar penciptaan alam semesta.

                   Akhirnya dengan kerjasama yang baik antar penghuni tiap lingkungan mulai dari rumah, sampai kemerata tempat aktivitas yang kita lakukan akan  menjadi lebih hidup. Lingkungan yang sehat, bersih dan hijau akan menciptakan pemandangan nyaman, tentram  dan bahagia.

                   Mudah-mudahan air, angin dan api  menjadi bagian yang sangat bersahabat, sehingga kita semua terpanggil dan bertanggungjawab penuh serta bahu membahu untuk menjaga air, angin dan api tidak dirusak oleh siapapun.

 

 

Cafestudi061