jump to navigation

POLITIK BAHASA NASIONAL Januari 30, 2009

Posted by cafestudi061 in Bahasa Indonesia.
trackback

2.1 Pengantar
Seminar Bahasa Nasional dalam siding-sidangnya pada tanggal 25 – 28 Februari 1975 di Jakarta setelah mempertimbangkan:
1. Pidato Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan;
2. Pidato Pengarahan Seminar oleh Kepala Pusat Pembinaan dan Pemngembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan KEbudayaan;
dan setelah membahas kerta-kertas kerja:
1. “Fungsi dan kKedudukan Bahasa Indonesia” oleh Amran Hakim;
2. “Ciri-ciri Bahasa Indonesia Baku” oleh Anton Moeliono;
3. “Tata Cara Pembakuan dan Pengembangan Bahasa Indonesia” oleh Harimurti kridalaksana;
4. “Pengajaran Bahasa Indonesia” oleh I Gusti Ngurah Oka;
5. “Fungsi dan Kedudukan Bahasa Daerah” oleh S. Wojowasito;
6. “Pengembangan Bahasa Daerah” oleh Ajipo Rosidi;
7. “Pengajaran Bahasa Daerah” oleh Tarwotjo;
8. “inventarisasi Bahas Daerah” oleh S. Effendi;
9. “Fungsi dan Kedudukan Bahasa Asing” oleh Giri Kartono; dan
10. “Pengajaran Bahasa Asing” oleh Retmono;
Mengambil kesimpulan sebagai berikut :
2.2 Pengertian Dasar
1. Kebijaksanaan Nasional
Politik bahasa nasional adalah kebijaksanaan nasional yang berisi perencanaan, pengarahan dan ketentuan-ketentuan yang dapat dipakai sebagai dasar pengolahan keseluruhan masalah kebahasaan. Masalah kebahasaan di Indonesia merupakan jaringan msalah yang dijalin oleh;
1) Masalah bahasa nasional
2) Masalah bahasa daerah, dan
3) Masalah pemakaian dan pemanfaatan bahasa-bahasa asing tertentu di Indonesia.
Pengolahan keseluruhan masalah bahasa ini memerlukan adanya satu kebijaksanaan nasional
yang dirumuskan sedemikian rupa sehingga pengolahan masalah bahasa ini benar-benar berencana, terarah, dan menyeluruh.

2. Bahasa Nasional
3. Bahasa Daerah
4. Bahasa asing

2.3 Kedudukan dan Fungsi
Salah satu masalah kebahasaan yang perumusan dan dasar penggarapannya perlu dicakup kebijaksaan nasional di bidang kekbahasaan adalah fungsi dan kedudukan bahasa Indonesia.
Fungsi bahasa adalah nilai pemakaian bahasa yang dirumuskan sebagai tugas pemakaian bahasa itu dalam kedudukan yang diberikan kepadanya.
Kedudukan bahasa adalah status relative bahasa sebagai system lambing nilai budaya, yang dirumuskan atas dasar nilai social yang dihubungkan dengan bahasa yang bersangkutan.
1. Bahas Indonesia
*Kedudukan
Salah satu kedudukan bahasa Indonesia adalah sebagai bahasa nasional. Kedudukan ini dimiliki
oleh bahasa Indonesia sejak dicetuskannya Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, dan dimungkinkan oleh kenyataan bahwa bahasa Melayu, yang mendasari bahasa Indonesia itu, telah dipakai sebagai lingua franca selama berabad-abad sebelum seluruh kawasan tanah air.
Selain berkedudukan sebgaai bahasa nasional, bahasa Indonesia juga berkedudukan yang tertera di dalam Undang-Undang Dasar 1945, Bab XV, Pasal 36.

*Fungsi
Di dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia berfungsi sebagai;
1) Lambang kebangsaan nasinal
2) Lambang identitas nasional
3) Alat pemersatu berbagai-bagai masyarakat yang berbea-beda latar belakang social budaya dan bahasanya
4) Alat perhubungan antarbudaya antardaerah.

Di dalam kedudukan sebagai bahasa Negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai:
1) Bahasa resmi kenegaraan
2) Bahasa pengantar di dalam perhubungan pada tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintahan
3) Bahasa resmi di dalam pemngembangan; kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta teknologi modern.

2. Bahasa Daerah
*Kedudukan
Di dalam hubungannya dengan kedudukan bahasa Indonesia, bahasa-bahasa seperti Bali, Batak,
Bugis, Jawa, Makasar, Madura, dan Sunda, yang terdapat di wilayah Republik Indonesia sebaga bahasa daerah. Kedudukan ini berdasarkan kenyataan bahasa daerah itu adalah salah satu unsure kebudayaan nasional yang dilindungi oleh Negara sesuai dengan fungsi penjelasan pasal 36, Bab XV, Undang-Undang Dasar 1945.
*Fungsi
Di dalam kedudukan sebagai bahasa daerah, bahasa-bahasa seperti Bali, Batak, Bugis, Jawa, Makasar, dan Sunda berfungsi sebagai:
1) Lambang kebanggaan daerah,
2) Lambang indentitas daerah, dan
3) Alat perhubungan di dalam keluarga dan masyarakat daerah.

Di dalam hubungannya dengan fungsi bahasa Indonesia, bahasa daerah berfungsi sebagai:
1) Pendukng bahasa nasional
2) Bahasa pengantar di sekolah, dan
3) Alat pengembangan serta pendukung kebudayaan daerah.

3. Bahasa asing
*Kedudukan
Bahasa-Bahasa seperti Inggris, Prancis, Jerman, Belanda, dan bahasa lainnya, kecuali bahasa Indonesia dan bahasa daerah serta bahasa Melayu, berkedudukan sebagai bahasa asing.Kedudukan ini berdasarkan aas kenyataan bahwa bahasa asing tertentu itu diajarkan di lembaga pendidikan pada tingkat tertentu, dan di dalam keudukan demikian, bahasa-bahasa asing itu tdak bersaing dengan bahsa Indonesia baik sebagai bahasa nasional maupun sebagai bahasa Negara, serta dengan bahasa-bahasa daerah baik sebagai lambing bilai social budaya maupun sebagai alat perhubungan masyarakat daerah.

*Fungsi
Di dalam keudukan sebagai bahasa asing, bahasa-bahasa seperti Inggris, Prancis, dan Jerman berfungsi sebagai;
1) Alat perhubungan antarbangsa,
2) Alat pembantu pengemabngan bahasa Indonesia menjadi bahasa modern, dan
3) Alat pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi modern untuk pembangunan nasional.

2.4 Pembinaan dan Pengembangan
Yang dimaksud dengan pembinaan dan pengembangan dalam hubungannya dengan masalah kebahasaan di Indonesia adalah usaha-usaha dan kegiatan-kegiatan yang ditujukan untuk memelihara dan mengembangkan bahasa Indonesia, bahasa daerah, dan pengajaran bahasa asing supaya dapat memenuhi fungsi dan kedudukannya.
Pembinaan dan pengembanganm tidak hanya masalah bahasa belaka, juga masalah kesusasteraan karena kesusasteraan merupakan faktor penunjang perkembangan bahasa dan kebudayaan yang bersangkutan.

1. Bahasa Indonesia
Mengingat kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia maka pembinaan dan pengembangan
bahasa Indonesia adalah mutlak di dalam Negara republic Indonesia. Untuk itu harus dilakukan usaha-usaha pembakuan sebagai berikut:
1) Usaha pembakuan bahasa bertujuan agar tercapai pemakaian bahasa yang cermat, cepat, dan efisien dalam komunikasi’ dalam hubungan itu perlu ditetapkan kaidah-kaidah yang berupa aturan dan pegangan yang tepat di bidang ejaan, kosa kata, tata bahasa, dan peristilahan.
2) Dalam usaha pembakuan bahasa Indonesia perlu didahulukan bahasa tulis karena corak yanglebih tepat dan batas-batas bidang-bidangnya; selin itu diperlukan pula pembakuan lafal bahasa Indonesia sebagai pegangan bagi para guru, penyiar televise dan radio, serta masyarakat umum.
3) Pembakuan bahasa Indonesia perlu dilaksanakan dengan mengesahkan:
(1) Kodifikasi menurut situasi ragam dan gaya bahasa
(2) Kodifikasi menurut struktur bahasa sebagai system komunikasi yang menghasilkan tata bahasa dan kosa kata serta peristilahan yang baku
(3) Tersedianya saran pembakuan seperti kamus, ejaan, kamus umum, buku tata bahasa, pedoman umum ejaan, pedoman pembentukan istilah, dan pedoman gaya tukis menulis.
(4) Kerja sama dengan para ahli bahasa guru, wartawan, penyiar radio dan televise, sastrawan, cendikiawan, lembaga-lembaga pendidikan, badan pemerintahan dan swasta, serta masyarakat umum.

2. Bahasa Daerah
Bahasa daerah perlu dipelihara dan dikembangkan. Semua pihak baik pemerintah maupun swasta serta semua pihak melakukan usaha-usaha pembinaan dan pengembangan bahasa daerah meliputi kegiatan-kegiatan:
1) Inventarisasi
Kegiatan inventarisasi bahasa daerah dalam segala aspeknya, termasuk pengajarannya, perlu untuk penelitian, perencanaan, pembinaan dan pengembangan bahasa daerah. Kegiatan ini harus dilaksanakan berdasarkan skala prioritas. Kegiatan inventarisasi akan berjalan baik dan lancar jika:
(1) Dilaksanakan melalui kerja sama antara Pusat Pembinaan atau Pengembangan Bahasa dengan lembaga-lembaga, bdan-badan atau perseorangan baik pusat maupun di daerah, dan
(2) Tersedia tenaga-tenaga yang cukup, cakap dan terlatih dalam bidang penelitian bahasa.
2) Peningkatan mutu pemakaian
(1) Dalam rangka mempercepat pembangunan yang merata di seluruh pelosok tanah air, bahasa daerah merrupakan alat komunikasi (lisan) yang praktis di daerah pedesaan. Sehubungan dengan itu maka perlu disusun suatu program penataran di bidang bahasa daerah bagi :
1. Para pejabat yang bertugas memberikan penerangan ke pedesaan.
2. Para wartawan yang akan berkeimpung dalam pers daerah.
(2) Dalam rangka usaha memelihara warisankebudayaan daerah dan usaha membina serta mengembangkan kebudayaan nasional maka bentuk-bentuk kebudayaan yang ditulis dalam bahasa daerah versi baru atau dalam bentuk saduran atau terjemahan ke dalam bahasa Indonesia untuk diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas.
(3) Dalam rangka usaha mendorong dan merngsang penulisan dan penerbitan berbahasa daerah, demi mengakrabkan warisan-warisan kebudayaan yang ditulis dalam bahasa daerah pemerintah perlu :
1. Melalui Proyek Impres Pendidikan dan Proyek Pelita Perpustakaan, memasukkan buku-buku bahasa daerah ke dalam program pembelian buku pengisi perpustakaan, dan
2. Menyediakan hadiah atau anugerah kepada pengarang yang tulisan dalam bahasa daerah, di samping para pengarang yang menulis dalam bahasa Indaonesia.

2.5 Bahasa Pengantar
Secara luas bahasa pengantar adalah bahasa yang dipakai secara resmi untuk mengadakan komunikasi dengan sejumlah orang yang terhimpun dan terikat dalam suatu situasi lingkungan yang formal, seperti rapat umum, rapat kerja, symposium, dan sebagainya.
Dalam pengertian sempit bahasa pengantar adalah bahasa resmi yang dipergunakan oleh guru dalam menyampaikan pelajaran kepada murid di lembaga-lembaga pendidikan.
Dalam pengunaan ketiga bahasa yang dirumuskan di atas (bahasa Indonesia, bahasa daerah, bahasa asing) sebagai bahasa pengantar akan dibatasi pada pengertian sempit itu.
1. Bahasa Indonesia
Sebagai bahasa nasional dan bahasa Negara, bahasa Indonesia dipakai sebagai bahasa pengantar di semua jenis dan tingkat lembaga pendidikan di seluruh wilayah Republik Indonesia, kecuali di daerah-daerah tertentu.
2. Bahasa Daerah
Sementara menunggu hasil penelitian jangka panjang mungkin kerugian dan keuntungan yang dapat diambil dari pemakaian bahasa Indonesia atau bahasa daerah sebagai satu-satunya bahasa pengantar, bahasa daerah dapat dipakai sebagai bahasa pengantar mulai dari kelas satu sampai dengan kelas tiga sekolah dasar di daerah-daerah tertentu, dengan catatan bahwa bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran diajarkan mulai kelas satu sekolah dasar.
3. Bahasa Asing
1) Bahasa Asing dapat dipergunakan sebagai bahasa pengantar dalam menyajikan mata pelajaran bahasa asing yang bersangktan.
2) Bahasa Asing dipergunakan sebagai bahasa pengantar diperguruan tinggipada jurusan bahasa asing tersebut.
3) Bahasa asing terutama bahasa Inggris dapat dipergunakan sebagai bahasa pengantar di perguruan tinggi oelh tenaga pengajar atau ahli asing yang tidak menguasai pemakaian bahasa Indonesia.

About these ads

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: